Konflik lahan, petani Majalengka menolak pengukuran lahan untuk pembangunan Bandara. (Sumber: Medsos)


KBR, Jakarta- Petani Desa Sukamulya, Majalengka, Jawa Barat tengah menyusun sejumlah poin negosiasi yang akan diajukan kepada pemerintah terkait pembebasan lahan mereka. Menurut Ketua LBH Bandung, Arip Yogiawan ada beberapa hal yang akan masuk dalam pembahasan itu. Salah satunya soal besaran ganti rugi yang adil bagi petani dan soal relokasi.

Menurutnya, pembebasan lahan yang dilakukan pemerintah tidak sesuai dengan amanat Peraturan Presiden Nomor 30 Tahun 2015 tentang penyelenggaran tanah bagi pembangunan untuk kepentingan umum. Dalam Perpers itu jelas disebutkan harus ada kontribusi publik yang dilakukan pemerintah. Namun kenyataannya tidak ada pelibatan ataupun sosialisasi kepada petani.

"Yang harus ditentukan adalah konsep yang ditawarkan oleh warga seperti apa. (Warga tetap meminta relokasi, tidak hanya ganti rugi?) ini sedang dibicarakan, saya belum tahu hasilnya. Tetapi pembicaraan relokasi itu ada. Cuman relokasi itu, harus relokasi yang manusiawi dong," ujarnya kepada KBR, Selasa (22/11/2016)

Dia juga mengatakan masih menunggu tindaklanjut dari hasil pertemuan dengan Kantor Staf Presiden KSP di Sukamulya beberapa waktu lalu.

"KSP fasilitator sebenarnya. Karena tidak hanya menemui petani tetapi pihak lain, pemerintah provinsi. Memang bolanya sekarang ada di KSP," katanya.

Meski kondisi situasi di Desa Sukamulya, Kertajati, Majalengka, Jawa Barat, sudah berangsur normal, namun masih banyak warga yang terus berdatangan ke Balai Desa untuk mengetahui perkembangan informasi.

Sementara itu juru bicara Kepolisian Jawa Barat Yusri Yunus mengatakan bahwa anggotanya yang dikerahkan ke Desa Sukamulya sudah kembali ke markas sehari pasca proses pengukuran lahan yang akan dijadikan Bandara Internasional Jawa Barat (BIJB) akhir pekan lalu.

Kepolisian hanya menempatkan beberapa petugas dari Polsek dan Polres untuk melakukan patroli di desa tersebut.


Editor: Rony Sitanggang

Bagikan berita ini :

Komentar

Beri Komentar

KBR percaya pembaca situs ini adalah orang-orang yang cerdas dan terpelajar. Karena itu mari kita gunakan kata-kata yang santun di dalam kolom komentar ini. Kalimat yang sopan, menjauhi prasangka SARA (suku, agama, ras dan antargolongan), pasti akan lebih didengar. Yuk, kita praktikkan!