Heli Jatuh, Basarnas: Terbang di Bawah Ketinggian Minimum

"Pada pukul 16.14 menit pesawat tersebut kita pantau di Basarnas Command Centre Jakarta melewati batas ketinggian minimum,"

Senin, 03 Jul 2017 18:18 WIB

Anggota Basarnas mengusung peti berisi jenazah korban kecelakaan helikopter Basarnas di Temanggung, pada upacara pemberangkatan jenazah di Lanumad Ahmad Yani Semarang, Jawa Tengah, Senin, (3/7). (Foto: Antara)

AUDIO

{{ currentTime | hhmmss }} / {{ track.duration / 1000 | hhmmss }}

KBR, Temanggung- Helikopter milik Badan SAR Nasional yang jatuh di Desa Canggal, Kecamatan Candiroto, Kabupaten Temanggung, pada Minggu (02/07) diketahui hilang kontak sejak pukul 16:17 WIB.
Kepala Basarnas Muhammad Syaugi mengatakan, pesawat yang berangkat dari Lanumad Bandara Ahmad Yani Semarang tersebut melewati batas minimum penerbangan pada pukul 16.14.

"Jadi kemarin sore, pukul 16.00 pesawat Basarnas diawaki 4 kru, dan 4 rescuer andalan kita untuk menuju ke lokasi tempat letupan kawah tersebut. Tentunya kita sudah berkoordinasi dengan  TNI, Polri, maupun Basarnas yang ada di sekitar lokasi. Namun, pada pukul 16.14 menit pesawat tersebut kita pantau di Basarnas Command Centre Jakarta melewati batas ketinggian minimum," kata Syaugi saat Konferensi Pers di Bidokkes Polda Jawa Tengah, Senin (03/07). 

Syaugi melanjutkan, "penyebabnya kita belum tahu, dan 3 menit setelah itu kita melihat di Basarnas Command Centre Jakarta ada yang namanya Emergency Locater Transmitter yang ada di pesawat heli tersebut mentransmitkan sinyal distress message. Artinya mengatakan bahwa barang ini kena benturan, kejadian itu 16.17."

Syaugi menambahkan, setelah mendapatkan sinyal tersebut,  berkoordinasi dengan Air Traffic Control Bandara Ahmad Yani Semarang, dan pihak ATC menyatakan bahwa helikopter tersebut memang telah hilang kontak.

Kata dia, proses evakuasi dari korban helikopter Basarnas terkendala medan yang sulit. Penyebabnya  lokasi jatuhnya helikopter tersebut berada pada tebing ketinggian 7000 kaki, dan hanya bisa dilalui dengan berjalan kaki sekitar 2 jam. Tim evakuasi sampai di lokasi pada pukul 19.30.

Sebagai penghormatan kepada para personel Basarnas yang gugur, Syaugi mengatakan hendak memberikan kenaikan pangkat satu tingkat lebih tinggi untuk mereka. Ia   juga meminta kepada Kepala Staf TNI Angkatan Laut untuk memberikan kenaikan pangkat juga kepada personel TNI Angkatan laut yang tewas akibat kecelakaan tersebut.

Sementara itu, Kepala Kepolisian Daerah Jawa Tengah Condro Kirono mengatakan  telah mengidentifikasi 8 orang personel yang gugur. Identifikasi personel tersebut berdasarkan ciri–ciri, dan juga kelengkapan yang dikenakan serta  dikenali oleh keluarga maupun teman–temannya

"Dari 8 jenazah yang kita temukan di TKP dan evakuasi, sudah dilakukan identifikasi oleh tim DVI, berdasarkan medis, dan properti, nomer urut , atas nama Tuan Catur Bambang Sulistyo. Kemudian nomer urut 2 teridentifikasi atas nama Tuan Budi Resti, kemudian 003 teridentifikasi atas nama Tuan Solih, Nomer 4 teridentifikasi atas nama Tuan M. Affandi," ujar Condro saat Konferensi Pers di Bidokkes Polda Jawa Tengah.

Kapolda melanjutkan, "nomer 5 atas nama Tuan Hari, nomer 6 Tuan Budi santoso, nomer 7 teridentifikasi atas nama Tuan Nyoto, dan nomor 8 atas nama Haryanto."

Helikopter Basarnas buatan Prancis tersebut pada saat jatuh mempunyai sisa 10 jam terbang dengan masa keperawatan 600 jam terbang. Helikopter tersebut dibuat pada   2013, dan menjadi armada Basarnas pada   2015. 

Komentar

Beri Komentar

KBR percaya pembaca situs ini adalah orang-orang yang cerdas dan terpelajar. Karena itu mari kita gunakan kata-kata yang santun di dalam kolom komentar ini. Kalimat yang sopan, menjauhi prasangka SARA (suku, agama, ras dan antargolongan), pasti akan lebih didengar. Yuk, kita praktikkan!

Kalau Tak Setuju Ide Tes Keperawanan, Jangan Menyerang!

  • Jokowi: Kita Lebih Ingat Saracen, Ketimbang Momentum
  • SBY Bertemu Mega di Istana, JK: Bicara Persatuan
  • 222 Triliun Anggaran Mengendap, Jokowi Siapkan Sanksi Bagi Daerah
  • Wiranto Ajak 5 Negara Keroyok ISIS di Marawi
  • Jokowi: Dulu Ikut Presidential Threshold 20 Persen, Sekarang Kok Beda...

Saracen, Analisis PPATK sebut Nama Besar

  • Bentuk Densus Tipikor, Mabes Minta Anggaran Hampir 1 T
  • Bareskrim Sita Jutaan Pil PCC di Surabaya
  • Konflik Myanmar, Tim Pencari Fakta PBB Minta Tambahan Waktu