Sekilas Penamaan Badai Tropis di Indonesia, dari Anggrek hingga Sawo

Daftar nama-nama badai itu kini dikelola dan diperbarui oleh komite internasional di Organisasi Meteorologi Dunia.

Kamis, 30 Nov 2017 11:53 WIB

Petugas BMKG menunjukkan area pergerakan badai Siklon Tropis Cempaka di kantor BMKG Jakarta, Rabu (29/11/2017). (Foto: ANTARA/Rivan Awal Lingga)

KBR, Jakarta - Wilayah perairan selatan Indonesia pekan ini dilanda dua badai, yang datang bersusulan. 

Pada 27 November 2017, otoritas pemantau cuaca Indonesia yaitu Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) mengingatkan masyarakat untuk waspada terhadap badai tropis. 

Pusat Peringatan Dini Siklon Tropis BMKG (Tropical Center Warning Center/TCWC) hari itu mendeteksi lahirnya siklon tropis Cempaka, di wilayah selatan Pulau Jawa. Peringatan dini itu terbukti dengan terjadinya hujan deras di berbagai wilayah mulai dari Jawa Barat hingga Jawa Timur. Banjir terjadi di berbagai tempat hingga menyebabkan korban tewas.

Belum reda dampak bajir akibat badai siklon tropis Cempaka, BMKG mendeteksi lahirnya bibit siklon baru yang kemudian diberi nama Dahlia di sebelah selatan Pulau Sumatera, khususnya Bengkulu. 

Sama seperti sebelumnya, BMKG memperingatkan potensi bahaya akibat munculnya siklon Dahlia yaitu hujan deras disertai angin kencang dengan arah angin dari barat ke timur.

Banyak masyarakat kemudian bertanya mengenai penamaan badai siklon di Indonesia yang menggunakan nama bunga. Selanjutnya, jika ada siklon lagi akan diberi nama apa?

Penamaan badai

Ada beberapa istilah untuk menyebut badai di perairan laut. Di wilayah Samudera Pasifik, biasa disebut badai atau 'hurricane'. Di wilayah Pasifik Utara dan Filipina, biasa disebut dengan angin topan, sedangkan di kawasan Samudera Hindia dan Pasifik Selatan disebut siklon atau siklon tropis. 

Namun pada intinya, hurricane, topan atau siklon adalah sebutan fenomena angin kencang yang memiliki kecepatan di atas 74 mil per jam atau sekitar 119 kilometer per jam.

Organisasi Meteorologi Dunia (World Meteorological Organization/WMO) menyebut penamaan badai atau siklon dilakukan untuk mempermudah orang mengingat akan pesan peringatan bahaya, ketimbang mengingat istilah-istilah teknis atau identifikasi badai dengan angka. Termasuk mempermudah media memberitakan peringatan dini badai atau topan. 

Pada awal September 1842, sebuah badai siklon kuat terjadi di perairan Atlantik di Teluk Meksiko hingga sepanjang pantai Amerika Serikat. Dunia kemudian menyebutnya sebagai badai Antje---merujuk pada nama kapal HMS Antje, dimana badai itu pertama kali dilihat oleh kru kapal tersebut. 

Selanjutnya pada awal 1900-an para ahli meteorologi sepakat memberi nama badai menggunakan nama perempuan. Agar penamaan lebih sistematis, maka para ahli memutuskan memberi nama berdasarkan urutan abjad, seperti abjad A menggunakan nama Anna. 

Selanjutnya, para ahli juga mulai menggunakan nama laki-laki untuk badai yang terjadi di bagian selatan garis ekuator, yang mencakup lima benua dan empat samudera dan sebagian besar wilayah Kepulauan Pasifik di Oseania.

Berdasarkan kesepakatan bersama, daftar nama badai dipergunakan secara selang-seling antara nama pria dan wanita, baik untuk wilayah Pasifik, Atlantik, Australia dan sekitarnya. 

WMO membagi 10 zonasi penamaan badai---termasuk untuk wilayah perairan Indonesia menjadi tanggung jawab Jakarta Tropical Cyclone Warning Center BMKG.

Penyusunan daftar nama-nama badai dilakukan melalui prosedur ketat oleh Badan Regional Siklon Tropis WMO. 

