Revisi KUHP, Ini Alasan Kontras Tolak Pasal Penghinaan Presiden

"Siapapun yang mengalami penghinaan, tentu bisa melaporkan ke yang berwajib, termasuk presiden."

Jumat, 09 Feb 2018 11:24 WIB

Pasal penghinaan presiden dalam RKHUP

AUDIO

{{ currentTime | hhmmss }} / {{ track.duration / 1000 | hhmmss }}

KBR, Jakarta- Komisi untuk Orang Hilang dan Korban Tindak Kekerasan (Kontras) menolak pasal penghinaan pada presiden masuk dalam Rancangan Kitab Undang-undang Hukum Pidana. Kepala Bidang Advokasi Kontras Putri Kanesia mengatakan, pasal penghinaan kepada presiden tak perlu dibuat spesifik dengan membedakannya dengan masyarakat umum.

Apalagi, kata putri, pasal tersebut diusulkan bukan berupa delik aduan, melainkan delik umum, yang berarti siapa saja bisa melaporkan sang penghina ke polisi.

"Berarti kalau misalnya kita tidak setuju dengan pasal penghinaan presiden, berarti presiden boleh serta-merta dihina? Tentunya tidak. Poinnya adalah siapapun yang mengalami penghinaan, tentu bisa melaporkan ke yang berwajib, termasuk presiden. Tetapi, dia bisa datang atas dirinya sendiri untuk melaporkan terkait kasus penghinaan saja. Jadi tidak perlu ada pasal spesifik ada pasal penghinaan pada presiden" Ujar Putri di kantornya, Kamis (08/02/2018).

Putri mengatakan, saat ini sudah ada pasal penghinaan yang bisa digunakan oleh  siapapun yang merasa terhina, melalui delik aduan. Sehingga, kata dia, presiden sebagai warga negara Indonesia juga bisa menggunakan pasal tersebut apabila mengalami penghinaan, tanpa perlu dibuatkan pasal secara khusus. 

Selain itu, menurut Putri, pasal penghinaan juga tak perlu dibuat menjadi delik umum. Alasannya, definisi kritik dan penghinaan masih sangat diperdebatkan, sehingga siapa saja bisa dengan mudah melaporkan orang lain karena menganggap menghina presiden.

Menurut Putri, presiden sebagai pejabat publik harus siap dikritik publik, karena sifat kerjanya yang juga mewakili masyarakat. Sehingga, kata dia, pernyataan publik mengenai kinerja presiden juga harus dilihat sebagai kritik, bukan penghinaan. 


Editor: Rony Sitanggang

Komentar

Beri Komentar

KBR percaya pembaca situs ini adalah orang-orang yang cerdas dan terpelajar. Karena itu mari kita gunakan kata-kata yang santun di dalam kolom komentar ini. Kalimat yang sopan, menjauhi prasangka SARA (suku, agama, ras dan antargolongan), pasti akan lebih didengar. Yuk, kita praktikkan!

Lies Marcoes Bicara Soal Perempuan dan Anak Dalam Terorisme

  • Begini Kata Wapres JK soal Ricuh di Mako Brimob
  • Perlambat Izin Usaha, Jokowi Siap Hajar Petugas
  • Kasus Novel Jadi Ganjalan Jokowi pada Pemilu 2019
  • Jokowi Perintahkan Polisi Kejar MCA sampai Tuntas

152 Napiter Mako Brimob Ditempatkan di 3 Lapas Nusakambangan

  • Abu Afif, Napi Teroris dari Mako Brimob Dirawat di Ruang Khusus RS Polri
  • Erupsi Merapi, Sebagian Pengungsi Kembali ke Rumah
  • Jelang Ramadan, LPG 3 Kg Langka di Rembang

Indonesia masih menghadapi masalah jumlah penduduk yang besar dengan tingkat pertumbuhan yang tinggi. Pertambahan jumlah penduduk tidak seimbang dengan pertumbuhan kesempatan kerja.