Ilustrasi: Sandera Abu Sayyaf saat tiba di tanah air. (Foto: Antara)


KBR, Nunukan- Sebanyak dua warga negara Indonesia (WNI) yang  bekerja di   Malaysia  menjadi korban penculikan komplotan bersenjata dari Filipina pada Sabtu (19/11/2016). WNI  bernama Saparuddin dan Sawar diculik   saat melaut di perairan Sabah Malaysia.

Kapal yang bernomor lambung TW 1738-6-F   membawa 13 hingga 15 ABK yang berasal dari Indonesia dan satu ABK berasal dari Filipina dihampiri gerombolan bersenjata  saat berada di sekitar perairan  Pulau Gaya dengan Pulau Pelda Sahabat Tungku, Lahat Datu, perairan Sabah Malaysia pada pukul 22:30 Wita. Kapal tersebut rencananya akan kembali ke pangkalan mereka di Kunak Sabah usai melaut.

Konsulat Indonesia di Tawau Malaysia enggan berkomentar ketika dimintai keterangan seputar penculikan. Konsulat RI di Tawau Malaysia meminta awak media langsung menanyakan penculikan 2 TKI langsung ke kementerian luar negeri.

“Terkaitpenculikan 2 WNI mohon menghubungi pusat saja ya, Dir Perlindungan WNI dan BHI, Kemenlu,” tulis Krisna Jelani Konsulat RI di Tawau Malaysia melalui media sosial Whatss app Senin (21/22/2016).

Kementerian Luar Negeri membenarkan soal kabar disanderanya kembali dua orang warga negara Indonesia di perairan Sabah, Malaysia akhir pekan lalu. Menteri Luar Negeri, Retno Marsudi mengatakan,   langsung  berkomunikasi dengan pihak Malaysia dan Filipina setelah mendapatkan kabar  tersebut kemarin.

"Intinya saya kembali lagi meminta perhatian mereka. Saya tidak akan habis atau berhenti untuk memintakan perhatian mereka. Karena isu ini lah yang saya bawa saat saya berkunjung terakhir ke kuala lumpur, kinabali dan pesanggakan," ujarnya kepada wartawan di Istana Negara, Jakarta, Senin (21/11).

Menlu mendesak pemerintah  kedua negara  soal komitmen kerja sama dalam menjaga keamanan perairan antar Malaysia dan Filipina. Menurut dia, hal itu sangat penting mengingat 80 persen dari ABK dan nelayan yang mencari ikan di wilayah Sabah dan sekitarnya adalah nelayan-nelayan indonesia.

"Saya sudah berbicara kepada mereka dari hati ke hati. Saya sudah sampaikan laporan kepada Bapak Presiden dan saya juga tekankan mengenai pentingnya bagi Pemerintah dan otoritas Malaysis untuk meningkatkan keamanan di wilayah air mereka karena sudah sangat jelas ini kesepakatan yang sudah disetujui saat kita bicara bertiga pada bulan Mei," ucapnya.

Dia menambahkan rencananya pada 23 November mendatang, Menteri Pertahanan ketiga negara bakal kembali melakukan pertemuan untuk membahas masalah penculikan ini. Kata dia, dalam pertemuan itu nantinya bakal dibahas masalah-masalah teknis dalam upaya penyelamatan sandera dan pengamanan wilayah perairan ketiga negara.

"Kalo kerjasama sudah beralih ke hal yang sifatnya teknis itu dilakukan oleh Menteri Pertahanan, oleh Panglima dan sebagainya. Penguatan wilayah air tidak hanya di perairan Sulu, di jalur batubara kita. Tapi perairan di wilayah Malaysia dimana nelayan kita bekerja. saya sudah melakukan pertemuan dengan asosiasi pemilik kapal di Sabah.  Jadi dari semua layers sudah kita temui kita sampaikan concern kita dan di sini juga sudah saya sampaikan kepada Bapak Presiden." Tandas Retno. 


Sementara itu Tentara Nasional Indonesia (TNI) mengklaim masih memantau perkembangan penculikan dua pelaut asal Majene, Sulawesi Barat. Panglima TNI, Gatot Nurmantyo mengatakan saat ini kedua sandera Warga Negara Indonesia (WNI) itu telah dibawa ke Filipina.

"Ya disandera aja udah, perkembangannya saya masih monitor tapi sudah dibawa ke Filipina. Tapi yang jelas semua yang disandera itu di laut Malaysia," kata Gatot Nurmantyo di Gedung Kemenko Maritim, Jakarta, Senin (21/11/2016).

Meski begitu, Gatot tak berkomentar banyak terkait penculikan dua WNI tersebut.

Dua sandera itu diketahui bernama Syafaruddin dan Syawal. Mereka diduga diculik oleh kelompok militan Abu Sayyaf. Dua orang itu bekerja Sabah di Malaysia sejak setahun lalu.

Saat ini tercatat, masih terdapat lima orang yang disandera dalam kasus penculikan beberapa waktu terakhir. 1 orang pada Agustus, 2 orang pada 5 November dan 2 orang pada 19 November lalu.


Editor: Rony Sitanggang

Bagikan berita ini :

Komentar

Beri Komentar

KBR percaya pembaca situs ini adalah orang-orang yang cerdas dan terpelajar. Karena itu mari kita gunakan kata-kata yang santun di dalam kolom komentar ini. Kalimat yang sopan, menjauhi prasangka SARA (suku, agama, ras dan antargolongan), pasti akan lebih didengar. Yuk, kita praktikkan!