Petani Majalengka hadang aparat yang hendak mengukur lahan bagi Bandara Internasional Jawa Barat Kertajati. (Foto: LBH Bandung)


KBR, Jakarta- Polisi tembakkan gas air mata ke arah petani Sukamulya yang menolak pembangunan Bandara Kertajati. Sekretaris Jendral AGRA Mohamad Ali khawatirkan kekerasan akan terjadi lagi jika aparat tidak mundur dari lokasi Desa Sukamulya, Majalengka, dan negosiasi tidak dilakukan. 

Kata Ali, petani bersikeras  menghadang  pengukuran lahan yang akan dibebeskan untuk proyek bandara Internasional Jawa Barat tersebut.

"Informasi awal baru mereka menggunakan gas air mata. Kita belum mendapat informasi menggunakan peluru karet atau peluru tajam. Belum mendapat informasi tapi pihak aparat sudah terus menembakkan gas air mata ke massa, maka kemudian massa juga mundur. (Berapa petani yang menghadang pengukuran?) satu desa di Desa Sukamulya, kalau jumlah seluruh warga sekitar lima ribuan tapi yang berkumpul tadi juga ribuan," papar Mohamad kepada KBR, Kamis (17/11/2016).

Kata Ali, saat ini warga sudah kembali ke rumah masing-masing. Belum ada informasi jatuhnya korban jiwa  dari peristiwa tersebut.

Ali mengklaim warga menghadang karena ingin berunding mengenai proyek yang akan berimbas pada desa mereka. Petani meminta  bertemu dengan Gubernur Jawa Barat sebelum dilakukan pengukuran lahan untuk pembebasan itu.  

"Jadi masyarakat belum merasa apa yang dilakukan pemerintah belum memenuhi mufakat jadi belum ada musyawarah mufakatnya kemudian itu dibebaskan lahannya. Karena tinggal satu desa dari seluruh desa yang terkena program pembangunan bandara ini. Tinggal Sukamulya," ujarnya.

Ia membeberkan, luas desa Sukamulya   sekitar 740 hektare. Sebanyak   618 hektare berupa sawah  yang menghasilkan setidaknya 8.652 ton gabah kering setahun.

Menurut dia, polisi hari ini melakukan pengukuran terhadap sekitar 34 hektare sawah yang telah disetujui sebagian warga untuk dijual. Kata dia,   mayoritas warga di sana masih belum sepakat dan ingin menolak proyek tersebut.  

"Semuanya itu akan dibebaskan, karena desa itu dipakai landasan. Tapi alasan sekarang hanya akan melakukan pengukuran sekitar 34an hektare, katanya itu pengukuran itu. Tapi kalau melihat proyeknya desa ini akan habis semuanya," kata Mohamad.


Editor: Rony Sitanggang

Bagikan berita ini :

Komentar

Beri Komentar

KBR percaya pembaca situs ini adalah orang-orang yang cerdas dan terpelajar. Karena itu mari kita gunakan kata-kata yang santun di dalam kolom komentar ini. Kalimat yang sopan, menjauhi prasangka SARA (suku, agama, ras dan antargolongan), pasti akan lebih didengar. Yuk, kita praktikkan!