Konflik lahan petani Telukjambe Barat, Karawang, Jawa Barat. (Foto: KBR/Ninik Y.)



KBR, Jakarta- Sekitar 5 keluarga masih bertahan di lokasi sengketa lahan Desa Wanakerta, Wanajaya dan Margamulya, Kecamatan Telukjambe Barat, Kabupaten Karawang, Jawa Barat. Dari pantauan KBR  mayoritas rumah semi permanen sudah rata dengan tanah. Ada juga beberapa rumah masih utuh dengan perabot di dalamnya.

Menurut salah satu warga Jaiman (70) dia dan keluarganya menolak pindah karena uang ganti rugi hanya Rp 30 juta. Selain itu, menantunya juga saat ini mendekam dalam tahanan Polres Karawang karena bentrokan warga dan pengembang.

"Belum pindah ya tempatnya belum ada, saya dari tahun 50-an.Dulu saya di Ciptagalih, kaya gini juga diusir. Saya nunggu tempat. Kemarin mantu saya ribut-ribut, padahal dia tidak ikut. Sudah berapa malam ditahan. Saya minta itu dulu. Saya pengennya kalau 50 saya ambil karena tanah di kampung mahal, semeter bisa sajuta. Janjinya Rp 30 juta," jelas Jaiman saat ditemui KBR, Rabu (19/10).

Pantaun KBR terdapat dua gerbang  yang dijaga ketat oleh pasukan pengamanan internal perusahaan PT Pertiwi Lestari.Terlihat juga tenda polisi dan Brimob yang berjaga-jaga di lahan sengketa tersebut.

Untuk masuk ke area mesti menjalani pemeriksaan seperti pencatatan identitas dan keperluan. Suasana desa terlihat sepi hanya terlihat aparat keamanan dengan menggunakan motor trail dan mobil bak terbuka yang melakukan patroli.

Juru bicara PT Pertiwi  Lestari Maryadi mengatakan, perusahaannya memiliki legalitas kepemilikan lahan. Kata dia, perusahaan membuka diri untuk berdialog dan memberikan uang ganti rugi Rp 30 juta per rumah.

"Kita kasih uang ganti rugi per rumah 30 juta. Kalau mau diantar dan rumah dibongkar kita sediakan jasa bongkar dan jasa antar. Kalau mau rumah relokasi juga kita kasih. Kita persilakan warga kalau malam mau masuk lihat ternaknya atau rumahnya," katanya.

Maryadi mengklaim perusahaan kooperatif dan sudah melakukan sosialisasi selama beberapa bulan terakhir.

"Kita undang warga, kita fasilitasi, kita ajak dialog di rumah makan." katanya.

Intimidasi

Juru bicara Kepolisian Jabar  Yusri Yunus berjanji akan memeriksa   laporan adanya intimidasi aparat keamanan terhadap petani Telukjambe Barat. Yusri mengaku belum mengetahui permasalahan yang terjadi hingga para petani datang ke Jakarta untuk melapor ke Mabes Polri.

Yusri hanya mengetahui bahwa konflik petani dan PT Pertiwi Lestari adalah konflik lama.

"Intimidasi seperti apa itu kan laporan sepihak. Tapi kita akan cek juga dia punya kebenaran laporan itu apakah betul. Kalau memang itu betul laporannya ya kita akan proses sekalian bikin laporan. Tapi kalau laporan sepihak saja ternyata memang tanah itu milik PT itu, kan tidak bisa inikan kalau sudah inkrah, saya cek dulu," papar Yusri kepada KBR (19/10/2016).

Yusri membantah anggota kepolisian melakukan sweeping. Dia berdalih  tugas polisi  hanyalah melakukan pengamanan.

"Tidak, tidak ada sweeping. Nggak mungkinlah masak kita mau berat sebelah. Ngga ada itu. Kita di garis tengah mengamankan yang bersengketa," ujar Yusril.

Sebelumnya, Sekretaris Jenderal Serikat Petani Karawang, SEPETAK, Engkos Koswara menyebut, para petani itu mengalami intimidasi dari aparat keamanan, maupun para preman perusahaan.

"Intimidasi kian hari kian mencekam. Tiap-tiap rumah digedor oleh aparat keamanan, dan juga dibantu para preman dari perusahaan. Mereka sweeping laki-laki. Bahkan ada beberapa hewan ternak yang diduga diracun," ungkap Engkos.

Baca: 9 Petani Masih Ditahan

Sebelumnya, lebih dari seribu warga terpaksa mengungsi dari Desa Margakaya, Desa Margamulya dan Desa Wanajaya lantaran berkali-kali mendapat ancaman dan intimidasi dari aparat dan preman perusahaan tersebut. Mereka mengosongkan tiga desa itu usai menjadi korban konflik lahan dengan perusahaan pengembang PT Pertiwi Lestari.

Hari ini, para petani yang mencari perlindungan ke Jakarta berunjuk rasa di Mabes Polri. Mereka meminta polisi membebaskan para petani dan menghentikan intimidasi kepolisian Karawang. Para petani juga akan menggelar aksi di Istana juga mengadu ke DPR dan Komnas HAM pekan ini.

Selasa (11/10/2016) lalu, petani bentrok dengan petugas PT.  Pertiwi Lestari  di lahan sengketa di Teluk Jambe Barat, Karawang, Jawa Barat.

Petani menggarap lahan itu karena dianggap ditelantarkan perusahaan sejak 2010. Namun perusahaan telah mengantongi HGB dan IMB sejak 1998 dan mengklaim tidak menelantarkan area tersebut. Rencananya kawasan itu akan dijadikan kawasan industri.


Editor: Rony Sitanggang 


Bagikan berita ini :

Komentar

Beri Komentar

KBR percaya pembaca situs ini adalah orang-orang yang cerdas dan terpelajar. Karena itu mari kita gunakan kata-kata yang santun di dalam kolom komentar ini. Kalimat yang sopan, menjauhi prasangka SARA (suku, agama, ras dan antargolongan), pasti akan lebih didengar. Yuk, kita praktikkan!