BPS Catat Agustus 2018 Deflasi 0,05 Persen

Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat terjadi deflasi sebesar 0,05 persen pada Agustus 2018. Kepala BPS, Suhariyanto mengatakan, itu adalah deflasi pertama sepanjang tahun ini.

Senin, 03 Sep 2018 16:11 WIB

KBR, Jakarta- Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat terjadi deflasi sebesar 0,05 persen pada Agustus 2018. Kepala BPS, Suhariyanto mengatakan, itu adalah deflasi pertama sepanjang tahun ini. Ia berkata, deflasi Agustus tersebut disebabkan oleh mulai menurunnya harga beberapa komoditas pangan, seperti daging ayam ras, telur, bawang merah, dan tarif angkutan udara. 

"Bagus inflasi bulan ini, bagus 3,20. Tapi harus kita waspada terus supaya terjaga," kata Suhariyanto di Kantor BPS, Senin (3/9/18).

Suhariyanto mengatakan, deflasi terjadi karena penurunan harga beberapa indeks kelompok pengeluaran, di antaranya bahan makanan, sandang, tranportasi, komunikasi, dan jasa keuangan. Ia mencontohkan, telur ayam memberikan andil deflasi 0,06 persen, bawang merah berandil 0,05 persen, serta cabai merah dan cabai rawit masing-masing 0,02 persen. 

Meski begitu, kata Suhariyanto, masih ada kelompok pengeluaran yang mengalami inflasi, seperti kesehatan, pendidikan, serta perumahan, air, listrik, gas, dan bahan bakar. Sehingga, Suhariyanto berkata, tingkat inflasi berdasarkan tahun kalender (Januari-Agustus) tercatat 2,13 persen, sedangkan inflasi secara tahunan sebesar 3,20 persen.

Meski Agustus mengalami deflasi, Suhariyanto tetap mengingatkan pemerintah agar mewaspadai risiko naiknya kembali berbagai bahan pangan. Selain itu, kata dia, ia juga meminta pemerintah berhati-hati dalam menaikkan tarif pajak pertambahan nilai (PPh) impor 900 komoditas. 

"Akan berpengaruh pertama ke barang-barang elektronik, kemudian juga pada barang bahan baku. Bahan baku yang banyak diimpor untuk industri," tambahnya.

BPS mendata, dari 82 kota Indeks Harga Konsumen (IHK), 52 kota mengalami deflasi dan 30 kota mengalami inflasi. Deflasi tertinggi terjadi di Bau-Bau sebesar 2,49 persen, dan terendah terjadi di Jember sebesar 0,01 persen.

Komentar
Beri Komentar

KBR percaya pembaca situs ini adalah orang-orang yang cerdas dan terpelajar. Karena itu mari kita gunakan kata-kata yang santun di dalam kolom komentar ini. Kalimat yang sopan, menjauhi prasangka SARA (suku, agama, ras dan antargolongan), pasti akan lebih didengar. Yuk, kita praktikkan!

Lies Marcoes Bicara Soal Perempuan dan Anak Dalam Terorisme

Saat ini ada banyak cara dan sarana untuk membantu orang lain. Lewat NusantaRun salah satunya.