Banjir Hancurkan 40 Hektar Kebun Kakao dan Karet di Aceh Tenggara

Kebanyakan batang pohon di perkebunan itu patah atau tertimbun lumpur maupun material banjir. Padahal, seluruh tanaman karet dan coklat itu sudah berproduksi.

Jumat, 21 Apr 2017 14:46 WIB

Hamparan perkebunan milik Warga di Desa Lawe Sigala Barat, Kecamatan Lawe Sigala-gala, Kabupaten Aceh Tenggara rusak tertimbun lumpur banjir bandang, April 2017. (Foto: Erwin Jalaluddin/KBR)


KBR, Aceh Tenggara – Sekitar 43 hektare area perkebunan kakao dan karet di Kabupaten Aceh Tenggara, Provinsi Aceh rusak pasca diterjang banjir bandang pekan lalu. Dari luas 43 hektare itu, sebagian besar adalah tanaman coklat.

Sekretaris Dinas Pertanian Tanaman Pangan Perkebunan Aceh Tenggara, Bustamim mengatakan hampir sebagian besar kebun yang rusak itu berada di kawasan perbukitan. Kebanyakan batang pohon di perkebunan itu patah atau tertimbun lumpur maupun material banjir. Padahal, kata Bustamim, seluruh tanaman karet dan coklat itu sudah berproduksi.

Bustamim memperkirakan kerugian akibat rusaknya perkebunan kakao dan karet itu mencapai puluhan atau ratusan juta rupiah. Kerusakan kebun di Kecamatan Semadam seluas 14,25 hektare dan di Kecamatan Lawe Sigala-gala mencapai 29,15 hektare.

"Perkebunan yang terkena dampak bencana itu berada di atas pegunungan atau perbukitan. Wilayah itu dilalui air banjir dan bebatuan hingga membuat rusak perkebunan. Ada yang patah, ada yang mati mungkin terhantam batu," kata Bustamim kepada KBR, Jumat (21/4/2017).

Banjir penyebab kerusakan itu menerjang 14 desa di dua kecamatan di Kabupaten Aceh Utara pada Selasa 11 April lalu. Banjir merusak lebih dari 500 unit rumah, baik rusak berat maupun rusak ringan.

Akibatnya, sebanyak 812 keluarga atau sekitar 3.501 jiwa mengungsi ke tempat-tempat ibadah maupun tenda-tenda sementara. Selain itu puluhan hektar lahan padi juga mengalami gagal panen karena banjir.

Baca juga:


Editor: Agus Luqman 

Komentar

Beri Komentar

KBR percaya pembaca situs ini adalah orang-orang yang cerdas dan terpelajar. Karena itu mari kita gunakan kata-kata yang santun di dalam kolom komentar ini. Kalimat yang sopan, menjauhi prasangka SARA (suku, agama, ras dan antargolongan), pasti akan lebih didengar. Yuk, kita praktikkan!

Dirjen AHU Freddy Harris soal Pencabutan Badan Hukum Ormas HTI

  • Bagi-Bagi Kopi di Filosofi Kopi 2
  • (Wawancara) Batal Temui Luhut, Senator Australia Kecewa
  • PDIP: Jika Tak Kompak Dukung Pemerintah, Silakan PAN Keluar Dari Koalisi
  • Indonesia Turki Sepakati Perangi Terorisme Lintas Negara
  • Alasan Polisi Hentikan Kasus Kaesang

DPR Sahkan UU Pemilu, Jokowi : Sistem Demokrasi Berjalan Baik

  • Gerindra Yakin MK Batalkan Pasal Pencalonan Presiden di UU Pemilu
  • UU Pemilu Untungkan Jokowi
  • Hampir Empat Bulan, Jadup Banjir Aceh Tenggara Belum Cair

Perkawinan anak dibawah usia minimal, menjadi hal memprihatinkan yang seharusnya menjadi perhatian dari pemerintah apabila benar-benar ingin melindungi anak-anak sebagai generasi penerus Bangsa.