Ilustrasi. (Foto: beacukai.go.id)



KBR, Jakarta - Badan Pusat Statistik memperkirakan komponen rokok yang turut menyumbang inflasi pada bulan September 2016 disebabkan karena munculnya isu kenaikan harga.

Kepala BPS Suhariyanto mengatakan pada akhir bulan lalu pemerintah memang mengumumkan kenaikan tarif cukai untuk tahun 2017. Namun, Suhariyanto mengatakan isu kenaikan harga rokok mencapai Rp50 ribu per bungkus yang muncul sebelumnya sudah cukup menyebabkan pedagang eceran menaikkan harga rokok.

"Penyebabnya lebih karena isu. Saat ini belum terjadi kenaikan harga rokok, tetapi karena ada isu kemarin. Isu itu bergulir, ramai sekali di Whatsapp, bahwa harga rokok akan naik tinggi sekali, sampai Rp50 ribu. Itu membuat pedagang eceran juga menaikkan harga. Apakah ada pengaruhnya kenaikan cukai nanti pada inflasi, ya pasti berpengaruh," kata Suhariyanto di kantor BPS, Senin (3/9/2016).

Baca: Ini Persentase Kenaikan Rokok 2017

Suhariyanto mengatakan, pada September lalu, rokok memiliki andil inflasi 0,02 persen untuk rokok kretek filter. Sedangkan rokok putih menunjang inflasi 0,01 persen. Adapun inflasi September tercatat sebesar 0,02 persen, dan inflasi tahun kalender 2016 sebesar 1,97 persen.

Pekan lalu, Kementerian Keuangan mengumumkan tarif cukai rokok untuk 2017. Tarif cukai tertinggi dikenakan pada jenis hasil tembakau Sigaret Putih Mesin (SPM), sebesar 13,46 persen. Sementara tarif cukai terendah, 0 persen dikenakan untuk hasil tembakau Sigaret Kretek Tangan (SKT) golongan IIIB, dengan kenaikan rata-rata tertimbang 10,54 persen.

Pemerintah juga menaikkan harga jual eceran (HJE) dengan rata-rata 12,26 persen. Adapun dampak kenaikan cukai itu, pemerintah memperkirakan akan ada kenaikan inflasi sebesar 0,23 persen.

Baca: Harga Rokok Naik, Inflasi Diperkirakan Bertambah 0,23 Persen

Editor: Agus Luqman
 

Bagikan berita ini :

Komentar

Beri Komentar

KBR percaya pembaca situs ini adalah orang-orang yang cerdas dan terpelajar. Karena itu mari kita gunakan kata-kata yang santun di dalam kolom komentar ini. Kalimat yang sopan, menjauhi prasangka SARA (suku, agama, ras dan antargolongan), pasti akan lebih didengar. Yuk, kita praktikkan!