Buruh Garmen di KBN Cakung Takut Hamil

Tiga faktor yang memicu ketakutan buruh saat hamil yaitu khawatir keguguran, cemas kehilangan pekerjaan, dan takut penghasilan berkurang.

Selasa, 19 Des 2017 21:48 WIB

Sekretaris Komite Nasional Perempuan Mahardika Mutiara Ika Pratiwi. Foto: May Rahmadi

KBR, Jakarta- Hasil penelitian Komite Nasional Perempuan Mahardika (KNPM) menyebut 50 persen buruh garmen di Kawasan Berikat Nusantara Cakung yang hamil dan pernah hamil sepanjang tahun 2015-2017, merasa takut saat mengetahui dirinya hamil. Peneliti dari KNPM mengungkapkan hal tersebut dalam jumpa pers di kawasan Salemba, Jakarta Pusat, Selasa, (19/12).

Sekretaris KNPM Mutiara Ika Pratiwi menjelaskan, ketakutan para buruh yang hamil muncul karena tiga faktor pemicu. Faktor-faktor tersebut adalah khawatir mengalami keguguran, cemas kehilangan pekerjaan, dan takut penghasilan berkurang.

Soal keguguran, Mutiara menjelaskan, buruh perempuan di KBN Cakung tidak mendapatkan fasilitas kerja yang mendukung kehamilan. Padahal, perempuan hamil yang mengalami perubahan tubuh, seharusnya mendapatkan kursi kerja yang berbeda dengan buruh yang tidak hamil. Ini yang kemudian menjadi salah satu penyebab terjadinya keguguran bagi beberapa buruh.

"Jadi rasa takut itu sebenarnya memiliki dasar. Misalnya, sistem kerja target yang sangat melelahkan, kemudian dia (perusahaan) seringkali tidak memandang bagaimana tubuh perempuan berubah ketika hamil yang selayaknya mendapat perhatian khusus. Tapi karena target, terabaikan semuanya sehingga diperlakukan sama dengan buruh yang tidak hamil," kata Mutiara.

Bukan hanya fasilitas, para buruh yang hamil juga tidak mendapatkan dukungan dari sistem jam kerja. Mutiara melanjutkan, sebagian buruh hamil masih mendapatkan kewajiban kerja lembur, setidaknya satu jam setelah selesai bekerja.

Para pengawas buruh pun cenderung tidak memperlakukan buruh-buruh hamil dengan baik. Mutiara mengatakan, pengawas-pengawas kerap melakukan kekerasan verbal kepada buruh-buruh hamil yang hendak beristirahat. Para pengawas bahkan sering menekankan secara keras kepada buruh hamil untuk bekerja lembur, bila pekerjaan buruh tidak memenuhi target.

"Istilah pengawas yang "galak" dan "bawel" jamak digunakan buruh untuk menggambarkan hal tersebut," kata Mutiara.

Selain khawatir keguguran, para buruh di KBN Cakung mengalami kecemasan akan kehilangan pekerjaan, ketika mengetahui dirinya hamil. Sebab, sebagian besar buruh garmen di KBN Cakung berstatus kontrak. Mereka tidak ingin perusahaan menyetop kontraknya, bila terbukti penurunan kinerja karena kehamilan.

"Ketika kontraknya sudah habis, salah satu cara mereka agar tetap bisa survive, adalah dengan menyembunyikan kehamilan," kata Mutiara.

Ketakutan buruh atas kehamilannya, juga muncul karena tidak ingin penghasilannya berkurang. Mutiara menjelaskan, biasanya, buruh garmen mendapat tunjangan cuti haid. Agar tetap mendapat tunjangan tersebut, para buruh hamil terpaksa bersusah payah menyembunyikan kehamilannya.

Penelitian ini berlangsung pada Agustus sampai Oktober 2017, dan melibatkan 118 buruh garmen perempuan dari 45 pabrik di KBN Cakung sebagai responden. Para responden itu, menurut Peneliti Sapta Widi mengatakan, spesifikasinya, 28 orang sedang hamil dan 93 orang pernah hamil selama tahun 2015 sampai 2017.

Dalam proses pengambilan data, Widi menuturkan, ada kendala yang membuat penelitian itu berlangsung agak lama. Dia mengatakan, para responden tidak mudah terbuka untuk menjelaskan kondisi di lingkungan kerjanya, sehingga harus melakukan pendekatan agar mereka bisa mengisahkan ketakutannya.

"Karena memang apabila perusahaan mengetahui buruh diwawancara, itu bisa dimarahi atau kena sanksi. Jadi wawancara itu dilakukan dihunian. Jadi ancamannya bagi buruh memang mengancam pekerjaan mereka," kata Widi kepada KBR.

Hasil penelitian ini, Widi melanjutkan, akan diserahkan pada Kementerian Tenaga Kerja, Perusahaan di KBN Cakung, dan Serikat Buruh. Komite Nasional Perempuan Mahardika mendesak pihak-pihak tersebut memberikan perhatian lebih pada hak-hak bagi para buruh perempuan yang sedang hamil. 

Editor: Sasmito

Komentar
Beri Komentar

KBR percaya pembaca situs ini adalah orang-orang yang cerdas dan terpelajar. Karena itu mari kita gunakan kata-kata yang santun di dalam kolom komentar ini. Kalimat yang sopan, menjauhi prasangka SARA (suku, agama, ras dan antargolongan), pasti akan lebih didengar. Yuk, kita praktikkan!

Puluhan organisasi Masyarakat sipil melalui gerakan #BersihkanIndonesia menantang kedua capres dan cawapres yang berlaga dalam Pemilu Presiden 2019 mewujudkan komitmen “Indonesia Berdaulat Energi".