Banjir Makin Meninggi, Warga Sebakung Nunukan Butuh Bantuan

“Bantuan belum datang sampai sekarang. Makanya kami minta sama BPBD untuk segera datang ke sini sama-sama kita untuk melihat situasi terakhir,”

Senin, 03 Apr 2017 11:05 WIB

Banjir di kecamatan Sebakung, Nunukan, Kaltara. (Foto: KBR/Adhima S.)

AUDIO

{{ currentTime | hhmmss }} / {{ track.duration / 1000 | hhmmss }}


KBR, Nunukan– Banjir di 6 desa   di kecamatan Sembakung Kabupaten Nunukan Kalimantan Utara semakin meninggi. Kecamatan  terletak di bagian hilir aliran Sungai Sembakung. 

Camat Kecamatan Sembakung Zulkifli mengatakan, air yang merendam rumah penduduk sejak  Sabtu lalu justru mulai meninggi pada Senin pagi.

“Tempat kita kan daerah terdampak ini, wilayah akhir dari pada Sungai Sembakung. Nanti terendamnya di sini pasti lama. Sampai pagi tadi naiknya sudah 40 centi, ini terus naik ini. Desa Atap warganya sudah mulai mengungsi karena air sudah merendami rumah warga semua sudah tidak bisa untuk bertahan,” ujar Camat Sembakung Zulkifli Senin (03/04/2017).

Memasuki hari ketiga direndam banjir, warga di Kecamatan Sembakung belum menerima bantuan makanan obat-obatan maupun perahu untuk evakuasi. Zulkifli mengatakan, saat ini warga sangat membutuhkan makanan, obat obatan, selimut untuk bayi serta perahu karet untuk mengevakuasi warga yang terjebak banjir di rumah mereka.

“Bantuan belum datang sampai sekarang. Makanya kami minta sama BPBD untuk segera datang ke sini sama-sama kita untuk melihat situasi terakhir,” imbuh Zulkifli.

Selain merendam ratusan rumah warga, banjir juga merendam beberapa fasilitas umum seperti Puskesmas dan bangunan sekolah. Pasien yang menjalani rawat inap di Puskesmas Kecamatan Sembakung terpaksa diungsikan. Sementara beberapa sekolah terpaksa diliburkan karena bangunan sekolah masih banyak yang terendam banjir.

Editor: Rony Sitanggang 

Komentar

Beri Komentar

KBR percaya pembaca situs ini adalah orang-orang yang cerdas dan terpelajar. Karena itu mari kita gunakan kata-kata yang santun di dalam kolom komentar ini. Kalimat yang sopan, menjauhi prasangka SARA (suku, agama, ras dan antargolongan), pasti akan lebih didengar. Yuk, kita praktikkan!