Pangkostrad Edi Rahmayadi yang terpilih menjadi ketua umum PSSI. (Foto: Antara)

KBR, Jakarta- Kongres Persatuan Sepak Bola Seluruh Indonesia PSSI akhirnya memilih Edi Rahmayadi sebagai ketua umum PSSI, periode 2016-2020. Edi mengalahkan 5 kandidat lainnya. Pasalnya 2 kandidat lainnya, Erwin Aksa dan Toni Apriliani, menyatakan mundur dari bursa pencalonan. Sementara Djohar Arifin didiskualifikasi panitia.

Dalam pemilihan yang dilakukan melalui pemungutan suara ini, Edy   memperoleh 76 suara. Saingan terdekatnya yang juga berasal dari kalangan militer, Bekas Panglima TNI Moeldoko, memperoleh 23 suara. Sementara Edi Rumpoko memperoleh 1 suara. Total suara yang masuk mencapai 107 suara dengan 7 suara dinyatakan tidak sah.

Edi Rahmadi saat ini masih menjabat sebagai Panglima Komando Strategis Angkatan Darat (Pangkostrad). Dia merupakan anggota militer angkatan 1985. Sejumlah jabatan yang pernah diembannya antara lain Komandan Kodim 0316/Batam, Kodam I/Bukit Barisan (2002), Kepala Staf Korem 031/Wirabraja, Kodam I/Bukit Barisan (2004), Komandan Resimen Taruna Akademi Militer (2010), dan Panglima Kodam I/Bukit Barisan (2015).

Joko Driyono Waketum PSSI

Sementara itu, Joko Driyono memperoleh suara terbanyak untuk duduk sebagai wakil ketua umum PSSI 1 periode 2016-2020. Dari 107 suara sah, dia memperoleh 78 suara. Dia berhasil menyisihkan 15 calon lainnya. Diantaranya Iwan Budianto yang memperolah 73 suara menjadi Waketum 2, Erwin Aksa 31 suara, Hinca Panjaitan 22 suara, Andi Rukman, Erwin Budiawan dan Hadiyandra masing-masing 1 suara. Dari total yang masuk, 2 suara dinyatakan tidak sah.

Joko Driyono sudah aral melintang di dunia persepakbolaan tanah air. Sebelumnya dia pernah menjabat sebagai Sekjen PSSI pada 2013.  Dia juga pernah menjabat sebagai CEO PT Liga Indonesia yang mengelola dan menjalankan kompetisi sepak bola Indonesia.  

Editor: 

Bagikan berita ini :

Komentar

Beri Komentar

KBR percaya pembaca situs ini adalah orang-orang yang cerdas dan terpelajar. Karena itu mari kita gunakan kata-kata yang santun di dalam kolom komentar ini. Kalimat yang sopan, menjauhi prasangka SARA (suku, agama, ras dan antargolongan), pasti akan lebih didengar. Yuk, kita praktikkan!