Pratikno: Tiga Tahun, Pak Jokowi Sering Bikin Repot Paspampres

"Ya sudah kalau maunya Presiden begitu bagaimana? Saya hanya bisa ngayem-ngayemi Paspampres aja. Tugas anda itu mengamankan Presiden, bukan melarang Presiden," kata Pratikno.

Senin, 11 Sep 2017 09:59 WIB

Presiden Joko Widodo di tengah aksi 212 di Monas, Jakarta, Jumat (2/12/2016). (Foto: ksp.go.id/Publik Domain)

KBR, Jakarta - Bekas rektor Universitas Gadjah Mada (UGM) Yogyakarta Pratikno menceritakan pengalamannya bekerja bersama Presiden Joko Widodo selama tiga tahun terakhir sebagai Menteri Sekretaris Negara.

Salah satu yang populer di mata publik soal Jokowi adalah gaya blusukan. Namun, menurut Pratikno, pemahaman masyarakat tentang blusukan Jokowi masih kurang tepat.

Jokowi memaknai blusukan tidak hanya sekedar jalan-jalan meninjau lapangan. Tetapi lebih jauh lagi, blusukan berarti masuk lebih dalam, pada detil-detil kebijakan. Ini untuk memastikan setiap kebijakan yang diambil benar-benar terealisasi.

"Orang sering salah memaknai blusukan. Gimana, Pak? Blusukan itu bagi Pak Jokowi bukan semata-mata pergi jalan-jalan ke lapangan. Blusukan itu adalah masuk hal detail, di dalam pemerintahan. Jadi blusukan itu bukan semata-mata secara fisik turun ke lapangan. Bagi beliau, blusukan itu adalah policy making processes, di mana kita masuk ke detail," kata Pratikno ketika mengisi acara Partai Golkar di Hotel Sultan, Jakarta, Jumat (8/9/2017) lalu.

Menurut Pratikno, Presiden juga sering menggelar rapat terbatas spesifik membahas kebijakan, program bahkan proyek strategis perprovinsi.

"Itu artinya apa? Beliau ingin tahu di lapangan apa masalahnya. Goes into detail. Jadi blusukan itu blusukan sampai ke kebijakan," tambah Pratikno.

Hal lain yang diungkapkan Pratikno adalah seringnya Jokowi mengabaikan urusan protokoler. Ia mencontohkan ketika Jokowi mengunjungi warga yang menjadi korban letusan Gunung Sinabung di Kabupaten Karo, Sumatera Selatan pada akhir Oktober 2014. Ini merupakan kunjungan pertama Jokowi ke luar Jakarta sejak dilantik menjadi Presiden pada 20 Oktober 2014.

Saat itu, kata Pratikno, Jokowi membuat repot barisan Pasukan Pengamanan Presiden (Paspampres) karena memaksa masuk ke zona berbahaya.

Usai kunjungan, Pratikno mendapat protes dari Paspampres terkait 'kenekatan' Jokowo. Pratikno kemudian menyampaikan keluhan Paspamres itu kepada Presiden Jokowi. Namun, Jokowi menjawab ia ingin mendatangi masyarakat yang masih tinggal di zona merah dan mengajak mereka untuk turun.

"'Kemarin Bapak ke daerah merah, itu kan dilarang. Wong masyarakat biasa saja dilarang, apalagi Bapak'. Begitu kata saya. Pak Jokowi jawabnya, 'Lha iya, makanya saya ke sana itu untuk mengajak mereka pulang, turun gunung. Kalau saya nggak ke sana, bagaimana?' Tapi itu kan bahaya,' saya bilang. 'Lho kalau bahaya bagi saya kan, bahaya bagi mereka juga," ujar Pratikno menirukan percakapannya dengan Jokowi kala itu.

Momen lain yang disebut Pratikno paling mendebarkan adalah saat aksi 212, Desember 2016. Seluruh bawahan Presiden telah meminta Jokowi mengurungkan niatnya untuk bergabung ke dalam keriuhan peserta aksi di Monas, dengan alasan keamanan. Namun, Jokowi mengabaikan peringatan itu. Ia bahkan mengajak Wakil Presiden Jusuf Kalla untuk turut serta.

"Yang terakhir yang paling mendebarkan, itu waktu ada aksi 212. Tidak ada satupun yang mengiyakan, dari sisi keamanan. Pak Presiden bilang, nggak apa-apalah. Waktu itu pas kebetulan hujan. 'Ini kebetulan hujan, ayo kita ke sana, Pak JK,' kata beliau. Lalu Pak Jokowi menggandeng Pak JK ke sana, kacau waktu itu," kata profesor dari Universitas Gadjah Mada (UGM) itu sambil tertawa.

Paham dengan tabiat Jokowi ini, Pratikno akhirnya memilih menenangkan Paspampres. Setiap menerima komplain dari Paspampres, Pratikno menjawab bahwa tugas Paspampres adalah mengamankan presiden, bukan melarang.

"Ya sudah kalau maunya Presiden begitu bagaimana? Saya hanya bisa ngayem-ngayemi Paspampres aja. Tugas anda itu mengamankan Presiden, bukan melarang Presiden," kata Pratikno. Pratikno menggunakan istilah bahasa Jawa ngayem-ngayemi, yang artinya menenangkan perasaan.

Baca juga:


Editor: Agus Luqman 

Komentar

Beri Komentar

KBR percaya pembaca situs ini adalah orang-orang yang cerdas dan terpelajar. Karena itu mari kita gunakan kata-kata yang santun di dalam kolom komentar ini. Kalimat yang sopan, menjauhi prasangka SARA (suku, agama, ras dan antargolongan), pasti akan lebih didengar. Yuk, kita praktikkan!

Kalau Tak Setuju Ide Tes Keperawanan, Jangan Menyerang!

  • Jokowi: Kita Lebih Ingat Saracen, Ketimbang Momentum
  • SBY Bertemu Mega di Istana, JK: Bicara Persatuan
  • 222 Triliun Anggaran Mengendap, Jokowi Siapkan Sanksi Bagi Daerah
  • Wiranto Ajak 5 Negara Keroyok ISIS di Marawi
  • Jokowi: Dulu Ikut Presidential Threshold 20 Persen, Sekarang Kok Beda...

KPK Bantah ada Intervensi dari Karyawan

  • Praperadilan Setnov, Saksi Nilai KPK Terburu-buru
  • Jokowi: Ideologi Terorisme dan Radikalisme Berupaya Ganti Pancasila
  • Awas Gunung Agung, Presiden Perintahkan Warga Patuh