Hampir Sembilan Bulan, 100 CCTV Diperiksa, Pelaku Penyerang Novel Baswedan Masih Misteri

Sudah ada 100 kamera CCTV yang diperiksa, dari radius satu kilometer dari lokasi penyerangan Novel Baswedan di dekat Masjid Al-Ikhsan dan rumah Novel di Kelapa Gading, Jakarta Utara.

Senin, 01 Jan 2018 10:16 WIB

Penyidik senior KPK Novel Baswedan saat dirawat di RS Mitra Keluarga, Kelapa Gading, Jakarta Utara, setelah diteror dengan siraman air keras pada Selasa (11/4/2017). (Foto: setkab.go.id/Publik Domain)

KBR, Jakarta - Kepolisian Daerah Metro Jakarta Raya (Polda Metro Jaya) masih terus memeriksa kamera pemantau (CCTV) untuk mencari pelaku penyerangan penyidik KPK Novel Baswedan.

Teror Novel Baswedan terjadi pada Selasa, 11 April 2017 atau delapan bulan 21 hari lalu.

Juru bicara Polda Metro Jaya Argo Yuwono mengatakan sudah ada 100 kamera CCTV yang diperiksa, dari radius satu kilometer dari lokasi penyerangan Novel Baswedan di dekat Masjid Al-Ikhsan dan rumah Novel di kawasan RT 03, Jl Deposito, Kelapa Gading, Jakarta Utara.

Jumlah kamera CCTV yang diperiksa itu bertambah dari jumlah yang diperiksa pada Juli 2017 lalu sebanyak 50 kamera. Kamera CCTV yang diperiksa meliputi kamera milik pemerintah maupun milik warga atau rumah pribadi.

Namun Argo Yuwono mengatakan dari pemeriksaan itu Polri belum menemukan titik terang siapa pelaku penyerangan Novel Baswedan.

"Namanya orang punya CCTV itu ada yang cuma monitor saja tanpa merekam. Ada juga yang cuma merekam selama tiga hari saja. Nggak semua sama, tergantung dari fungsi yang punya CCTV, kecuali itu CCTV punya pemerintah yang di pinggir jalan. Kalau yang pinggir jalan itu punya pemerintah. Kita tanya orang yang punya, kira-kira bisa ngerekam ngga? Ternyata sudah lewat masa rekamnya," kata Argo, saat dihubungi KBR, Minggu (31/12/2017).

Baca juga:

Argo Yuwono mengatakan Polri belum memperluas wilayah pencarian Tempat Kejadian Perkara (TKP)---seperti yang disarankan bekas Wakapolri Oegroseno.

Argo Yuwono juga mengatakan sampai saat ini polisi belum menemukan sosok yang mirip dengan sketsa gambar pelaku atau orang yang memiliki ciri-ciri sama dengan pelaku. Polisi mengklaim sulit mengungkap kasus penyiraman Novel lantaran tidak ada saksi yang benar-benar melihat langsung pelakunya.

Hingga pertengahan Desember lalu, Mabes Polri menerima sekitar 500-an laporan dari masyarakat merespon sketsa pelaku yang dilansir Polda Metro Jaya pada 24 November 2017. Namun dari 500-an laporan itu tidak ada yang benar-benar mengarah pada pelaku.

Polri telah mengirim sketsa pelaku itu ke kepolisian di daerah-daerah melalui Penerangan Satuan dan Wilayah (Pensatwil) Kepolisian daerah.

Penyidik KPK Novel Baswedan mengalami teror penyiraman air keras oleh dua orang yang hingga kini tidak diketahui identitasnya, 11 April, delapan bulan lalu. Akibat serangan itu, mata Novel terancam buta. Hingga kini Novel masih dirawat di Singapura.

Baca juga:

Editor: Agus Luqman 

Komentar

Beri Komentar

KBR percaya pembaca situs ini adalah orang-orang yang cerdas dan terpelajar. Karena itu mari kita gunakan kata-kata yang santun di dalam kolom komentar ini. Kalimat yang sopan, menjauhi prasangka SARA (suku, agama, ras dan antargolongan), pasti akan lebih didengar. Yuk, kita praktikkan!

Kapolri: 2018 Indonesia Banyak Agenda, Mesin Makin Panas

  • Jokowi: Masa Sudah 3-4 Tahun Masih Bawa-bawa Urusan Pilpres
  • SPDP Pemimpin KPK, Jokowi Minta Tak Gaduh
  • Wiranto: Jual Saja Lapas Cipinang untuk Bangun Lapas di Pulau Terpencil

PPATK: Bank Daerah Rawan Digunakan Buat Kepentingan Pilkada

  • Cakupan Imunisasi Campak di Asmat 2017 Hanya 17 Persen
  • Faktor Geografis Jadi Kendali Besar Penanganan Wabah Campak di Asmat
  • Pengganti Sanchez Segera Merapat ke Arsenal

Lewat olahraga kita bisa menyuarakan sesuatu dan bahkan menggalang dana