Wilayah terdampak banjir bandang di Garut, Jawa Barat. (Foto: Antara)



KBR, Jakarta- Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK) akan merehabilitasi sekitar kawasan terdampak banjir di Garut, Jawa Barat. Juru Bicara KLHK Novrizal Tahar menyatakan kawasan itu seharusnya berfungsi menampung air bukan sebagai perkebunan.

KLHK akan menanam pohon di kawasan itu, melakukan transformasi pertanian dari hortikultura ke tanaman berpohon, juga menyediakan lahan alternatif di luar kawasan hutan lindung.

Kata Novrizal, KLHK akan fokus meningkatkan kemampuan wilayah tersebut menampung air dari tiga gunung di sekitarnya.

"Memang kami juga melakukan kajian-kajian bagaimana meningkatkan kapasitas di kawasan hulu itu memang lebih maksimal lagi sebagai daerah tangkapan air," ujar Novrizal kepada KBR, Kamis (29/9/2016) malam.

Novrizal menambahkan, KLHK juga akan membangun sejumlah bangunan konservasi tanah dan air untuk mengembalikan fungsi lahan. Yakni 3.000 unit dam penahan, 7.000 unit gully plug (pengendali erosi), serta 14.000 unit sumur resapan air.

Kata dia, KLHK akan fokus membenahi hulu sungai. Hal ini berbeda dengan pendapat WALHI yang mendorong pemerintah juga memperhatikan bagian hilir tempat bendungan Copong dan Jatigede berada.

"Ini lebih di hulunya, bukan hilir," tegas Novrizal.

Dalam kunjungannya ke Garut, Kamis, Menteri LHK Siti Nurbaya sempat meninjau kawasan Puncak Darajat Pass, Samarang, Garut Barat. Di sana, dia menemukan penyimpangan peruntukkan lahan yang seharusnya kawasan penahan dan resapan air malah menjadi pertanian hortikultura. Hal itu, kata dia, membuat kawasan ini tidak memiliki akar yang menahan laju air tanah.

Editor: Rony Sitanggang 

Bagikan berita ini :

Komentar

Beri Komentar

KBR percaya pembaca situs ini adalah orang-orang yang cerdas dan terpelajar. Karena itu mari kita gunakan kata-kata yang santun di dalam kolom komentar ini. Kalimat yang sopan, menjauhi prasangka SARA (suku, agama, ras dan antargolongan), pasti akan lebih didengar. Yuk, kita praktikkan!