Ilustrasi (sumber: Setkab)



KBR, Jakarta- Menteri Perhubungan Budi Karya Sumadi menargetkan studi kelayakan    kereta semi cepat Jakarta Surabaya bisa rampung akhir 2016. Budi mengatakan, saat ini pemerintah tengah menunggu proposal teknis pembangunan kereta semi cepat itu dari pemerintah Jepang.

Kata dia, surat resmi penawaran pembangunan proyek itu sudah diserahkan pemerintah Indonesia kepada Jepang.

"Kami minta dari Jepang untuk memberikan semacam proposal apa yang dimaksud dan apa saja yang akan dikerjakan. Justru di proposal itu akan mengatakan bisa, misalnya dengan rel yang ada, tetapi menghilangkan lintasan sebidang. Kan ada tahapan namanya FS (feasibility study), perencanaan, pembangunan, paling tidak 3 sampai 4 tahun. FS paling 2 sampai 3 bulan, maksimal," kata Budi di kantor Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian, Selasa (11/10/16).

Budi mengatakan, proyek kereta semi cepat Jakarta-Surabaya akan berkecepatan 180 sampai 200 kilometer per jam. Kata dia, saat ini pemerintah masih menunggu proposal tentang studi kelayakan proyek dari Jepang. Menurutnya, studi itu akan mempertimbangkan jenis rel dan sistem perkeretaapian yang sesuai dibangun di lintasan Jakarta-Surabaya. Pasalnya, kata dia, di sepanjang jalur itu masih ada sekitar seribuan perlintasan sebidang.

Budi berujar, jalur kereta sebidang pada rute Jakarta-Surabaya harus dihilangkan. Alasannya, jalur sebidang atau persilangan antara jalur kereta dengan jalan masih sangat banyak ditemui. Selain itu, jalur kereta semi cepat itu juga akan berupa rel ganda. Rel ganda itu memungkinkannya pemanfaatannya tidak hanya untuk kereta, melainkan juga untuk operasi angkutan peti kemas dry port antara Jakarta-Semarang-Surabaya.

Sebelumnya, Menteri Koordinator Bidang Maritim Luhut Panjaitan menyatakan sudah mengirim surat resmi kepada Pemerintah Jepang untuk dapat mengerjakan proyek kereta semi cepat itu. Luhut juga menyatakan yakin dengan teknologi Jepang sangat sesuai untuk proyek itu. Katanya, saat berkunjung ke Jepang pekan lalu, dia sudah bertemu dengan Perdana Menteri Shinzo Abe, Menteri Pertanahan, Infrastruktur, Transportasi dan Pariwisata Keiichi Ishii, dan Wakil Menteri Luar Negeri Shinsuke Sugiyama.

Editor: Rony Sitanggang
 

Bagikan berita ini :

Komentar

Beri Komentar

KBR percaya pembaca situs ini adalah orang-orang yang cerdas dan terpelajar. Karena itu mari kita gunakan kata-kata yang santun di dalam kolom komentar ini. Kalimat yang sopan, menjauhi prasangka SARA (suku, agama, ras dan antargolongan), pasti akan lebih didengar. Yuk, kita praktikkan!