Ilustrasi toleransi beragama. Foto: Antara


KBR, Jakarta- Kementerian Agama (Kemenag) telah menerima informasi penolakan ibadah dan pembangunan gereja GBKP Pasar Minggu, Jakarta Selatan pada Minggu (2/20) pagi tadi. Meski demikian, juru bicara Kemenag, Syafrizal Sofyan, belum mau berkomentar banyak terkait kasus ini. 


"Iya saya dapat berita itu, ini kan masalah sensitif. Biar saya konfirmasi dulu ke kawan-kawan di Katolik atau Kristen. Nanti salah informasi bukannya menyejukkan malah bikin resah. ini kan antar umat beragama ini," ujar Syafrizal kepada KBR (02/10/2016)

Ia pun menjanjikan akan menurunkan tim yang terdiri dari FKUB dan juga Bimas Kristen dalam mengumpulkan informasi. Karena menurutnya, informasi yang salah dapat meresahkan masyarakat karena isunya sensitif.  
 
"Kan harus ada tim itu ada FKUB, Forum Komunikasi Umat Beragama, ada nanti dari teman-teman bimas Kristen yang akan nanti kita turunkanlah," tutupnya.

Baca: Liput Aksi Penolakan Pembangunan Gereja di Pasar Minggu, Reporter KBR Dihalangi Massa Intoleran

Spanduk penolakan ibadah dan pembangunan Gereja GBKP Pasar Minggu terpasang dengan bunyi: "Kami Warga Tanjung Barat RT 04 Menolak Adanya Kegiatan Peribadatan & Pembangunan Gereja di Wilayah Kami."

Wali Kota Jakarta Selatan Tri Kurniadi menyebut warga masih tetap dengan sikap menolak kehadiran gereja GBKP Pasar Minggu meski telah dilakukan pertemuan tertutup hari ini tanpa pihak gereja. Menurutnya, Pemkot Jakarta Selatan akan kembali menggelar pertemuan Hari Senin besok untuk mencari solusi.

"Ya, kita mau nanti mungkin senin kita rapat lagi, kita cari solusinya (dengan siapa pak?) Ya dengan pihak gereja, Dandim, Polres, semua, kantor agama kita undang lagi, kita cari solusilah, kita bantu," pungkas Tri. 

Baca juga: Wartawan KBR Dilarang Liput, AJI: Itu Langgar UU Pers

Editor: Sasmito

Bagikan berita ini :

Komentar

Beri Komentar

KBR percaya pembaca situs ini adalah orang-orang yang cerdas dan terpelajar. Karena itu mari kita gunakan kata-kata yang santun di dalam kolom komentar ini. Kalimat yang sopan, menjauhi prasangka SARA (suku, agama, ras dan antargolongan), pasti akan lebih didengar. Yuk, kita praktikkan!