Indonesia Kecam Serangan Amerika ke Suriah

"Tidak sejalan dengan prinsip-prinsip hukum internasional, dalam menyelesaikan konflik secara damai, sebagaimana disebutkan dalam piagam PBB,"

Jumat, 07 Apr 2017 13:49 WIB

Dubes Amerika Serikat untuk PBB Nikki Haley memperlihatkan foto korban dalam sebuah pertemuan di Dewan Keamanan PBB untuk Suriah di kantor PBB di New York City, New York, Amerika Serikat, Rabu (5/4).

AUDIO

{{ currentTime | hhmmss }} / {{ track.duration / 1000 | hhmmss }}


KBR, Jakarta- Indonesia prihatin atas serangan militer Amerika Serikat terhadap Suriah.  Juru bicara Kementerian Luar Negeri Arrmanatha Natsir mengatakan, serangan rudal Tomahawk yang diluncurkan Presiden Trump ini melanggar prinsip-prinsip hukum internasional.

"Tindakan militer yang dilakukan tanpa persetujuan dari Dewan Keamanan Perserikatan Bangsa Bangsa (DK PBB) tersebut, tidak sejalan dengan prinsip-prinsip hukum internasional, dalam menyelesaikan konflik secara damai, sebagaimana disebutkan dalam piagam PBB," kata Arrmanatha Natsir di Kementerian Luar Negeri, Jumat (7/4/2017).

Baca: Trump Perintahkan Serang Rusia

Arrmanatha menegaskan sikap Indonesia yang mengutuk penggunaan senjata kimia di Suriah yang menelan banyak korban termasuk anak-anak.

"Indonesia menolak penggunaan senjata kimia, oleh siapapun, dan untuk tujuan apapun," kata dia.

Ia menuturkan, Indonesia mendesak semua pihak menahan diri dan mengedepankan dialog dan proses politik yang inklusif di Suriah. Indonesia juga meminta akses kemanusiaan di sana untuk dibuka.

"Indonesia menekankan agar semua pihak menghentikan seluruh tindak kekerasan, menghormati dan melindungi Hak Asasi Manusia (HAM), menyelesaikan konflik melalui perundingan dan diplomasi," tuturnya.

Indonesia mendorong DK PBB tidak berdiam diri membiarkan konflik di Suriah berlarut-larut.

Juru bicara Kementerian Luar Negeri Arrmanatha Natsir mengatakan,  Pemerintah belum berencana menutup kedutaan besar di Damaskus karena masih ada WNI yang berada di sana.

"Kedubes kita di sana, masih tetap buka, masih normal, dan ini akan terus kita lihat perkembangan ke depannya seperti apa," ucapnya. 


Editor: Rony Sitanggang

Komentar

Beri Komentar

KBR percaya pembaca situs ini adalah orang-orang yang cerdas dan terpelajar. Karena itu mari kita gunakan kata-kata yang santun di dalam kolom komentar ini. Kalimat yang sopan, menjauhi prasangka SARA (suku, agama, ras dan antargolongan), pasti akan lebih didengar. Yuk, kita praktikkan!

Gubernur Yogyakarta Pastikan Tindak Tegas Pelaku Aksi Intoleransi

  • Sebagai Panglima Tertinggi, Jokowi Perintahkan Bawahannya Tak Bikin Gaduh
  • Kalau Tak Setuju Ide Tes Keperawanan, Jangan Menyerang!
  • Jokowi: Kita Lebih Ingat Saracen, Ketimbang Momentum
  • SBY Bertemu Mega di Istana, JK: Bicara Persatuan
  • 222 Triliun Anggaran Mengendap, Jokowi Siapkan Sanksi Bagi Daerah

Demi Kesetaraan, Kemenhub Berkeras Batasi Tarif Taksi Online

  • Kasus Hakim Praperadilan Setnov Segera Masuk Sidang Panel KY
  • Kasus Pribumi, Polri Masih Kaji Laporan terhadap Anies Baswedan
  • Pernikahan Usia Anak di NTB Masih Tinggi