Puluhan Balita Meninggal di Deiyai, Menkes 'Confused'

"Kesehatan terkait lingkungan di sana jelek, ya kita mati semua. Tadi saya bilang di Papua ini masalah infrastruktur. Kalau di Jakarta gampang. Kalau di sana, kita tahu seperti apa transportasi."

Kamis, 10 Agus 2017 16:39 WIB

Ilustrasi. (Foto: ICUnurses/Wikipedia/Creative Commons)

KBR, Jakarta - Menteri Kesehatan Nila Moeloek mengaku belum mengetahui penyebab pasti kematian 27 bayi di Deiyai, Papua, selama lima bulan terakhir.

Menteri Nila mengatakan ada banyak laporan soal angka kematian bayi di provinsi itu. Kementerian Kesehatan sudah mengirimkan tim ke Deiyai untuk memeriksa kondisi di lapangan.

"Saya confused nanti jawabnya. Karena jumlah ini kumulatif, bukan meninggal sekaligus. Itu angka diarenya tinggi. Jadi lingkungannya ya, air dan sebagainya harus terjaga," kata Nila di Kuningan, Jakarta, Kamis (10/8/2017).

Selama ini, kata Nila Moeloek, pelayanan kesehatan di Papua mengalami banyak kendala. Salah satunya karena infrastruktur buruk. Kondisi ini mempersulit penanganan kesehatan ketika terjadi kondisi luar biasa.

"Kesehatan terkait lingkungannya jelek, ya kita mati semua lah. Tadi saya bilang di Papua ini masalah infrastruktur. Kalau di Jakarta sini gampang. Kalau di sana, kita tahu seperti apa transportasi," kata Nila Moeloek.

Tambah Tenaga Medis

Terkait meninggalnya puluhan balita di Deiyai dalam kurun waktu lima bulan, Kementerian Kesehatan mengklaim telah menambah tenaga medis di wilayah itu.

Direktur Jenderal Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Muhammad Subuh menjelaskan, upaya tersebut salah satunya untuk meningkatkan koordinasi antartenaga medis di wilayah tersebut. Hal serupa, kata Subuh, juga dilakukan di wilayah terpencil lainnya.

Mengenai kematian 27 balita tersebut, Muhammad Subuh mengatakan umumnya itu disebabkan penyakit menular. Hal itu berdasarkan penelitian yang dilakukan tim gabungan Kementerian Kesehatan dan lembaga lain. Meski begitu, kejadian itu dianggap normal, sehingga tidak dikategorikan sebagai kejadian luar biasa (KLB).

"Kematian itu disebabkan karena hal yang normal-normal saja. Umumnya karena penularan penyakit ISPA, diare, serta penyakit menular lainnya. Itu memang menjadi masalah yang umum di Papua. Tidak hanya di Papua, tapi juga daerah terpencil lain. Yang jelas pemerintah pusat telah memberikan alokasi tenaga, tinggal mereka yang mendistribusikan sampai ke tingkat pelayanan, baik itu tingkat puskesmas kabupaten dan lain-lain," kata Muhammad Subuh.

Kepala Dinas Kesehatan Provinsi Papua Aloysius Giay sebelumnya mengatakan, kematian anak-anak tersebut dipicu minimnya koordinasi antarpuskesmas.

"Kasus Deiyai terjadi karena memang kinerja Dinas Kesehatan setempat macet total, puskesmasnya dalam seminggu buka satu kali, paling tinggi dua kali buka dalam satu minggu. Koordinasi antarpuskesmas dan Dinas Kesehatan setempat juga tidak berjalan dengan baik maka pelayanan kesehatannya buruk," ujarnya saat dihubungi KBR pada Kamis pekan lalu.

Editor: Agus Luqman 

Komentar

Beri Komentar

KBR percaya pembaca situs ini adalah orang-orang yang cerdas dan terpelajar. Karena itu mari kita gunakan kata-kata yang santun di dalam kolom komentar ini. Kalimat yang sopan, menjauhi prasangka SARA (suku, agama, ras dan antargolongan), pasti akan lebih didengar. Yuk, kita praktikkan!

Kalau Tak Setuju Ide Tes Keperawanan, Jangan Menyerang!

  • Jokowi: Kita Lebih Ingat Saracen, Ketimbang Momentum
  • SBY Bertemu Mega di Istana, JK: Bicara Persatuan
  • 222 Triliun Anggaran Mengendap, Jokowi Siapkan Sanksi Bagi Daerah
  • Wiranto Ajak 5 Negara Keroyok ISIS di Marawi
  • Jokowi: Dulu Ikut Presidential Threshold 20 Persen, Sekarang Kok Beda...

Wiranto: Kasus HAM Masa Lalu Sulit Diungkap

  • 131 TKI Ilegal Dideportasi Malaysia
  • Jasa Antar Obat RSUD Blambangan Banyuwangi
  • Pelatih Kritik Kualitas Liga 1