Talangsari, Siapa yang Peduli?

Penyelidikan Komnas HAM selama bertahun-tahun hingga 2007 menyebutkan dugaan keterlibatan tiga orang bekas petinggi militer: AM Hendropriyono, Try Soetrisno dan Wismoyo Arismunandar.

Selasa, 07 Feb 2017 07:31 WIB

Ilustrasi: Tragedi Talangsari

Ilustrasi: Tragedi Talangsari

AUDIO

{{ currentTime | hhmmss }} / {{ track.duration / 1000 | hhmmss }}

7 Februari 1989, tepat 28 tahun lalu. Komandan Korem Garuda Hitam Lampung, Kolonel AM Hendropriyono mengerahkan tiga peleton atau sekitar 90 tentara ditambah 40-an Brimob. Pasukan itu menyerbu perkampungan Cihideung, Talangsari, Kecamatan Way Jepara, Lampung. Penyerbuan dilakukan dengan dalih wilayah itu menjadi basis gerakan Komando Mujahidin Fisabilillah. Serbuan secara militer itu mengakibatkan puluhan atau ratusan orang tewas, hilang, disiksa, ditahan dan diadili paksa bahkan terusir. Talangsari dibakar.

Tentara menyalahkan mereka sebagai subversif, gerakan pengacau keamanan, antipemerintah hingga komunis. Belakangan, kelompok pembela Hendropriyono mengaitkan mereka dengan kelompok Negara Islam Indonesia NII dan kelompok teroris Jamaah Islamiyah. Pembelaan itu dimunculkan di Wikipedia tanpa sumber sama sekali.

Penyelidikan Komnas HAM selama bertahun-tahun hingga 2007 menyebutkan dugaan keterlibatan tiga orang bekas petinggi militer: AM Hendropriyono, Try Soetrisno dan Wismoyo Arismunandar. Try Soetrisno, saat itu Panglima ABRI, menyebut operasi Talangsari sebagai 'penumpasan hingga ke akar-akarnya'. Mereka tak pernah memenuhi panggilan yang berkali-kali dilayangkan Komnas HAM. Pejabat militer juga memerintahkan eks militer lain tidak memenuhi panggilan Komnas HAM.

Bertahun-tahun lamanya keluarga korban Talangsari menuntut keadilan, di tengah bujukan, teror dan intimidasi dari pihak-pihak yang tidak menginginkan kasus itu terungkap. Hendropriyono terus berupaya berdamai dengan korban dan keluarganya, dengan imbalan materi atau kesempatan kerja. Syaratnya: lupakan kasus Talangsari.

Bertahun-tahun juga, pemerintah diam. Bahkan AM Hendropriyono diangkat menjadi Kepala BIN, di masa pemerintahan SBY. Presiden Joko Widodo juga tidak menyentuh Hendropriyono, yang malah sempat jadi penasihat tim transisi. Kini kasus Talangsari masuk daftar kasus yang diselesaikan lewat jalur non yudisial. 

Talangsari sudah 28 tahun lalu, dan sepertinya sengaja tidak dipedulikan agar warga lupa perlahan-lahan.  

Komentar

Beri Komentar

KBR percaya pembaca situs ini adalah orang-orang yang cerdas dan terpelajar. Karena itu mari kita gunakan kata-kata yang santun di dalam kolom komentar ini. Kalimat yang sopan, menjauhi prasangka SARA (suku, agama, ras dan antargolongan), pasti akan lebih didengar. Yuk, kita praktikkan!

Gubernur Yogyakarta Pastikan Tindak Tegas Pelaku Aksi Intoleransi

  • Sebagai Panglima Tertinggi, Jokowi Perintahkan Bawahannya Tak Bikin Gaduh
  • Kalau Tak Setuju Ide Tes Keperawanan, Jangan Menyerang!
  • Jokowi: Kita Lebih Ingat Saracen, Ketimbang Momentum
  • SBY Bertemu Mega di Istana, JK: Bicara Persatuan
  • 222 Triliun Anggaran Mengendap, Jokowi Siapkan Sanksi Bagi Daerah

Penembak Brimob di Timika Berjumlah 15 Orang

  • Ahli: PNPS Penodaan Agama Langgar HAM Warga Ahmadiyah
  • Jokowi Tunjuk Din Syamsuddin sebagai Utusan Khusus Dialog Antaragama
  • Tak Dapat Bantuan KIS, Puluhan Pemulung Geruduk Gedung DPRD Sumut