Antisipasi Banjir, Ini Langkah Pemkot Solo

Wakil Wali Kota Solo Ahmad Purno mengatakan, sebelumnya pihaknya telah memeriksa kondisi sirine penanda banjir di sejumlah lokasi pintu air di Solo.

Sabtu, 01 Okt 2016 23:49 WIB

Papan Early Warning System (Sistem Peringatan Dini) bencana banjir di Kota Solo. (Foto: KBR/ Yudha Satriawan)

AUDIO

{{ currentTime | hhmmss }} / {{ track.duration / 1000 | hhmmss }}



KBR, Solo - Pemerintah Kota Solo mengklaim Sistem Peringatan Dini bencana banjir di kota tersebut, masih berfungsi baik.

Wakil Wali Kota Solo Ahmad Purno mengatakan, sebelumnya pihaknya telah memeriksa kondisi sirine penanda banjir di sejumlah lokasi pintu air di Solo. Sirine itu, kata Purno, sangat membantu warga yang masih tinggal di bantaran sungai untuk selalu melakukan antisipasi sebelum banjir menerpa bangunan rumah mereka.

"Warga di Solo, terutama bantaran sungai, sudah siap mengantisipasi ancaman banjir bengawan Solo. Setiap kelurahan sudah ada kelompok tanggap bencana. Kan ada sirene juga untuk memberitahu warga sekitar aliran sungai jika elevasi air sungai mulai naik dan akan meluap," kata Ahmad Purno di Solo, Sabtu (1/10/2016).

"Sirene akan bunyi secara otomatis. Ya ini kami siaga 24 jam, kami koordinasi terus, komunikasi terus. Monitor terus perkembangannya," lanjutnya.

Berdasarkan pantauan KBR di lokasi pintu air di Solo, sirine peringatan dini bencana banjir itu terpasang di bibir aliran Sungai Bengawan Solo. Ada satu pengeras suara atau corong di antara tiga lampu berwarna merah, kuning, dan biru. Lilitan kabel dan pipa besi menjulur ke tepi sungai sebagai penanda ketinggian permukaan air sungai.

Baca juga:

Sementara itu, pada Sabtu (1/10/2016) sore, kondisi cuaca di Solo diselimuti mendung tebal diikuti hujan dan angin kencang. Pekan ini hujan deras mengguyur Solo dan sekitarnya membuat elevasi air di Sungai Bengawan Solo naik, bahkan meluber dan merendam ke sejumlah lokasi pemukiman warga.

Pemerintah sudah mengeluarkan peringatan akan terjadi cuaca ekstrem di sebagian wilayah di Indonesia, berupa hujan deras pada musim kemarau, akibat dampak La Nina. Pemerintah daerah pun diminta waspada terhadap potensi bencana alam.




Editor: Nurika Manan

Komentar

Beri Komentar

KBR percaya pembaca situs ini adalah orang-orang yang cerdas dan terpelajar. Karena itu mari kita gunakan kata-kata yang santun di dalam kolom komentar ini. Kalimat yang sopan, menjauhi prasangka SARA (suku, agama, ras dan antargolongan), pasti akan lebih didengar. Yuk, kita praktikkan!

Lies Marcoes Bicara Soal Perempuan dan Anak Dalam Terorisme

  • Begini Kata Wapres JK soal Ricuh di Mako Brimob
  • Perlambat Izin Usaha, Jokowi Siap Hajar Petugas
  • Kasus Novel Jadi Ganjalan Jokowi pada Pemilu 2019
  • Jokowi Perintahkan Polisi Kejar MCA sampai Tuntas

152 Napiter Mako Brimob Ditempatkan di 3 Lapas Nusakambangan

  • Abu Afif, Napi Teroris dari Mako Brimob Dirawat di Ruang Khusus RS Polri
  • Erupsi Merapi, Sebagian Pengungsi Kembali ke Rumah
  • Jelang Ramadan, LPG 3 Kg Langka di Rembang

Indonesia masih menghadapi masalah jumlah penduduk yang besar dengan tingkat pertumbuhan yang tinggi. Pertambahan jumlah penduduk tidak seimbang dengan pertumbuhan kesempatan kerja.