Sutradara Film, Hanung Bramantyo. Foto: KBR/Eka

Sutradara Film, Hanung Bramantyo. Foto: KBR/Eka

“Kartini itu gak jelas siapa musuhnya. Makanya dia tak bisa angkat senjata seperti Tjoet Nyak Dien. Musuh Kartini itu bapak dan kakaknya sendiri. Saat berumur 12 tahun, usai menamatkan sekolah dasar, tau-tau ia “dipenjara” dirumahnya sendiri. Masak ia mau angkat senjata sama bapaknya sendiri?”

Begitu kata sutradara beken Hanung Bramantyo menggambarkan sosok pahlawan perempuan yang dimiki bangsa Indonesia itu. Banyak yang menganggap, Kartini ini  hanya modal menulis dan berkirim surat, kok ya bisa dianggap pahlawan, sih? Menurut Hanung, yang dilawan Kartini adalah ideologi dan pemikiran yang sempit tentang emansipasi wanita.

“Bayangkan, umur 12 tahun, Kartini sudah bisa menulis artikel tentang seorang pejuang wanita asal India, Pandita Ramabai. Tulisan itu membuat kagum kepala sekolah dan guru-gurunya. Kalau jaman sekarang, ibaratnya Kartini adalah perjuangan ABG yang mencurahkan isi hati dan keinginannya lewat blog. Sayangnya, kecerdasan itu hanya berhenti di sekolah dasar. Karena Kartini harus masuk pingitan. Menunggu seseorang laki-laki bangsawan melamarnya.” jelas Hanung.

Hanung menambahkan, Kartini memang melawan, tapi bukan dengan senjata. Lagipula, sifat orang Jawa adalah “nrimo”. Dalam “penerimaan” itu, Kartini melawan dengan tulisannya. Seorang feminis Yahudi bernama Stella Zeehandelar dan Ny. Rosa Abendanon, pejabat resident urusan pendidikan dan kebudayaan Belanda, tertarik dengan surat-surat Kartini. Barangkali, kata Hanung, karena tulisan itulah, yang membuat nama Kartini, dicatat, hingga saat ini.

Kartini kecil, dipanggil Trinil oleh ayahnya. Trinil adalah burung kecil yang lincah dan selalu mengeluarkan suara nyaring alias cerewet. Itu karena, Kartini selalu banyak bertanya pada keluarganya tentang kehidupannya. Selain cerewet, Trinil juga lincah. Kalau ia berlari diatas pasir pantai Jepara, kain jaritnya diangkat tinggi-tinggi agar bisa melesat kencang menembus ombak.

Fim Kartini

Atas dasar itulah, Hanung bekerjasama dengan Legacy Pictures membuat remake Film tentang kehidupan Kartini, yang berjudul “Kartini”, tanpa gelar Raden Ajeng. Kartini, sepanjang hidupnya jutsru menentang adanya pelabelan dirinya sebagai priyayi, hanya karena ia anak bupati. Ia pun tidak menyukai peradaban bangsawan dan kaum non bangsawan. Dia selalu berkata “panggil saja aku Kartini” tanpa label apapun.

“Saya melihat Kartini dalam baju yang berbeda. Saya ingin penonton ikut merasakan tragedi itu. Saya ingin sharing kegelisahan dan tidak memikirkan film ini akan laku atau tidak,” jelasnya.

Meski ia tau akan banyak pro dan kontra, berdasarkan dari pengalamannya sebelumnya, namun keinginan Hanung begitu kuat untuk merealisasikan film Kartini. Bagi Hanung, seberapa kecilnya kesempatan harus diambil untuk diwujudkan. 

Dian Sastro, perankan sosok Kartini

Dian Sastro Wardoyo, aktris yang sudah membintangi beberapa film nasional, terpilih menjadi sosok yang pantas untuk memerankan Kartini. Bagi Hanung, hanya wanita yang berusia 33 tahun inilah yang mampu menjadi kendaraan untuk mengantarkan film Kartini agar diterima penonton dari berbagai kalangan.

"Tak ada kendaran lain, selain Dian Sastro yang bisa masuk ke relung-relung jiwa anak muda,” ujarnya.

Setting film ini akan banyak dilakukan di dalam rumah, karena, kata Hanung, perlawanan Kartini sendiri dilakukan di dalam rumah, Ia melawan bapak dan kakaknya.Sedangkan untuk pemilihan bahasa (Jawa atau Indonesia) yang akan mewarnai film ini, menurut Robert Doni, produser film dari Legacy Pictures, masih belum ditentukan. Proses syuting akan dilakukan mulai Desember 2015, dan rencananya akan tayang pada April 2016.

“Perjuangan Kartini itu belum berakhir. Film ini merupakan titik balik bangsa kita dalam dunia pendidikan di Indonesia yang masih sangat buruk,“ ujar Robert Doni.

Keluarga Kartini, Mendukung film Kartini

Keluarga Kartini, tidak keberatan untuk dibuatkan film ini. Sebelumnya, di tahun 80-an film Kartini pernah dibuat oleh Sjumanjaya. Sosok Kartini diperankan oleh Yenny Rachman. Namun, menurut perwakilan keluarga Kartini, Hadi Priyanto, di film tersebut, ada beberapa jalan cerita yang dianggap tidak benar. Seperti alur kisah istri pertama dan kedua ayah Kartini. Selain itu, Kartini yang berperan luar biasa dalam pengembangan ekonomi di Jepara, juga tidak diceritakan.

Ia menjelaskan, Kartini turut membantu menginisiasi para pengrajin batik dan seni ukir di Jepara dengan mempromosikan produknya pada pameran, sehingga diliput oleh media Belanda. Selama ini, para pengrajin itu tak punya pasar dan posisi tawar untuk produknya. 

Selain itu, Kartini pun mendirikan Sekolah Wanita, khusus untuk perempuan yang didirikan oleh Yayasan van Deventer di beberapa tempat untuk mendidik para siswa perempuan. Hadi berharap, film Kartini garapan Hanung, lebih menonjolkan sisi-sisi perjuangan Kartini yang tak diketahui oleh publik.

“Saya berharap, film Kartini menjadi pembelajaran karakter bagi anak muda,  bagaimana sosok ini telah berjuang untuk kaumnya dan warga sekitarnya,” ujarnya.

Editor: Malika

 

Bagikan berita ini :

Komentar

Beri Komentar

KBR percaya pembaca situs ini adalah orang-orang yang cerdas dan terpelajar. Karena itu mari kita gunakan kata-kata yang santun di dalam kolom komentar ini. Kalimat yang sopan, menjauhi prasangka SARA (suku, agama, ras dan antargolongan), pasti akan lebih didengar. Yuk, kita praktikkan!