Kalbar Dilanda Kabut Asap Kebakaran Hutan, Kapolda: Pelaku Pembakaran Akan Saya Ringkus!

"Ini sudah mengganggu penerbangan, mengganggu transportasi darat. Jarak pandang yang tadinya bisa 20 hingga 25 meter, kini hanya dua hingga tiga meter saja gara-gara asap. Ini bisa kecelakaan."

Senin, 19 Feb 2018 13:33 WIB

Tim Kepolisian dan BPBD Kota Pontianak memadamkan kebakaran di lahan gambut di Kalimantan Barat. (Foto: KBR/Edho Sinaga)

AUDIO

{{ currentTime | hhmmss }} / {{ track.duration / 1000 | hhmmss }}

KBR, Pontianak - Kabut asap akibat kebakaran hutan dan lahan melanda berbagai kawasan di Provinsi Kalimantan Barat selama sepekan terakhir. Kabut asap sudah mengganggu aktivitas warga. 

Kabut asap itu antara lain muncul dari kebakaran lahan gambut di Kota Pontianak, Kabupaten Kubu Raya dan Kabupaten Mempawah.

Kapolda Kalimantan Barat Didi Haryono mengancam akan memenjarakan para pelaku pembakaran hutan dan lahan. Sesuai Undang-undang Lingkungan Hidup, para pembakar lahan terancam hukuman 10 tahun penjara.

"Ini sudah mengganggu penerbangan, mengganggu transportasi darat. Jarak pandang yang tadinya bisa 20 hingga 25 meter, kini hanya dua hingga tiga meter saja gara-gara asap. Ini bisa mengakibatkan kecelakaan. Begitu juga untuk pesawat, karena kabut asap bisa-bisa tidak landing. Ini mengganggu. Saya ingatkan bagi pembakar lahan, akan saya ringkus, dan diancam hukuman 10 tahun penjara, dan denda Rp10 miliar," tegas Didi, di Pontianak, Senin (19/2/2018).

Berdasarkan data pantauan satelit yang dicatat Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) Supadio Pontianak, titik panas atau hotspot mencapai 78 titik yang tersebar di seluruh Kalimantan Barat. Titik panas terbanyak berada di Kubu Raya, Pontianak serta Mempawah. 

Baca juga:

Prakirawan BMKG Supadio Pontianak, Debi mengatakan titik api terbanyak berada di Kabupaten Mempawah sebanyak 30 hotspot, kemudian Ketapang 24 titik api, dan sebanyak di Kabupaten Kubu Raya serta Pontianak mencapai 15 titik api.

"Memang ada peningkatan titik api dari hari sebelumnya selama sepekan ini. Namun penyebarannya selalu berubah-ubah, atau berbeda-beda. Misalnya, dalam satu daerah bisa berkurang ataupun bertambah setiap harinya," kata Debi.

BMKG mencatat suhu udara di Kalbar masih terbilang normal, yakni di angka tertinggi 33 derajat Celcius. Namun, akibat lahan yang telah lama tidak basah akibat tersiram air hujan, maka api diprediksi mudah menyebar. Kondisi itu bisa menyebabkan kebakaran hutan dan lahan serta menambah jumlah titik api.

Salah seorang warga yang tinggal di Pontiana, Marjani turut serta membantu Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kota Pontianak memadamkan titik kebakaran lahan di sekitar rumahnya. 

Marjani mengatakan lahan seluas hampir dua hektare miliknya turut mengalami kebakaran, meski tidak terlalu luas. 

"Malam pun saya jaga. Kalau apinya merembet ya saya siram, saya semprot begitu. Sekarang sih udah ada paritnya, kalau tidak ada paritnya, ya mana bisa dipadamkan," kata Marjani. 

Editor: Agus Luqman 

Komentar

Beri Komentar

KBR percaya pembaca situs ini adalah orang-orang yang cerdas dan terpelajar. Karena itu mari kita gunakan kata-kata yang santun di dalam kolom komentar ini. Kalimat yang sopan, menjauhi prasangka SARA (suku, agama, ras dan antargolongan), pasti akan lebih didengar. Yuk, kita praktikkan!

Begini Kata Wapres JK soal Ricuh di Mako Brimob

  • Perlambat Izin Usaha, Jokowi Siap Hajar Petugas
  • Kasus Novel Jadi Ganjalan Jokowi pada Pemilu 2019
  • Jokowi Perintahkan Polisi Kejar MCA sampai Tuntas
  • MKD DPR: Kalau Ada yang Bilang 'DPR Rampok Semua', Bisa Kami Laporkan ke Polisi

152 Napiter Mako Brimob Ditempatkan di 3 Lapas Nusakambangan

  • Abu Afif, Napi Teroris dari Mako Brimob Dirawat di Ruang Khusus RS Polri
  • Erupsi Merapi, Sebagian Pengungsi Kembali ke Rumah
  • Jelang Ramadan, LPG 3 Kg Langka di Rembang

pernah melihat atau bahkan mengalami sendiri perlakuan diskriminatif / ujaran kebencian di ruang pendidikan, tempat kerja, lembaga pemerintahan, dan ruang publik lainnya tapi tidak tahu lapor kemana?