Nama-nama dipilih adalah nama yang cukup dikenal atau familiar bagi masyarakat di masing-masing regional. Karena tujuan pemberian nama adalah untuk memudahkan warga mengingat dan mengetahui siklon tropis atau badai di wilayah masing-masing. 

Misalnya, untuk badai yang terjadi di wilayah Samudera Hindia bagian utara diberi nama seperti Agni, Fanoos, Chapala dan lain-lain karena merupakan sumbangan nama dari India, Pakistan dan Bangladesh.

Sedangkan badai yang terjadi di barat daya Samudera Pasifik atau laut China Selatan, diberi nama yang familiar seperti Wukong (Tiongkok), Shanshan (Hong Kong), Cimaron (Filipina), Jebi (Korea) dan lain-lain.

Daftar nama-nama badai itu kini dikelola dan diperbarui oleh komite internasional di Organisasi Meteorologi Dunia. Namun ada kesepakatan, bahwa nama badai atau topan yang mematikan hanya digunakan sekali, dan sesudah itu dipensiunkan---demi alasan sensitifitas dan empati pada korban.

Penamaan Indonesia

Jakarta Tropical Cyclone Warning Center dibentuk BMKG pada 24 Maret 2008 khusus memantau kelahiran bibit-bibit calon badai maupun pergerakan badai dari wilayah lain. 

Berbeda dengan sembilan zona pembagian penamaan badai, Jakarta TCWC memberi nama badai menggunakan nama bunga, dan nama itu sudah terdaftar dan diakui WMO. 

Sebelumnya, BMKG memberi nama berdasarkan nama wayang, seperti siklon tropis di perairan barat daya Bengkulu pada 22-25 April 2008 yang diberi nama siklon tropis Durga (salah satu karakter wayang Dewi Durga). 

Namun, agar nama siklon tidak terlalu menakutkan, Jakarta TCWC memutuskan mengganti nama badai dengan nama bunga dan buah secara abjad. 

Secara berurutan, dimulai dengan siklon tropis di perairan barat Sumatera pada 30 Oktober-4 November 2010 diberi nama siklon tropis Anggrek, dilanjutkan siklon tropis Bakung di perairan barat daya Sumatera pada 11-13 Desember 2014. 

Selanjutnya siklon tropis Cempaka pada 27-29 November 2017 dan dilanjutkan dengan siklon tropis Dahlia yang terdeteksi lahir pada 30 November 2017. 

Berdasarkan urutan, setelah Angrek, Bakung, Cempaka dan Dahlia, akan disusul Flamboyan, Kenanga, Lili, Mangga, Seroja dan Teratai. 

Untuk mengantisipasi jika ada nama yang dipensiunkan---karena siklon mematikan---maka Jakarta TCWC menyiapkan nama pengganti, seperti Anggur, Belimbing, Duku, Jambu, Lengkeng, Melati, Nangka, Pisang, Rambutan dan Sawo. 

(Sumber: WMO.int, BMKG)

Komentar

Beri Komentar

KBR percaya pembaca situs ini adalah orang-orang yang cerdas dan terpelajar. Karena itu mari kita gunakan kata-kata yang santun di dalam kolom komentar ini. Kalimat yang sopan, menjauhi prasangka SARA (suku, agama, ras dan antargolongan), pasti akan lebih didengar. Yuk, kita praktikkan!

Jokowi: Masa Sudah 3-4 Tahun Masih Bawa-bawa Urusan Pilpres

  • SPDP Pemimpin KPK, Jokowi Minta Tak Gaduh
  • Wiranto: Jual Saja Lapas Cipinang untuk Bangun Lapas di Pulau Terpencil
  • Gubernur Yogyakarta Pastikan Tindak Tegas Pelaku Aksi Intoleransi
  • Sebagai Panglima Tertinggi, Jokowi Perintahkan Bawahannya Tak Bikin Gaduh

Pemerintah Godok Opsi Format Pencantuman Agama Kepercayaan Di KTP

  • PLN Siap Jalani Putusan MK Soal Aturan Nikah Teman Sekantor
  • Polisi Banyuwangi Perketat Keamanan Objek Vital
  • Statistik Opta: Rooney Masih Garang Cetak Peluang Menjadi Gol

Kemiskinan, konflik senjata, norma budaya, teknologi komunikasi modern, kesenjangan pendidikan, dan lain-lain. Kondisi-kondisi ini membuat anak rentan dieksploitasi