Ini Alasan Perombakan Direksi Garuda dan Target Dirut Baru

I Gusti Ngurah Ashkara Danadiputra atau Ari Ashkara ditunjuk sebagai Direktur Utama PT Garuda Indonesia. Ia sebelumnya menjabat Direktur Utama PT Pelindo III (Persero).

Rabu, 12 Sep 2018 23:05 WIB

Direktur Utama Garuda Indonesia I Gusti Ngurah Askhara Danadiputra memberikan keterangan pers usai RUPSLB, Tangerang, Banten, Rabu (12/9). (Foto: ANTARA/ M Iqbal)

KBR, Jakarta - Menteri Badan Usaha Milik Negara (BUMN), Rini Soemarno merombak susunan direksi PT Garuda Indonesia (Persero). Pembongkaran formasi termasuk bos Garuda Indonesia tersebut melalui Rapat Umum Pemegang Saham Luar Biasa (RUPSLB).

Rapat membuahkan hasil penunjukan Direktur Utama PT Pelindo III (Persero) I Gusti Ngurah Ashkara Danadiputra atau Ari Ashkara sebagai Direktur Utama PT Garuda Indonesia. Ia menggantikan Pahala Mansury. Selain itu, pemegang saham juga merombak lima dari tujuh direksi lainnya.

Menteri BUMN Rini Soemarno mengatakan, perombakan dilakukan sekadar menyegarkan organisasi guna menghadapi tantangan ke depan.

"Biasa kalau sekarang putaran. Ada tempat-tempat yang kita lihat kebutuhannya di daerah ini adalah untuk yang ekspertnya di sini, ini ada dasar itu. Tidak terlepas dari operasional yang kami lihat selama satu tahun," jelas Rini di Energy Building, Rabu (12/9/2018).

"Kami lihat ke depan, challenge apa saja, kayak Garuda challenge-nya apa saja, dan yang ada di Garuda itu sebenarnya punya ekspertis yang kita butuhkan di mana," imbuhnya.

Menurut Rini, perombakan direksi Garuda Indonesia telah disepakati seluruh pemegang saham. Ia meyakini, penunjukkan Ari bakal meningkatkan kinerja BUMN.

Ari Ashkara bukanlah orang baru di Garuda Indonesia. Pada 2014, ia sempat menjabat direktur keuangan di perusahaan tersebut. Setelah itu, Ari Ashkara sempat menjadi dewan direksi di perusahaan konstruksi PT Wijaya Karya Tbk (WIKA) pada 2016.

Selain Direksi, RUPSLB juga menyepakati perubahan dua dari delapan jajaran komisaris Garuda. Antara lain Komisaris Utama dan Independen Agus Santoso menggantikan Jusman Djamal, dan Komisaris Independen Ismerda Lebang menggantikan Hasan Soejono.


Direktur Utama Garuda Indonesia yang baru I Gusti Ngurah Askhara Danadiputra (keempat kiri) berfoto bersama jajaran direksi yang baru Direktur Niaga Pikri Ilham Kurniansyah (kiri), Direktur Human Capital Heri Akhyar (kedua kiri), Direktur Layanan Nicodemus P Lampe (ketiga kiri), Direktur Teknik I Wayan Susena (keempat kanan), Direktur Keuangan dan Manajemen Risiko Fuad Rizal (ketiga kanan), Direktur Operasi Bambang Adisurya (kedua kanan) dan Direktur Kargo dan Pengembangan Usaha Mohammad Iqbal (kanan) usai RUPSLB di Garuda Centre, Tangerang, Banten, Rabu (12/9). (Foto: ANTARA/ M Iqbal)


Dirut Baru Janji Tekan Kerugian

Setelah menerima jabatan baru, Direktur Utama Garuda Indonesia I Gusti Ngurah Askhara atau Ari Askhara berjanji menekan kerugian perusahaan hingga di bawah USD 100 juta atau Rp1,4 triliun pada 2018. Ia mengatakan, efisiensi tersebut harus segera dimulai, di tengah ketidakpastian perekonomian global.

Ari berkata, segera menyisir pos-pos pengeluaran yang masih bisa dihemat. 

"Memang kondisi saat ini sedang susah, kondisi Rupiah yang sedang terdepresiasi, dan harga minyak yang tidak stabil, dan cenderung meningkat," kata Ari di kantornya, Rabu (12/9/2018).

"Kami tertekad untuk mengurangi cost hingga akhir tahun 2018 ini. Targetnya memang tidak besar secara spesifik, tapi kita targetkan USD 100 juta, minumum," tambah Ari.

Ia pun menuturkan, pelemahan nilai tukar Rupiah terhadap Dolar AS mengakibatkan harga bahan bakar pesawat kian mahal. Sehingga, harus ada penghematan dari pos pengeluaran lain agar keuangan Garuda tak semakin terbebani.

Penghematan tersebut akan ia bicarakan bersama seluruh pegawai, serikat pekerja, stakeholders, regulator, serta manajemen lama. Ari juga berencana mereview surat utang (global bond) yang telah diterbitkan Garuda. 

Sementara dari segi ekspansi layanan, ia ingin memperkuat penerbangan ke Cina, Jepang, dan rute Umroh. Adapun untuk penerbangan domestik, Ari berencana memintakan slot penerbangan dari dan menuju Bandara Halim Perdanakusuma.

Saat ini, Garuda merugi USD 116,86 juta atau Rp1,72 triliun selama semester pertama 2018. Angka ini sudah menurun 58,55 persen dibandingkan kerugian periode yang sama tahun lalu, yang mencapai USD 281,92 juta atau Rp4,1 triliun.



Editor: Nurika Manan

Komentar
Beri Komentar

KBR percaya pembaca situs ini adalah orang-orang yang cerdas dan terpelajar. Karena itu mari kita gunakan kata-kata yang santun di dalam kolom komentar ini. Kalimat yang sopan, menjauhi prasangka SARA (suku, agama, ras dan antargolongan), pasti akan lebih didengar. Yuk, kita praktikkan!

Puluhan organisasi Masyarakat sipil melalui gerakan #BersihkanIndonesia menantang kedua capres dan cawapres yang berlaga dalam Pemilu Presiden 2019 mewujudkan komitmen “Indonesia Berdaulat Energi".