Banyak Wisatawan Nakal, Terumbu Karang Pulau Komodo Terancam Bernasib seperti Raja Ampat

Potensi kerusakan terumbu karang saat ini tinggi, seiring meningkatnya jumlah kunjungan ke Taman Nasional Komodo. Setiap tahun, peningkatan kunjungan terjadi sekitar 30 persen.

Kamis, 11 Mei 2017 11:43 WIB

Turis menikmati pemandangan laut di kawasan sekitar Pulau Komodo, Labuan Bajo, NTT, Rabu (26/4/2017). (Foto: ANTARA)

AUDIO

{{ currentTime | hhmmss }} / {{ track.duration / 1000 | hhmmss }}


KBR, Jakarta - Kondisi terumbu karang di wilayah perairan Pulau Komodo, Nusa Tenggara Timur (NTT) terancam hancur seiring dengan meningkatnya jumlah wisatawan di pulau tersebut.

Saat ini, dari total luas terumbu karang yang masuk dalam wilayah taman nasional, 20 persennya sudah mengalami kerusakan.

Peneliti dari Balai Taman Nasional Komodo, Ande Kefi mengatakan selain wisatawan, para nelayan juga sangat berperan dengan kerusakan yang terjadi. Saat ini, kata Kefi, nelayan masih mencari ikan dengan cara yang tidak ramah lingkungan dan mengancam ekosistem dalam laut.

"Nelayan masih menggunakan bom ikan, potas dan pukat harimau untuk mencari ikan. Selain nelayan, saat ini potensi kerusakan karang juga muncul dari wisatawan. Wisatawan nakal ini sangat mengancam kondisi karang di perairan Komodo, terutama wisatawan dari luar negeri," katanya saat ditemui KBR di Kantor Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP), Jakarta, Rabu (10/5/2017).

Biasanya selain untuk melihat komodo, kata Kefi, wisatawan yang datang ke taman nasional juga banyak menghabiskan waktunya untuk wisata bahari. Rata-rata wisatawan melakukan kegiatan diving di perairan taman nasional.

"Sayangnya mereka itu masih nakal, banyak mereka tidak mahir diving, akhirnya merusak terumbu karang dengan menginjaknya," kata Kefi.



Menurut Kefi, potensi kerusakan terumbu karang saat ini tinggi, seiring meningkatnya jumlah kunjungan ke Taman Nasional Komodo. Setiap tahun, peningkatan kunjungan terjadi sekitar 30 persen.

"Itu sekarang yang sedang kita awasi, selain dari nelayan. Sekarang ini, kita menerapkan pengawasan yang cukup ketat ke wisatawan. Minimal lima orang wisatawan harus dijaga oleh satu orang dari petugas kita," kata Ande Kefi.  

Taman Nasional Komodo memiliki tiga pulau utama, yaitu Pulau Komodo, Rinca dan Padar, serta puluhan pulau kecil di sekitarnya. TN Komodo memiliki luas total 180 ribu hektar, terdiri dari 60 ribu hektar luas daratan dan 120 ribu hektar luas perairan.

Taman Nasional Komodo merupakan jantung segitiga terumbu karang dengan keanekaragaman hayati laut paling kaya di dunia.

Taman Nasional ini memiliki sejumlah titik penyelaman yang tersebar di Labuan Bajo, Pulau Komodo, dan Pulau Rinci dengan karakteristik masing-masing. Salah satunya adalah Manta Point.  Selain perairan Komodo Labuan bajo, juga perairan di Pulau Alor. Di sana memiliki 50 titik menyelam yang tersebar sampai ke Pulau Pantar.
 


Baca juga:


Sebelumnya, kondisi terumbu karang di perairan Kabupaten Raja Ampat Papua Barat menjadi sorotan, pasca kandasnya kapal pesiar Caledonian Sky sepanjang 90 meter.

Menko Maritim Luhut Panjaitan menyatakan dari 19 ribu meter persegi terumbu karang di Raja Ampat, kerusakan terumbu karang mencapai sekitar 13 ribu meter persegi. Ia memperkirakan butuh waktu antara 50 hingga 150 tahun untuk memulihkan terumbu karang tersebut.

Baca juga:

 
Editor: Agus Luqman 

Komentar

Beri Komentar

KBR percaya pembaca situs ini adalah orang-orang yang cerdas dan terpelajar. Karena itu mari kita gunakan kata-kata yang santun di dalam kolom komentar ini. Kalimat yang sopan, menjauhi prasangka SARA (suku, agama, ras dan antargolongan), pasti akan lebih didengar. Yuk, kita praktikkan!

Kalau Tak Setuju Ide Tes Keperawanan, Jangan Menyerang!

  • Jokowi: Kita Lebih Ingat Saracen, Ketimbang Momentum
  • SBY Bertemu Mega di Istana, JK: Bicara Persatuan
  • 222 Triliun Anggaran Mengendap, Jokowi Siapkan Sanksi Bagi Daerah
  • Wiranto Ajak 5 Negara Keroyok ISIS di Marawi
  • Jokowi: Dulu Ikut Presidential Threshold 20 Persen, Sekarang Kok Beda...

Saracen, Analisis PPATK sebut Nama Besar

  • Bentuk Densus Tipikor, Mabes Minta Anggaran Hampir 1 T
  • Bareskrim Sita Jutaan Pil PCC di Surabaya
  • Konflik Myanmar, Tim Pencari Fakta PBB Minta Tambahan Waktu