Puluhan Senjata BNN Tertahan di Bandara Bengkulu

Pengiriman senjata itu diketahui setelah 10 koli paket itu terdeteksi sinar X di Bandara Fatmawati, Bengkulu. Senjata itu merupakan senjata laras Saiga-12C EXP-01, kaliber 18,3 mm buatan Rusia.

Kamis, 05 Okt 2017 10:42 WIB

Ilustrasi petugas BNN bersenjata. (Foto: tribratanews.polri.go.id)

AUDIO

{{ currentTime | hhmmss }} / {{ track.duration / 1000 | hhmmss }}

KBR, Jakarta - Badan Narkotika Nasional (BNN) membenarkan puluhan senjata mereka tertahan di Bandara Fatmawati, Bengkulu. BNN menyebut penahanan itu karena ada kesalahan komunikasi antara kargo di Bandara Soekarno Hatta, Tangerang dan kargo di Bandara Fatmawati, Bengkulu.

Juru bicara BNN, Sulistiandriatmoko mengatakan senjata BNN itu rencananya akan dikirim ke BNN Provinsi Bengkulu. Namun Sulis mengklaim senjata itu merupakan senjata organik BNN yang memiliki dokumen resmi.

Sulis mengatakan waktu masih di Bandara Soekarno Hatta, pihak Garuda menyarankan agar pengiriman senjata dilakukan melalui kargo. Namun pesawat yang membawa senjata tersebut, sudah berangkat lebih awal. Sehingga anggota BNN yang membawa dokumennya, baru bisa berangkat belakangan.

"Terjadi salah komunikasi antara bandara Soekarno Hatta dengan Cargo di Fatmawati, Bengkulu. Cargo di Soetta tidak memberikan data item senjata itu kepada kargo Garuda di Bengkulu. Sehingga wajar Bandara Fatmawati, Bengkulu curiga," kata Sulistiandriatmoko saat dihubungi KBR, Kamis (5/10/2017).

Menurut penjelasan Sulis, pihak Bandara Fatmawati Bengkulu curiga dengan kiriman barang itu dan melaporkan temuan itu ke Korem setempat. Pada saat dilakukan pemeriksaan kiriman senjata, anggota yang membawa dokumen resmi baru datang.

"Ketika ingin menjelaskan situasinya sudah tidak mungkin, karena sedang dilakukan pemeriksaan. Jadi rencananya hari ini akan dilakukan pencocokan fisik dengan dokumen. Jika cocok, berarti senjata itu legal," kata Sulistiandriatmoko.

Senjata yang tertahan merupakan senjata organik BNN yang dibeli 2016. Pembelian senjata itu direncanakan sejak 2015. 

"Jadi itu sudah sejak lama. Itu senjata laras panjang, digunakan untuk menghancurkan gembok," kata Sulis.

Pengiriman senjata itu diketahui setelah 10 koli paket itu terdeteksi sinar X di Bandara Fatmawati, Bengkulu. Senjata itu merupakan senjata laras Saiga-12C EXP-01, kaliber 18,3 mm buatan Rusia.

Selain itu, terdapat juga 21 senjata genggam CZ P-07 kaliber 22 mm buatan Republik Cek, 42 sarung pistol dan 21 buah rompi anti peluru.

Baca juga:

Editor: Agus Luqman 

Komentar

Beri Komentar

KBR percaya pembaca situs ini adalah orang-orang yang cerdas dan terpelajar. Karena itu mari kita gunakan kata-kata yang santun di dalam kolom komentar ini. Kalimat yang sopan, menjauhi prasangka SARA (suku, agama, ras dan antargolongan), pasti akan lebih didengar. Yuk, kita praktikkan!

Lies Marcoes Bicara Soal Perempuan dan Anak Dalam Terorisme

  • Begini Kata Wapres JK soal Ricuh di Mako Brimob
  • Perlambat Izin Usaha, Jokowi Siap Hajar Petugas

152 Napiter Mako Brimob Ditempatkan di 3 Lapas Nusakambangan

  • Abu Afif, Napi Teroris dari Mako Brimob Dirawat di Ruang Khusus RS Polri
  • Erupsi Merapi, Sebagian Pengungsi Kembali ke Rumah
  • Jelang Ramadan, LPG 3 Kg Langka di Rembang

Konflik agraria dari tahun ke tahun terus naik. Konsorsium Pembaruan Agraria (KPA) mencatat terjadi 600an konflik agraria sepanjang tahun lalu, meningkat 50 persen dibandingkan 2016.