SD Jaureguiberry Gunakan Barang Bekas Sebagai Bahan Bangunan

Sekolah juga menanam tanaman yang dapat dikonsumsi murid.

Jumat, 12 Agus 2016 18:18 WIB

SD Jaureguiberry di Uruguai menggunakan barang bekas sebagai bahan bangunan. (Sumber: Unesco)

SD Jaureguiberry di Uruguai menggunakan barang bekas sebagai bahan bangunan. (Sumber: Unesco)

KBR, Jakarta- Uruguai punya sekolah unik. Mayoritas bahan bangunannya terbuat dari barang bekas yang didaur ulang. Tak hanya itu, sekolah juga menanam tanaman yang dapat dikonsumsi murid. Sekolah unik ini ada  di Jaureguiberry, kota di utara Uruguay.

Sekolah Dasar Jaureguiberry adalah sekolah pertama yang berbasis lingkungan hidup se-Amerika Latin. Sekolah "Hijau" yang baru dibuka pada Maret 2016 lalu ini dibangun dengan tujuan besar, yaitu cinta lingkungan dengan langsung terjun dalam lingkungan yang berkelanjutan.

Gedung sekolahnya dirancang oleh arsitek asal Amerika Serikat, Michael Reynolds. Sekolah Jaureguiberry itu kini masuk Program Alam Uruguay yang ditandatangani oleh Menteri Pariwisata Uruguay, Liliam Kechichian. Mulai dari struktur bangunan dan pencahayaan dengan panel surya sehingga tidak memerlukan energi listrik alias cukup dengan energi matahari.

Uniknya, sebanyak 70 persen bangunannya adalah barang-barang daur ulang. Mulai dari 5000 ban, 3.800 botol, dan 2.000 kaleng yang kesemuanya adalah barang bekas. Tidak hanya itu, tapi ditambah dengan kebun dengan tanaman-tanaman yang dapat dikonsumsi siswa. Salah seorang siswa, Felipe Sunhari menyatakan bahwa yang paling menyenangkan adalah belajar berkebun dan membantu guru menyiram tanaman.

Beragam jenis tanaman ditanam oleh siswa sendiri di dalam dan luar kelas, mulai dari sayuran seperti tomat ceri, selada, sawi, cabai paprika, peterseli hingga buah-buahan seperti pisang, pepaya. Dari hasil kebun sekolah ini kemudian hasilnya untuk dikonsumsi para siswa saat jam istirahat makan siang.

SD Jaureguiberry menggunakan kurikulum yang sama seperti sekolah negeri lainnya, yang berbeda hanyalah, murid di SD Jaureguiberry belajar dalam lingkungan hidup yang berkelanjutan. (sumber : unesco.org, aljazeera, efe.com)


Editor: Rony Sitanggang



Komentar

Beri Komentar

KBR percaya pembaca situs ini adalah orang-orang yang cerdas dan terpelajar. Karena itu mari kita gunakan kata-kata yang santun di dalam kolom komentar ini. Kalimat yang sopan, menjauhi prasangka SARA (suku, agama, ras dan antargolongan), pasti akan lebih didengar. Yuk, kita praktikkan!

Dirjen AHU Freddy Harris soal Pencabutan Badan Hukum Ormas HTI

  • Bagi-Bagi Kopi di Filosofi Kopi 2
  • (Wawancara) Batal Temui Luhut, Senator Australia Kecewa
  • PDIP: Jika Tak Kompak Dukung Pemerintah, Silakan PAN Keluar Dari Koalisi
  • Indonesia Turki Sepakati Perangi Terorisme Lintas Negara
  • Alasan Polisi Hentikan Kasus Kaesang

DPR Sahkan UU Pemilu, Jokowi : Sistem Demokrasi Berjalan Baik

  • Gerindra Yakin MK Batalkan Pasal Pencalonan Presiden di UU Pemilu
  • UU Pemilu Untungkan Jokowi
  • Hampir Empat Bulan, Jadup Banjir Aceh Tenggara Belum Cair

Perkawinan anak dibawah usia minimal, menjadi hal memprihatinkan yang seharusnya menjadi perhatian dari pemerintah apabila benar-benar ingin melindungi anak-anak sebagai generasi penerus Bangsa.