Illustrasi foto: Antara

KBR, Jakarta- Saat menerima oscar sebagai aktor terbaik untuk film The Revenant, Leonardo DiCarprio sempat menyampaikan kaitan penggunaan kantong plastik dan perubahaan iklim. Plastik, kata dia, menjadi salah satu penyumbang emisi gas rumah kaca penyebab perubahan iklim karena menggunakan minyak bumi dalam proses produksinya.

Sesungguhnya, permasalahan yang ditimbulkan plastik tidak berhenti pada saat proses produksi. Peneliti dari University of Georgia Jenna R Jambeck menyebut Indonesia menduduki peringkat kedua “penghasil” sampah plastik terbanyak  setelah Tiongkok. Sampah-sampah plastik itu menumpuk di lautan.

Persoalan sampah plastik menimbulkan kegelisahan pada kelompok muda. Menamakan dirinya Gerakan Indonesia Diet Kantong Plastik, mereka memulai petisi melalui Change.org pada 2013. Tujuannya mendorong kebijakan kantong plastik berbayar.  Sebanyak 70.000 lebih orang mendukung petisi itu.

Petisi ini berhasil mendorong Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan menerbitkan Surat Edaran untuk mendukung kampanye diet plastik. Surat Edaran Direktorat Jenderal Pengelolaan Sampah, Limbah dan Bahan Berbahaya dan Beracun bernomor: S.1230/PSLB3-PS/2016 mengatur soal harga dan mekanisme penerapan kantong plastik berbayar. Dalam surat itu, uji coba kantong minimal dilaksanakan pada 21 Februari hingga 5 Juni 2016 di 23 kota. Harga satu kantong plastik pada toko ritel modern dibanderol Rp 200,-.

Masyarakat menanggapi uji coba kantong plastik berbayar ini secara beragam. 


Meski masih ada pro kontra, Gerakan Indonesia Diet Kantong Plastik menilai uji coba kantong plastik berbayar mulai mengubah gaya hidup masyarakat. Koordinator Harian Gerakan Indonesia Diet Kantong Plastik, Rahyang Nusantara optimistis uji coba diet kantong plastik berhasil.

"Setelah ada program Kantong Plastik Berbayar ini, orang-orang sudah memilih untuk membawa kantong belanja sendiri atau ditenteng. Meski memang masih ada yang rela beli," ujar Rahyang dalam program Ruang Publik KBR, Kamis (03/03/2016).

Kata Rahyang, pengusaha ritel memegang peranan penting dalam keberhasilan uji coba plastik berbayar ini.

"Kita sudah cukup lama kerja sama dengan ritel. Sebelumnya, beberapa ritel juga membantu sosialisasi uji coba program ini. Bahkan sudah ada yang menerapkan plastik berbayar ini," ujar Rahyang. 

Menanggapi itu, Wakil Ketua Umum Asosiasi Pengusaha Ritel Indonesia (Aprindo), Tutum Rahanta, mengusulkan program ini tidak hanya dilaksanakan di 23 kota saja.

"Kami akan dorong perbaikan, ini harus bisa dilaksanakan secara serentak di seluruh Indonesia. Jadi untuk wilayah yang di luar 23 kota itu, kami harus meminta izin ke pemerintah daerah. Masa berbuat baik saja harus minta izin?" Tanya Tutum. 

Keberhasilan uji coba kantong plastik berbayar ada di tangan masyarakat. Pemerintah daerah selaku pelaksana juga mesti betul mengawasi dan mengevaluasi jalannya uji coba ini. Apalagi kelak Kementerian LHK berencana menerbitkan Peraturan Menteri tentang Penerapan Kantong Plastik Berbayar pada Juni mendatang. 

Editor: Malika

Ruang Publik hadir setiap Senin - Jumat, pukul 9 pagi  

Anda bisa mengusulkan tema untuk dibahas dalam Ruang Publik melalui sms/wa di 08121188181. Fotmat: Nama (spasi) Usia (spasi) Kota (spasi) usulan tema Ruang Publik.

Bagikan berita ini :

Komentar

Beri Komentar

KBR percaya pembaca situs ini adalah orang-orang yang cerdas dan terpelajar. Karena itu mari kita gunakan kata-kata yang santun di dalam kolom komentar ini. Kalimat yang sopan, menjauhi prasangka SARA (suku, agama, ras dan antargolongan), pasti akan lebih didengar. Yuk, kita praktikkan!