BI: Tiongkok Jadi Parameter Pertumbuhan Ekonomi

"Kalau mau melihat perekonomian dunia, kita harus melihat ekonomi Tiongkok, karena memengaruhi harga komoditas."

Kamis, 06 Okt 2016 16:01 WIB

Ilustrasi: Pekerja menjemur tembakau yang baru dirajang di Pamekasan, Jawa Timur, Minggu (11/9). (Foto: Antara)

AUDIO

{{ currentTime | hhmmss }} / {{ track.duration / 1000 | hhmmss }}



KBR, Jakarta- Bank Indonesia menyebut Tiongkok sebagai negara yang bisa dijadikan parameter untuk mengukur pertumbuhan perekonomian dunia. Deputi Gubernur Senior BI Mirza Adityaswara mengatakan, pergerakan perekonomian Cina, baik positif maupun negatif, bisa sangat mempengaruhi harga komoditas dunia.

Selain itu, kata dia, saat ini pertumbuhan ekonomi global masih lemah dan hampir semua negara merevisi target pertumbuhannya ke bawah.

"Jadi kalau kita mau melihat prospek ekonomi Tiongkok, waktu booming, itu adalah 10 sampai 12 persen. Sekarang kita bicara ekonomi Tiongkok, pertumbuhan ekonominya hanya sekitar 6,3 sampai 6,5 persen. Dan itu memengaruhi banyak hal di Indonesia, terutama harga komoditas. Jadi kalau mau melihat perekonomian dunia, kita harus melihat ekonomi Tiongkok, karena memengaruhi harga komoditas. Kalau kita lihat sudah ada recovery, itu ada karena memang recovery di harga komoditas," kata Mirza di kantornya, Kamis (06/10/16).

Mirza mengatakan, beberapa harga komoditas, baik tambang maupun perkebunan sudah mulai menunjukkan perbaikan. Meski disebut membaik, kata mirza, perbaikan harga itu tidaklah signifikan, melainkan hanya secara moderat. Padahal, beberapa tahun lalu, harga komoditas jatuh secara signifikan.

Mirza berujar, hal demikian juga terjadi untuk komoditi unggulan asal Indonesia. Dia berkata, Tiongkok sebagai negara terbesar ketiga dunia memang memberikan pengaruh besar pada harga komoditas dunia.

Kata dia, Indonesia menjadi salah satu negara yang sangat terpengaruh dengan perekonomian Tiongkok, karena mengandalkan ekspor komoditas ke negara itu. Pulau di Indonesia yang mengandalkan ekspor komoditas ke Cina adalah Sumatra dan Kalimantan sebagai produsen kelapa sawit, karet, dan batubara.

Dia menyebutkan, Sumatera sebagai kontributor 22 persen dari total perekonomian nasional tumbuh lemah, sedangkan Kalimantan dengan porsi 12 persen, justru tumbuh negatif.

Selain memengaruhi harga komoditas dunia, kata Mirza, peran Tiongkok pada perekonomian juga karena kondisi negara maju lainnya masih belum pulih. Dia mencontohkannya dengan Amerika Serikat, Uni Eropa, dan Jepang yang masih kesulitan memulihkan pertumbuhan ekonominya.


Editor: Rony Sitanggang

Komentar

Beri Komentar

KBR percaya pembaca situs ini adalah orang-orang yang cerdas dan terpelajar. Karena itu mari kita gunakan kata-kata yang santun di dalam kolom komentar ini. Kalimat yang sopan, menjauhi prasangka SARA (suku, agama, ras dan antargolongan), pasti akan lebih didengar. Yuk, kita praktikkan!

Ari Dono Sukmanto soal Penanganan Beras Oplosan PT IBU

  • Dirjen AHU Freddy Harris soal Pencabutan Badan Hukum Ormas HTI
  • Bagi-Bagi Kopi di Filosofi Kopi 2
  • (Wawancara) Batal Temui Luhut, Senator Australia Kecewa
  • PDIP: Jika Tak Kompak Dukung Pemerintah, Silakan PAN Keluar Dari Koalisi
  • Indonesia Turki Sepakati Perangi Terorisme Lintas Negara

Jokowi Tanggapi Komentar Prabowo Soal Ambang Batas 20 Persen

  • Dampak Kenaikan Gaji Tak Kena Pajak Mulai Dorong Konsumsi Masyarakat
  • Pemerintah Dinaikkan Harga Pokok Beras
  • Pemkab Bondowoso Bayar Wartawan Minimal Rp200 Ribu per Berita

Fasilitas KITE IKM diharapkan menjadi jawaban untuk mendorong industri kecil dan menengah untuk terus bergeliat meningkatkan ekspor di tanah air.