Bayi Baru Lahir Meninggal, Rumah Sakit Mitra di Cirebon Dinilai Fokus Uang Muka

"Katanya karena saya terlambat bawa uang,"

Senin, 18 Sep 2017 21:57 WIB

Rumah Sakit Mitra Plumbon, Cirebon, Jawa Barat. (Foto: KBR/Frans M.)

AUDIO

{{ currentTime | hhmmss }} / {{ track.duration / 1000 | hhmmss }}

KBR,Cirebon- Bayi baru lahir dari keluarga tidak mampu meninggal dunia di Kabupaten Cirebon. Pihak keluarga menduga, penyebabnya keterlambatan penanganan pihak rumah sakit (RS).

Peristiwa itu menimpa anak kedua pasangan Mohammad Juhana (39) dan Fifin Endar Sari (29), warga Desa Cempaka, Kecamatan Plumbon, Kabupaten Cirebon, bernama Muhammad Raja Mursyahadatillah pada 11 September 2017. Belum genap sehari dilahirkan, bayi tersebut  meninggal.

Orang tua bayi menyesalkan sikap rumah sakit yang lebih mengutamakan ketersediaan uang muka ketimbang menangani pasien. Juhana menuturkan, peristiwa bermula ketika Fifin yang tengah mengandung mengalami kontraksi dan dibawa ke RS Mitra Plumbon, Kabupaten Cirebon, pada 9/09/2017 lalu, sekitar pukul 08.00 WIB. Dari hasil pemeriksaan di IGD, Fifin diharuskan melahirkan melalui bedah sesar.

"Istri saya kontraksi terus menerus dan pihak rumah sakit menyarankan sesar yang pukul 13.00 Wib," katanya.

Namun sebelum operasi dilaksanakan,  rumah sakit meminta uang muka.  Dengan keterbatasan ekonomi, Juhana pun berupaya mencari pinjaman. Namun, ketika uang yang diminta sudah di tangan,   rumah sakit menyatakan waktu operasi Fifin diundur.

"Katanya karena saya terlambat bawa uang," cetusnya.

Operasi Fifin selanjutnya diagendakan pukul 21.00 Wib. Tapi ketika sudah waktunya, dokter yang menangani tidak kunjung datang hingga akhirnya operasi benar-benar dilaksanakan sekitar pukul 01.00 Wib pada 10 September 2017. Sayang, sesaat setelah dilahirkan sekitar 14.00 Wib, anak mereka meninggal dunia.

Juhana pun sempat mengalami kesulitan ketika hendak membawa pulang jenazah sang anak untuk dikuburkan.

“Pihak RS, menagih biaya sekitar Rp 7 juta untuk pelunasan. Saya cuma ada Rp 1 juta, akhirnya jenazah anak kami bisa dibawa pulang,” ungkapnya.

Terpisah, Direktur RS Mitra Plumbon Cirebon, Herry Septijanto menampik penundaan tindakan medis karena ketiadaan uang muka.

“Tidak ada itu. Kami hanya minta komitmennya saja,” katanya.

Dia pun membantah adanya penundaan waktu operasi Fifin yang dilatari kemampuan finansial keluarga.

“Ya memang ada dua kali penundaan waktu operasi dengan pertimbangan kondisi keselamatan ibu dan bayi. Salah satunya karena bayi belum cukup umur untuk dilahirkan, sehingga sang ibu harus mendapat terapi tambahan lebih dulu berdasarkan hasil konsultasi dengan dokter spesialis," terangnya.

Dia  juga membantah adanya upaya menahan jenazah bayi dengan alasan belum lunasnya biaya perawatan.

“Kami tidak menahan, kalau ditahan bisa bisa besar konsekuensinya buat kami. Kalau tidak ada ya tidak apa-apa boleh dibawa pulang,” ujarnya.

Editor: Rony Sitanggang

Komentar

Beri Komentar

KBR percaya pembaca situs ini adalah orang-orang yang cerdas dan terpelajar. Karena itu mari kita gunakan kata-kata yang santun di dalam kolom komentar ini. Kalimat yang sopan, menjauhi prasangka SARA (suku, agama, ras dan antargolongan), pasti akan lebih didengar. Yuk, kita praktikkan!

SPDP Pemimpin KPK, Jokowi Minta Tak Gaduh

  • Wiranto: Jual Saja Lapas Cipinang untuk Bangun Lapas di Pulau Terpencil
  • Gubernur Yogyakarta Pastikan Tindak Tegas Pelaku Aksi Intoleransi
  • Sebagai Panglima Tertinggi, Jokowi Perintahkan Bawahannya Tak Bikin Gaduh
  • Kalau Tak Setuju Ide Tes Keperawanan, Jangan Menyerang!
  • Jokowi: Kita Lebih Ingat Saracen, Ketimbang Momentum

Konsultasi Tahunan RI-Malaysia, Jokowi Minta Pendidikan Anak Buruh Migran Diperhatikan

  • Jalur Bandung Longsor, Perjalanan KA Dialihakn Melalui Cirebon
  • Bangkai Kapal Jepang Ditemukan, Kondisi 5 WNI Tak Diketahui
  • Gilas Celtic 7-1, PSG Ukir Rekor Baru di Liga Champions