Gaya pendongeng Aceh, PM Toh saat bercerita. (Foto : Antara)

KBR, Jakarta- Mendongeng adalah salah satu budaya asli Indonesia yang terus dilakukan turun temurun. Meski kini, budaya ini berangsur-angsur ditinggalkan. Salah satu pendongeng khas Aceh,  PM Toh menceritakan betapa pentingnya dongeng didokumentasikan dalam bentuk buku. Ini, kata PM Toh, agar dongeng tak dilupakan begitu saja.

"Mendengarkan dongeng itu terbatas, adanya interaksi antara pendongeng dan pendengar. Sementara setelah dongeng kan terlupakan. Tentu dibutuhkan buku bacaan lagi", kata pria bernama asli Agus Nur Amal ini.

Dalam perbincangan dengan Ruang Publik KBR, PM Toh mengawalinya dengan dongeng dengan cengkok khas Aceh-nya. Dongeng yang berkisah nelayan itu menyisipkan pesan tolong menolong antar sesama. Lebih lanjut, PM Toh berharap para penulis buku anak juga lebih banyak mengeksplorasi dongeng-dongeng lokal yang menurutnya perlu penyesuaian agar lebih menarik.

"Kita masih kurang rasionalisasi, bagaimana misalnya dongeng-dongeng Yunani itu kemudian enak dibaca bahkan jadi cerita yang abadi. Itu sudah dilakukan rasionalisasi ketika ditulis. Disesuaikan dengan kebutuhan, budaya", lanjutnya.

Menanggapi itu, penulis buku anak, Clara Ng pun bertutur tentang tantangan menuliskan buku untuk anak. Buku cerita anak yang ada saat ini, kata dia, belum terklasifikasi dengan baik. Menurutnya ini menyulitkan orang tua atau pendidik untuk mendapatkan buku bacaan yang tepat bagi anak.  

"Belum ada upaya (dari orang tua atau pendidik) untuk memahami kategorisasi kapasitas intelektual anak. Misalnya anak 3 tahun dengan 5 tahun saja sudah berbeda. Memasuki early reader atau 7 tahun juga sudah berbeda," kata penulis yang memperoleh penghargaan Adikarya Ikapi  pada tahun 2006 untuk cerita anak, "Gaya Rambut Pascal", salah satu seri "Berbagi Cerita Berbagi Cinta". 

Di lain pihak, Komunitas 1001 Buku yang turut hadir dalam program Ruang Publik juga berbagi cerita saat menyalurkan buku bacaan anak di taman-taman bacaan yang dikelolanya. Salah satu relawan komunitas tersebut, Ganjar Wibowo menyatakan betapa antusiasme anak-anak khususnya di daerah pelosok. Buku-buku bergambar dan tipis masih menjadi primadona. Selain karena jumlah buku anak yang belum banyak, Ganjar juga berharap, "semoga penulis buku anak bersedia menulis buku-buku untuk anak disabilitas, semisal buku bacaan braille dsb karena anak-anak khususnya di pelosok membutuhkannya,"


Komunitas yang sudah 13 tahun bergelut menyebarkan buku bacaan anak ini kembali mengajak Anda yang ingin menyumbangkan buku atau ingin membuka taman baca  bisa kunjungi website www. 1001buku.or.id.  

Anda yang tengah menantikan karya terbaru Clara Ng, jangan sampai melewatkan buku novel junior terbaru berjudul "Dru dan Kisah Lima Kerajaan" yang bakal meluncur pada 18 April mendatang. Novel yang diadaptasi dari cerita wayang Drupadi dan lima pandawa ini bercerita tentang petualangan seorang anak yang menemukan banyak keajaiban. 



Ketika ditanya pesan dalam buku terbarunya itu, Clara berkelakar, "semoga senang saja baca kisahnya, jangan stress", tutupnya.
 

Editor: Malika

Ruang Publik hadir setiap Senin - Jumat, pukul 9 pagi  

Anda bisa mengusulkan tema untuk dibahas dalam Ruang Publik melalui sms/wa di 08121188181. Fotmat: Nama (spasi) Usia (spasi) Kota (spasi) usulan tema Ruang Publik. 

Bagikan berita ini :

Komentar

Beri Komentar

KBR percaya pembaca situs ini adalah orang-orang yang cerdas dan terpelajar. Karena itu mari kita gunakan kata-kata yang santun di dalam kolom komentar ini. Kalimat yang sopan, menjauhi prasangka SARA (suku, agama, ras dan antargolongan), pasti akan lebih didengar. Yuk, kita praktikkan!