Bekas PM Portugal, Antonio Guterres menuju kursi Sekjen PBB. (Foto: Eric Bridiers/Wikimedia/Public Domain)

KBR - Bekas Perdana Menteri Portugal Antonio Guterres difavoritkan menjadi Sekretaris Jenderal Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) yang baru.

Antonio Guterres merupakan bekas Komisaris Tinggi di Badan PBB untuk Pengungsi (UNHCR) periode 2005-2015.

Namanya berada di urutan teratas dari 10 kandidat, dalam jajak pendapat sementara di antara anggota Dewan Keamanan Perserikatn Bangsa-bangsa (PBB).

Duta Besar Rusia di PBB Vitaly Churkin mengatakan, dari 15 anggota DK PBB, 13 anggota memberikan dukungan bulat kepada Antonio Guterres. Sedangkan ada dua suara yang abstain, namun tidak ada yang menolak sama sekali.

"Setelah menggelar jajak pendapat keenam kalinya, kami mendapatkan kandidat yang kuat dan dia adalah Antonio Guterres," kata Vitaly.

Proses pemilihan Sekjen PBB dimulai di Dewan Keamanan PBB---badan paling berkuasa di PBB, dimana 15 anggota memberikan suaranya secara rahasia terhadap para calon. Surat suara berisi pilihan: mendorong (encourage), menolak (discourage), dan abstain (no opinion).

Dalam pemilihan itu, Antonio Guterres mendapat dukungan tertinggi; 13 dukungan, tidak ada yang menolak, serta dua abstain.

Kandidat kedua, Mirslav Lajcak dari Slovakia mendapatkan dukungan tujuh suara, namun ada enam suara menentang. Dua suara yang menentang adalah anggota tetap di Dewan Keamanan PBB.

Pada Kamis (6/10/2016) pagi, Dewan Keamanan PBB akan memutuskan apakah akan melakukan pemungutan suara lagi atau aklamasi untuk menominasikan Antonio Guterres sebagai Sekjen PBB yang baru.

Jika dua suara yang abstain terhadap Antonio Guterres bisa mengubah menjadi mendukung, maka Dewan Keamanan PBB akan secara bulat menominasikan Antonio Guterres sebagai calon Sekjen PBB yang baru.

Selanjutnya, DK PBB---sebagai badan paling berkuasa di PBB--akan membawa nama Antonio Guterres untuk disetujui secara resmi di Sidang Umum PBB.

Setelah itu, Sekjen PBB yang baru akan menggantikan Ban Ki-moon pada Januari 2017 mendatang.

Mengejutkan

Munculnya nama Antonio Guterres, 67 tahun, yang mendapat dukungan banyak itu cukup mengejutkan. Sebelumnya para pengamat memperkirakan pemilihan Sekjen PBB bakal berlarut-larut hingga akhir Oktober, karena banyak negara kuat yang ingin memunculkan kandidat mereka sendiri.

Mengejutkan juga ketika Rusia yang diperkirakan menentang Guterres, justru mendukung wakil dari Eropa barat tersebut. Padahal sebelumnya Rusia menginginkan agar Sekjen PBB berasal dari Eropa timur.

Nama Antonio Guterres, lebih populer di kalangan para diplomat di PBB dibanding sejumlah kandidat lain.

Usai menjabat Perdana Menteri Portugal pada 1995-2002, ia mengabdikan diri di komunitas internasional. Antonio Guterres memimpin Badan PBB untuk Pengungsi (UNHCR) dari 2005-2015.

Berlatar belakang sebagai pengusaha, Guterres masuk kancah politik pada 1976. Ia mengikuti pemilu demokratik pertama di Portugal pasca ambruknya kekuasaan diktator Antonio de Oliveira Salazar lewat Revolusi Bunga.

Guterres merangkak cepat di dunia politik dengan menjadi pemimpin Partai Soslialis pada 1992, dan terpilih sebagai perdana menteri pada 1995.

Ia menjabat perdana menteri selama dua periode, dan sempat memimpin Dewan Uni Eropa. Namun konflik di internal partai membuatnya memutuskan mundur dari jabatan Perdana Menteri Portugal.

Guterres juga anggota Klub Madrid---organisasi nonprofit yang berisi bekas presiden dan perdana menteri dari 57 negara.

Saat memimpin UNHCR ia membawa lembaganya ke negara-negara yang mengalami krisis pengungsi sangat parah seperti Suriah, Afghanistan dan Irak. Ia berulang kali mendorong negara-negara Barat untuk melakukan lebih banyak lagi tindakan guna membantu para pengungsi, dimana jutaan orang meninggalkan negara asalnya karena konflik. (BBC/Guardian/CNN) 

Bagikan berita ini :

Komentar

Beri Komentar

KBR percaya pembaca situs ini adalah orang-orang yang cerdas dan terpelajar. Karena itu mari kita gunakan kata-kata yang santun di dalam kolom komentar ini. Kalimat yang sopan, menjauhi prasangka SARA (suku, agama, ras dan antargolongan), pasti akan lebih didengar. Yuk, kita praktikkan!