17 WNI di Wilayah ISIS, Belum Tentu Dipulangkan ke Indonesia

Pemerintah mengaku masih berupaya memindahkan mereka ke tempat yang lebih aman

Jumat, 30 Jun 2017 12:30 WIB

Ilustrasi: bendera ISIS di salah satu dinding rumah terduga teroris yang menyerang Mapolda Sumatera Utara (Foto: KBR/Anugerah Ardiansyah)

KBR, Jakarta- Kementerian Luar Negeri menyatakan 17 WNI yang berada di Raqqa, daerah yang diklaim ISIS sebagai ibu kota negara Islam, belum tentu dipulangkan ke tanah air. Direktur Perlindungan WNI Kemenlu, Lalu Muhammad Iqbal mengatakan, saat ini pemerintah Indonesia masih berusaha mengevakuasi mereka ke tempat yang lebih aman dibanding Raqqa. Kata Iqbal, selanjutnya Kemenlu akan berkoordinasi dengan Badan Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT) sebelum memutuskan memulangkan mereka.

"Ya pasti sulit, karena itu di daerah konflik dan di daerah konflik yang tidak jelas penguasanya siapa. Insyaallah setelah tiba di lokasi aman, kemudian kita akan assessment dengan BNPT nantinya, sebelum kita memutuskan pulangkan. Apapun namanya, kita perlu assessment ulang, dengan BNPT, sebelum diputuskan apakah dipulangkan atau opsi yang lain," kata Iqbal kepada KBR, Kamis (29/06/2017).

Iqbal mengatakan, pemerintah melalui BNPT akan menilai mereka, sebelum akhirnya dipulangkan ke Indonesia. Kata dia, Kemenlu sudah sejak awal berkoordinasi untuk mengevakuasi para WNI tersebut.

Iqbal berujar, pemerintah tak bisa memastikan kapan para WNI tersebut dapat dievakuasi. Kata dia, saat ini pemerintah terus berusaha agar rencana evakuasi itu berjalan secepatnya dengan melobi-lobi sejumlah lembaga di Irak. Iqbal juga enggan mengungkap detail lokasi para WNI tersebut, beserta beberapa pilihan lokasi untuk mengevakuasinya. Iqbal beralasan, kerahasiaan lokasi itu merupakan kode etik rencana evakuasi untuk menjamin keselamatan tim Kemenlu dan WNI yang akan diselamatkan.

Berbagai Alasan Pindah ke Raqqa

Dalam sebuah wawancara bersama media asing, Nur, salah satu WNI itu, mengaku kecewa dengan apa yang dia lihat dan alami di Raqqa, berbeda seperti yang ditawarkan di internet.  "Semua bohong ... ketika kami memasuki wilayah ISIS, masuk ke negara mereka, yang kami lihat sangat berbeda dengan apa yang mereka katakan di internet," kata Nur kepada wartawan AFP di satu kamp di Ain Issa, sekitar 50 kilometer di utara Raqqa, seperi dikutip BBC Indonesia.

Dia juga bercerita, bagaimana militan ISIS mengejar-ngejarnya untuk dijadikan istri. "Banyak milisi ISIS yang duda ... mereka menikah hanya dua bulan atau dua pekan saja. Banyak laki-laki datang ke rumah dan mengatakan ke ayah saya, saya ingin anakmu," kata Nur.

Pengalaman lainnya diceritakan Leefa yang hijrah dengan alasan kesehatan. Dia awalnya dijanjikan bakal dioperasi gratis. Namun kenyataannya, dia tetap harus membayar dengan harga mahal. Dia juga mengatakan kepindahannya itu agar bisa hidup sebagai Muslim sebenarnya. 

Editor: Dimas Rizky

Komentar

Beri Komentar

KBR percaya pembaca situs ini adalah orang-orang yang cerdas dan terpelajar. Karena itu mari kita gunakan kata-kata yang santun di dalam kolom komentar ini. Kalimat yang sopan, menjauhi prasangka SARA (suku, agama, ras dan antargolongan), pasti akan lebih didengar. Yuk, kita praktikkan!

Kalau Tak Setuju Ide Tes Keperawanan, Jangan Menyerang!

  • Jokowi: Kita Lebih Ingat Saracen, Ketimbang Momentum
  • SBY Bertemu Mega di Istana, JK: Bicara Persatuan
  • 222 Triliun Anggaran Mengendap, Jokowi Siapkan Sanksi Bagi Daerah
  • Wiranto Ajak 5 Negara Keroyok ISIS di Marawi
  • Jokowi: Dulu Ikut Presidential Threshold 20 Persen, Sekarang Kok Beda...

Saracen, Analisis PPATK sebut Nama Besar

  • Bentuk Densus Tipikor, Mabes Minta Anggaran Hampir 1 T
  • Bareskrim Sita Jutaan Pil PCC di Surabaya
  • Konflik Myanmar, Tim Pencari Fakta PBB Minta Tambahan Waktu