Foto: Frans Mendur

KBR, Pagi tadi Istana Negara menggelar upacara pengibaran bendera untuk memperingati hari kemerdekaan Indonesia yang jatuh pada hari ini (17/8/2016).  Dalam peringatan HUT ke-71 RI  tahun ini tercatat ada sejumlah hal baru yang dilakukan panitia istana, antara lain pelaksanaan kirab mengarak bendera pusaka dari Monas ke Istana Negara.

Tak hanya itu, panitia juga menyiarkan upacara pengibaran bendera secara live stream dengan kamera 360 derajat. Informasi mengenai penggunaan kamera 360 derajat sebelumnya juga disampaikan oleh Presiden Joko  Widodo melalui akun Twitternya.

“Kali ini, kita bisa saksikan detik2 Proklamasi #RI71 dgn teknologi kamera 360° lewat kanal YouTube & Twitter saya –Jkw”, cuit Jokowi, Selasa (16/8/2016) malam.

Teknologi kamera 360 derajat memungkinkan penonton menyaksikan rangkaian peringatan dan upacara pengibaran bendera dari berbagai sudut pandang. Teknologi ini menghadirkan sensasi seolah tengah menonton langsung di lokasi acara.

HUT ke-71 RI mengambil tema Kerja Nyata. Dengan tagline ini Pemerintahan Jokowi ingin menunjukan komitmen untuk melakukan kerja nyata dalam memajukan Indonesia.  

Kerja nyata sebagaimana telah dibuktikan oleh para pejuang kemerdekaan kita dan para tokoh yang barangkali tak populer di telinga kita.

Husein Mutahar, Upacara dan Bendera Merah Putih

Tahukah Anda siapa di balik tata cara pengibaran bendera pusaka yang kita kenal sekarang? Namanya Husein Mutahar. Dia menjadi penata protokol pengibaran bendera Merah Putih saat peringatan HUT ke-1 RI di Yogyakarta.


Husein Mutahar berseragam pramuka (Windrusli/Wiki) 


Ketika Indonesia diserang Belanda pada Desember 1948, Mutahar lah yang ditunjuk Soekarno untuk mengamankan bendera pusaka. Caranya dengan memotong bendera jadi dua bagian sesuai warna. ‘Jaga bendera ini dengan nyawamu,’ kata Soekarno sebelum dibuang ke Bangka dan Prapat oleh Belanda. Setelah berhasil lari dari tangkapan Belanda, Mutahar membawa bendera kembali ke Jakarta lantas menjahit ulang bendera tersebut.


BM Diah dan Naskah Proklamasi

Burhanuddin Muhammad Diah atau BM Diah mungkin kalah populer dibanding Wikana, Chaerul Saleh, Sajuti Melik, Sukarni atau Achmad Soebardjo. Namun berkat BM Diah, kita bisa melihat bukti otentik peristiwa bersejarah.

Jumat dini hari 17 Agustus 1945, sejumlah pemuda dan tokoh golongan nasional berkumpul di rumah pejabat tinggi Jepang, Laksamana Tadashi Maeda. Di rumah yang terletak Jalan Imam Bonjol No 1 itulah, naskah Proklamasi dirancang, ditulis dan diedit oleh Soekarno. Sajuti Melik mengetik naskah supaya mudah dibaca. Usai diketik, naskah asli dibuang ke keranjang sampah.


Sebagai wartwan, BM Diah tergerak untuk memungut kembali naskah itu dari keranjang sampah dan mengantonginya. Naskah itu disimpan selama 46 tahun lebih. Pada 19 Mei 1992, dia mengantar naskah itu ke Bina Graha dan diserahkan kepada Presiden saat itu, Soeharto.

Berkat BM Diah, kita masih bisa melihat naskah asli Proklamasi dengan tulisan tangan Soekarno di dalam Ruang Kemerdekaan Monumen Nasional, Monas.

Duo Mendur dan Foto Bersejarah

Foto adalah salah satu cara mengabadikan peristiwa. Di masa perjuangan kemerdekaan Indonesia, kakak beradik Frans dan Alex Mendur ada di balik layar, mengabadikan berbagai kejadian bersejarah.

Frans dan Alex hadir saat pembacaan naskah Proklamasi di rumah Soekarno. Juga saat Soekarno berdoa setelah membacakan Proklamasi dan saat bendera Merah Putih berkibar untuk kali pertama di tanah Indonesia.


Sumber: en.wikipedia

Duo Mendur tak hanya mengabadikan peristiwa bersejarah 17 Agustus 1945. Frans dan Alex Mendur juga mengabadikan saat Bung Tomo orasi di Malang atau saat Soekarno menjemput Panglima Besar Soedirman sepulang dari gerilya.

Syech Abbas dan Peci Hitam

Foto Bung Karno dan Bung Hatta dengan peci hitam saat pembacaan Proklamasi 17 Agustus 1945, siapa yang tak ingat?

Peci hitam tinggi yang biasa dipakai Bung Karno adalah pemberian dari Syech Abbas Abdullah, sahabat Soekarno sekaligus pemimpin pesantren Darul Funun al Abbasiyah di Sumatera Barat. Bung Hatta yang tak terbiasa berpeci selama sekolah di Eropa, lantas mengikuti gaya Soekarno dengan memakai peci.


Soekarno menggunakan peci Syekh Abbas Abdullah, sebaliknya Syekh Abbas menggunakan peci Soekarno Sumber: darulfunun.or.id 

Dari situ, peci melekat dengan Soekarno. Ketika membacakan naskah Proklamasi, ketika berpidato di Kongres Amerika Serikat, rapat umum di Stadion Lenin, Moskow sampai ketika mengunjungi Kaisar Hirohito di Jepang. Termasuk juga saat bertemu bintang Hollywood, Marilyn Monroe atau berbincang dengan Elvis Presley di Hawaii.

Editor: Citra Dyah Prastuti

Bagikan berita ini :

Komentar

Beri Komentar

KBR percaya pembaca situs ini adalah orang-orang yang cerdas dan terpelajar. Karena itu mari kita gunakan kata-kata yang santun di dalam kolom komentar ini. Kalimat yang sopan, menjauhi prasangka SARA (suku, agama, ras dan antargolongan), pasti akan lebih didengar. Yuk, kita praktikkan!