Indikator: Isu SARA-PKI Tetap Pengaruhi Elektabilitas Jokowi

Dari survei yang dilakukan Indikator, ada sekitar lima sampai 13 persen yang tidak mau memilih Jokowi karena Jokowi dianggap keturunan PKI.

Kamis, 12 Okt 2017 10:01 WIB

Polisi mengusut buku

KBR, Jakarta - Direktur Eksekutif lembaga survei Indikator Politik Indonesia, Burhanuddin Muhtadi mengatakan penyebaran isu SARA beberapa waktu gagal menjatuhkan tingkat elektabilitas atau tingkat keterpilihan Presiden Joko Widodo.

Burhanuddin mengatakan berbagai isu yang menyebut 'Jokowi keturunan PKI' maupun Jokowi melakukan 'kriminalisasi ulama' tidak berpengaruh besar pada tingkat kepercayaan masyarakat terhadap Jokowi.

"Kita harus ingat begitu masifnya kampanye yang menyebut Jokowi melakukan kriminalisasi ulama, Jokowi dianggap keturunan PKI. Ternyata yang percaya secara presentase relatif sedikit. Sedikit atau banyak dalam konteks statistik itu relatif. Kita bandingkan berdasarkan apa? Tapi berdasarkan konteks betapa masifnya isu tadi dibangun untuk menghantam Jokowi, ada sekitar lima sampai 13 persen yang masih percaya itu merupakan bentuk kegagalan, dari kelompok yang mencoba menggoreng isu tersebut untuk menghantam Jokowi," kata Burhanuddin di Jakarta, Rabu (11/10/2017).

Meski begitu, Burhanuddin mengatakan bukan berarti isu SARA maupun isu PKI yang sempat menimpa Jokowi tidak berpengaruh pada pemilih. Dari survei yang dilakukan, ada sekitar lima sampai 13 persen yang tidak mau memilih Jokowi karena Jokowi dianggap keturunan PKI. 

"Memang tergantung kita melihatnya bagaimana. Kalau lima sampai 13 persen isu SARA, komunisme dan agama dari proporsi itu memang terlihat kecil. Tapi kalau dilihat dari banyaknya pemilih kita 180-an juta, jumlah itu besar. Dan jika pemilu 2019 kompetitif lima sampai 13 persen ini juga tetap menentukan," kata Burhanuddin.

Burhanuddin menambahkan berdasarkan data survei Jokowi memang memiliki peluang untuk menang di Pemilu 2019. Namun, namun bukan berarti saat ini posisinya aman. Burhan mencontohkan lawan Jokowi di pemilihan selanjutnya kemungkinan adalah Prabowo. Padahal, sejak 2014 hingga 2017 Prabowo tidak pernah terlihat berkampanye, namun tetap memiliki basis besar pemilih yang masih akan mendukungnya.

"Sampai saat ini Pak Prabowo masih menjaga basis loyalisnya untuk mendukung dia. Meski Pak Prabowo asyik di Hambalang, dia sudah punya basis hingga 1/3 pemilih yang akan memilih dirinya. Padahal dia belum melakukan apapun. Bayangkan, saat Desember 2014 lalu Prabowo head to head modal hanya 27 persen, ternyata di akhir penghitungan dia dapat 47 persen. Artinya dia adalah juru kampanye yang baik," kata Burhanuddin. 

Burhan menegaskan, kendati Jokowi memiliki nilai tertinggi dibanding kandidat calon presiden lain, perjuangan Jokowi belum selesai untuk 2019, bahkan belum dimulai.

Baca juga:

Editor: Agus Luqman 

Komentar

Beri Komentar

KBR percaya pembaca situs ini adalah orang-orang yang cerdas dan terpelajar. Karena itu mari kita gunakan kata-kata yang santun di dalam kolom komentar ini. Kalimat yang sopan, menjauhi prasangka SARA (suku, agama, ras dan antargolongan), pasti akan lebih didengar. Yuk, kita praktikkan!

SPDP Pemimpin KPK, Jokowi Minta Tak Gaduh

  • Wiranto: Jual Saja Lapas Cipinang untuk Bangun Lapas di Pulau Terpencil
  • Gubernur Yogyakarta Pastikan Tindak Tegas Pelaku Aksi Intoleransi
  • Sebagai Panglima Tertinggi, Jokowi Perintahkan Bawahannya Tak Bikin Gaduh
  • Kalau Tak Setuju Ide Tes Keperawanan, Jangan Menyerang!
  • Jokowi: Kita Lebih Ingat Saracen, Ketimbang Momentum

KPK Minta Opini Alternatif, IDI Siapkan Pemeriksaan terhadap Novanto

  • Ratusan Warga Non-Papua Keluar dari Lokasi Konflik Tembagapura
  • Jokowi Minta DPD Dukung Pembangunan Daerah
  • Satgas Temukan Kayu-kayu Hasil Pembalakan Liar Hutan Lindung di Nunukan

“Jadi orang malah jadi keluar masuk untuk merokok, berapa waktu yang terbuang,” kata Tari Menayang dari Komnas Pengendalian Tembakau