Polisi mengintip rumah bekas markas Gafatar yang ditinggalkan penghuninya, pada Januari 2016. (Foto: Muh Ridlo/KBR)


KBR, Cilacap – Puluhan warga Cilacap Jawa Tengah yang pernah menjadi anggota kelompok Gerakan Fajar Nusantara (Gafatar) dan tinggal di Kalimantan telah kembali ke Cilacap pada Januari lalu. Namun, belakangan mereka kembali meninggalkan kampung halaman.

Sebagian besar dari warga eks Gafatar itu memilih tinggal di luar Cilacap bersama sanak famili yang masih ada.

Baca: Pemerintah Terbitkan SKB Pelarangan Kegiatan Gafatar    

Kepala Badan Kesatuan Bangsa dan Politik (Kesbangpol) Cilacap, Subiharto mengatakan warga itu meninggalkan Cilacap bukan karena lingkungannya tidak mau menerima, melainkan karena warga eks Gafatar sudah menjual habis aset mereka di kampung halaman.

"Kalau di penampungan sudah tidak ada. Tetapi ada sebagian yang ke saudaranya di Semarang. Ada yang ke Bandung. Kita sudah mengembalikan (ke kampung halamannya) tetapi mereka kan butuh makan, harus bekerja. Di sini mereka mungkin bingung mau bekerja apa. Jadi ada yang ikut saudaranya ke Semarang atau ke Bandung untuk mencari kerja. Kan hartanya sudah dijual untuk dipindah semua ke Kalimantan," jelas Subiharto di Cilacap, Kamis (24/11/2016).

Baca: Pasca SKB, KontraS: Pengembalian Aset Eks Gafatar Berpotensi Dipersulit   

Pada Januari hingga Februari 2016 lalu, sekitar 30-an eks anggota Gafatar ditampung sementara di Wisma Transmigrasi milik Dinas Sosial Tenaga Kerja dan Transmigrasi Cilacap.

Subiharto mengatakan para eks anggota Gafatar itu sebelumnya sudah dikembalikan ke kampungnya masing-masing tersebut. Namun, mereka bingung lantaran seluruh harta mereka telah dijual.

Dari pengakuan eks anggota Gafatar, hasil penjualan harta itu digunakan untuk membeli aset di Mempawah, Kalimantan Barat.

Pemerintah Cilacap pun mendorong dinas-dinas terkait supaya memberi ketrampilan kepada bekas anggota Gafatar sebelum dikembalikan ke rumahnya masing-masing.

Namun, ternyata banyak yang memilih hidup di luar kampung halaman.

Subiharto menegaskan sebagian besar masyarakat di Cilacap tidak mempersoalkan kembalinya warga yang pernah menjadi anggota Gafatar.

Subiharto tidak bisa memastikan berapa jumlah anggota gafatar asal Cilacap. Namun, menurut dia jumlahnya berkisar 50-an orang. Dia mengaku kesulitan mendata lantaran banyak yang mengaburkan tanda kependudukan.

Pengurus organisasi Gafatar pernah mendaftarkan dir ke Kesbangpol Cilacap pada 2015, namun ditolak karena belum ada Surat Keterangan Terdaftar (SKT) di tingkat provinsi Jawa Tengah.

Untuk menjamin keamanan warga eks gafatar dan warga minoritas lainnya, Kesbangpol Cilacap bekerjasama dengan Forum Kerukunan Antar Umat Beragama (FKUB) untuk melakukan sosialisasi toleransi.

Baca: Kisah Suratmi Eks Gafatar, Dari KTP Disita Hingga Keguguran   

Editor: Agus Luqman  

Bagikan berita ini :

Komentar

Beri Komentar

KBR percaya pembaca situs ini adalah orang-orang yang cerdas dan terpelajar. Karena itu mari kita gunakan kata-kata yang santun di dalam kolom komentar ini. Kalimat yang sopan, menjauhi prasangka SARA (suku, agama, ras dan antargolongan), pasti akan lebih didengar. Yuk, kita praktikkan!