Tuduh Indonesia Curangi Perdagangan, Menlu: Trump Tak Komprehensif

"..mungkin di satu pihak, Amerika berada di posisi defisit, tetapi untuk kerja sama di bidang lain mungkin dia lebih diuntungkan."

Kamis, 06 Apr 2017 19:46 WIB

Menteri Luar Negeri Retno Marsudi (Foto: setkab.go.id)

AUDIO

{{ currentTime | hhmmss }} / {{ track.duration / 1000 | hhmmss }}


KBR, Jakarta- Menteri Luar Negeri Retno Marsudi menyatakan tuduhan Presiden Amerika Serikat Donald Trump yang menyebut Indonesia telah mencurangi perdagangan bilateral dengan negaranya, tidak komprehensif. Retno mengatakan, hubungan bilateral selalu menganut hukum memberi dan menerima. Sehingga, ujarnya, apabila dalam hubungan dagang dengan Indonesia, AS mengalami defisit, pasti ada sektor sektor lain yang negara tersebut sangat diuntungkan.

"Executive order itu kan hak kedaulatannya dia, itu hak dia mengeluarkan, ya sudah. Ini kan yang dibahas adalah trade in goods, mengenai perdagangan. Ada urusan terkait services dan lain-lain, yang tidak dilakukan secara total, secara tidak komprehensif oleh Amerika," kata Retno di kantor Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian, Kamis (06/04/17).

"Seharusnya itu dilakukan juga, sehingga kita bisa melihat, mungkin di satu pihak, Amerika berada di posisi defisit, tetapi untuk kerja sama di bidang lain mungkin dia lebih diuntungkan," tambahnya lagi.

Retno mengatakan, hari ini dia sudah bertemu dengan Duta Besar Amerika untuk Indonesia Joseph R Donovan Jr., membicarakan permintaan Trump soal penyelidikan negara yang dianggapnya curang dalam perdagangan internasional. Menurut Retno, Trump memang berhak untuk menyelidiki negara yang menjadi mitra dagangnya. Namun dalam hubungan tersebut, kata Retno, Trump juga harus melihat sektor lainnya. Pasalnya, bisa saja dikerja sama lainnya AS menjadi negara yang sangat diuntungkan.

Retno berujar, hubungan bilateral selalu berasas saling menguntungkan. Apalagi, hubungan itu pasti sudah terikat dengan aturan di Organisasi Dagang Dunia. Sehingga, tak ada kecurangan, seperti yang dituduhkan Trump.

Sebelumnya, Presiden Amerika Serikat Donald Trump memerintahkan penyelidikan terhadap defisit perdagangan AS, serta membuat kebijakan menolak importasi. Penyelidikan itu akan mengumpulkan data perdagangan Amerika Serikat yang mengalami defisit hingga USD 500 miliar atau Rp 6.675 triliun.

Trump juga menuduh Indonesia sebagai salah satu negara yang menyebabkan defisit perdagangan AS terlalu dalam. Dalam catatannya, AS menyebut pada 2016, defisit perdagangan AS dengan Indonesia mencapai USD 8,84 miliar dolar AS atau Rp 118 triliun. Negara lain yang juga AS tuduh curang yakni Tiongkok, Jepang, Jerman, Meksiko, Irlandia, Vietnam, Italia, Korea Selatan, Malaysia, India, Thailand, Prancis. Swiss, Taiwan, serta Kanada.

Editor: Dimas Rizky

Komentar

Beri Komentar

KBR percaya pembaca situs ini adalah orang-orang yang cerdas dan terpelajar. Karena itu mari kita gunakan kata-kata yang santun di dalam kolom komentar ini. Kalimat yang sopan, menjauhi prasangka SARA (suku, agama, ras dan antargolongan), pasti akan lebih didengar. Yuk, kita praktikkan!

Kalau Tak Setuju Ide Tes Keperawanan, Jangan Menyerang!

  • Jokowi: Kita Lebih Ingat Saracen, Ketimbang Momentum
  • SBY Bertemu Mega di Istana, JK: Bicara Persatuan
  • 222 Triliun Anggaran Mengendap, Jokowi Siapkan Sanksi Bagi Daerah
  • Wiranto Ajak 5 Negara Keroyok ISIS di Marawi
  • Jokowi: Dulu Ikut Presidential Threshold 20 Persen, Sekarang Kok Beda...

Bawaslu RI Keluarkan Rekomendasi Pembatalan Calon Bupati Jayapura

  • Dianggap Buron, Aktivis Nelayan Budhi Tikal Ditangkap Polisi
  • Polisi Ringkus 4 Pelaku Duel Gladiator
  • Brimob Amankan Rumah Pengungsi Gunung Agung