Setara Institut Temukan Bogor dan Depok jadi Inkubator Radikalisme

Penelitian dilakukan di sejumlah masjid dan kampus.

Rabu, 01 Nov 2017 19:43 WIB

Ilustrasi (foto: Antara)

KBR, Jakarta- Setara Institute menemukan sejumlah dua wilayah, Depok dan Bogor, Jawa Barat menjadi inkubator radikalisme. Dalam penelitian  bertajuk 'Potret Intoleransi dan Potensi Radikalisme di Depok dan Bogor'  Setara mencatat  pemahaman ideologi radikal  menyebar dari masjid, pesantren, dan kampus pada dua kota tersebut.

Para peneliti itu melakukan observasi di beberapa sampel dari tempat-tempat tersebut. Kemudian,  melakukan wawancara mendalam dengan puluhan pemuka agama dan jamaah, serta Pegawai Negeri Sipil dan pejabat daerah.

Sudarto, peneliti wilayah Depok, menyebut ada kelompok masyarakat yang menanamkan kebencian pada sesuatu yang dianggap musuh Islam, seperti Komunisme, Jaringan Islam Liberal (JIL), dan kaum Lesbian, Gay, Biseksual, Transgeder (LGBT). Kegiatan tersebut dilakukan di beberapa masjid, pesantren dan kampus di Depok.

"Ternyata di Depok itu memang kuat narasi radikalisme. Bentuknya, ada narasi tentang melawan hegemoni, melawan musuh-musuh Islam, ada narasi karena (menganggap) merasa dipinggirkan, terus ada narasi membela Islam. Kita mendapatkan itu karena mengambil sampel-sampel," kata Sudarto kepada KBR di kantor Setara Institut, Kebayoran Baru, Jakarta Selatan, Rabu (1/11).

Sudarto melanjutkan, salah satu masjid yang melakukan penyebaran ideologi radikalisme dibangun atas hibah orang Arab Saudi ke Dewan Dakwah Islamiyah Indonesia (DDII) di Depok. Menurut Sudarto, narasi yang berkembang di masjid tersebut cenderung mempromosikan antibidah dan mengkafirkan  kelompok lain.

Di wilayah kampus, Sudarto menjadikan Masjid Ukhuwah Islamiyah Universitas Indonesia dan masjid di Komplek Sekolah Tinggi Ilmu Ekonomi (STIE) Hidayatullah sebagai bahan penelitian. Kelompok-kelompok pengajian di Masjid UI, menurut Sudarto,  memiliki pandangan menolak kominisme, LGBT, Amerika, JIL, dan kelompok-kelompok yang dianggap sesat.

Sedangkan di Masjid STIE Hidayatullah, Sudarto melanjutkan, mewajibkan demo anti-Ahok.

"Mahasiswa di sekolah ini pun, termasuk wajib mengikuti demo anti Ahok sebagai respons atas dinamika politik di DKI pada akhir 2016 sampai 2017," katanya.

Sementara, Peneliti Setara Institute M. Syauqillah yang meneliti  sejumlah masjid, pesantren, dan kampus di Kota Bogor  menyebut Kota Hujan   menjadi inkubator bagi berkembangnya paham-paham radikalisme.

"Di kalangan teman-teman yang mantan teroris juga mengakui bahwa Bogor hari ini sudah berbeda dengan 10 tahun yang lalu dan itu kita bisa lihat dengan keterlibatan beberapa pelaku yang berasal dari Bogor, seperti pelaku bom Thamrin," katanya.

Editor: Rony Sitanggang

Komentar

Beri Komentar

KBR percaya pembaca situs ini adalah orang-orang yang cerdas dan terpelajar. Karena itu mari kita gunakan kata-kata yang santun di dalam kolom komentar ini. Kalimat yang sopan, menjauhi prasangka SARA (suku, agama, ras dan antargolongan), pasti akan lebih didengar. Yuk, kita praktikkan!

SPDP Pemimpin KPK, Jokowi Minta Tak Gaduh

  • Wiranto: Jual Saja Lapas Cipinang untuk Bangun Lapas di Pulau Terpencil
  • Gubernur Yogyakarta Pastikan Tindak Tegas Pelaku Aksi Intoleransi
  • Sebagai Panglima Tertinggi, Jokowi Perintahkan Bawahannya Tak Bikin Gaduh
  • Kalau Tak Setuju Ide Tes Keperawanan, Jangan Menyerang!
  • Jokowi: Kita Lebih Ingat Saracen, Ketimbang Momentum

Penggantian Ketua DPR Dinilai Tak Perlu Tergesa-gesa

  • PKB: Keputusan Golkar Terkait Posisi Setnov Menyandera DPR
  • Mendagri: Usulan Tim Gubernur Anies Melebihi Kapasitas yang Diatur Undang-undang
  • Golkar Resmi Dukung Khofifah-Emil di Pilkada Jatim