Olahraga, Perkuat Hubungan Indonesia – Jepang

Kehadiran tenaga ahli muda dari Jepang dinilai membantu peningkatan kualitas para atlet muda.

Selasa, 25 Okt 2016 11:12 WIB

Presiden Joko Widodo melakukan pertemuan bilateral dengan Perdana Menteri Jepang Shinzo Abe (kiri) disela acara Konferensi Tingkat Tinggi ke-27 ASEAN, Minggu (22/11). Foto: Antara

KBR, Jakarta- Banyak cara membina hubungan antar negara. Salah satunya melalui medium olahraga. Olahraga merupakan sarana diplomasi yang memiliki banyak kelebihan. Banyak negara membina hubungan dengan negara lain dengan menggelar pertandingan olahraga persahabatan. Selain menyehatkan, cara ini efektif karena menyenangkan.

Hal ini disadari Pemerintah Jepang yang juga memanfaatkan olahraga sebagai sarana memperkuat hubungan dengan Indonesia. Melalui Japan International Cooperation Agency (JICA), pemerintah Jepang telah mengirim beberapa relawan melalui program Japan Overseas Cooperation Volunteer (JOCV) untuk turut membina olahraga atletik. 

Salah satunya adalah Tanji Hiroki, seorang tenaga ahli muda yang sehari-hari beraktifitas di Pusat Pendidikan dan Latihan Olahraga Pelajar Daerah (PPLPD), Dinas Pemuda dan Olahraga Kabupaten Bogor, Jawa Barat.

Berawal dari rasa penasaran ingin bekerja di luar negeri, ia mencoba program JOCV. "Sebelumnya saya memang spesialis bidang atletik beberapa tahun di Jepang, jadi saya ingin menggunakan keterampilan itu", ujar Tanji dalam perbincangan Ruang Publik pada Jumat (07/10/2016) lalu.

Selama hampir dua tahun di Bogor, Tanji mengaku senang melatih meski dengan keterbatasan bahasa Indonesia pada awalnya. "Saya persiapan bahasa Indonesia dulu selama 70 hari, dan lanjut belajar bahasa di Yogyakarta", tambahnya.

Tanji fokus melatih nomor atletik lempar cakram, tolak peluru, lontar martil, dan lempar lembing.

Sementara itu, Direktur Teknik Pusat Pendidikan dan Latihan Pelajar Daerah (PPLPD) Kab. Bogor, Yadi Mulyadi mengatakan kehadiran tenaga ahli muda dari Jepang sangat membantu peningkatan kualitas para atlet muda. Dengan adanya 17 cabang olahraga yang dibinakan, kata dia, tentu membutuhkan tenaga ahli. Keberhasilan atlet, lanjut Yadi, tentu tak terlepas dari binaan pelatih. Dan pelatih dari Jepang, tambahnya, punya teknik berbeda yang bisa diadaptasi oleh atlet lokal. 

"Semisal tehnik lari. Biasanya kan lebih pada tumpuan kaki, tapi di Jepang itu lebih pada tehnik dengan tumpuan utama bokong, dan tungkai atas. Yang menarik dilakukan (Tanji), lewat video dan foto, dia bisa tahu kemampuan tiap atlet per detik, berapa langkah berapa meter. Selama ini, kita tidak pernah mengembangkan itu", pungkas Yadi. Cara ini, tambahnya,  akan memampukan pihaknya untuk mengetahui perkembangan kualitas atlet dengan lebih detail.

Yadi mengakui melalui kerjasama itu keberhasilan mulai terlihat. "Tahun 2014 Kejurnas atletik di Minahasa, Kab. Bogor tidak dapat satu pun medali. Lalu 2015, (kejuaaraan) di Aceh, kita hanya dapat 6 perak. Dan kemarin 2016, Kejurnas di Jakarta, kita dapat 2 medali emas. Jadi jelas grafiknya meningkat", tutup Yadi. (Mlk)

Ruang Publik mengudara di 100 radio jaringan KBR, senin – jumat jam 9 WIB. Siaran juga bisa disimak melalui www.kbr.id  

Komentar

Beri Komentar

KBR percaya pembaca situs ini adalah orang-orang yang cerdas dan terpelajar. Karena itu mari kita gunakan kata-kata yang santun di dalam kolom komentar ini. Kalimat yang sopan, menjauhi prasangka SARA (suku, agama, ras dan antargolongan), pasti akan lebih didengar. Yuk, kita praktikkan!

SPDP Pemimpin KPK, Jokowi Minta Tak Gaduh

  • Wiranto: Jual Saja Lapas Cipinang untuk Bangun Lapas di Pulau Terpencil
  • Gubernur Yogyakarta Pastikan Tindak Tegas Pelaku Aksi Intoleransi
  • Sebagai Panglima Tertinggi, Jokowi Perintahkan Bawahannya Tak Bikin Gaduh
  • Kalau Tak Setuju Ide Tes Keperawanan, Jangan Menyerang!
  • Jokowi: Kita Lebih Ingat Saracen, Ketimbang Momentum

KPK Minta Opini Alternatif, IDI Siapkan Pemeriksaan terhadap Novanto

  • Ratusan Warga Non-Papua Keluar dari Lokasi Konflik Tembagapura
  • Jokowi Minta DPD Dukung Pembangunan Daerah
  • Satgas Temukan Kayu-kayu Hasil Pembalakan Liar Hutan Lindung di Nunukan

“Jadi orang malah jadi keluar masuk untuk merokok, berapa waktu yang terbuang,” kata Tari Menayang dari Komnas Pengendalian Tembakau