Khanwali Adil, aktivis Afghanistan yang berjuang menghentikan tradisi Baad. (Foto: Ghayor Waziri)

Khanwali Adil, aktivis Afghanistan yang berjuang menghentikan tradisi Baad. (Foto: Ghayor Waziri)



Baad adalah praktik tradisional untuk menyelesaikan sengketa antara suku Pashtun dengan suku-suku lain di Afghanistan. 

Tradisi ini melibatkan perempuan muda yang dijadikan upeti dari pihak yang bersalah. 

Tapi seperti yang dilaporkan Ghayor Waziri dari Kabul, seorang pemuda Afghanistan mencoba melawan tradisi ini.

Tradisi Baad dilakukan bila ada anggota satu suku membunuh anggota suku lain, biasanya karena perebutan tanah atau sumber daya seperti air.

Para tetua masyarakat kemudian membentuk Jirga atau dewan untuk menengahi konflik dan mencoba mencegah pertumpahan darah lanjutan. 

Jirga biasanya memilih seorang perempuan muda dari keluarga pelaku dan memerintahkan dia untuk menikah dengan pria dari suku korban.

Secara teori, ikatan yang dihasilkan antara dua keluarga dimaksudkan untuk menghentikan kekacauan lebih lanjut. Tapi dalam praktiknya, para perempuan muda lah yang harus merasakan akibatnya.

Khanwali Adil mengatakan sudah waktunya untuk melawan praktik barbar itu.

Adil, 28 tahun, tinggal di sebuah tenda di Kabul, dikelilingi oleh aktivis muda dan mahasiswa.


Tenda warna-warninya dihiasi dengan spanduk foto para perempuan dan diberi tulisan-tulisan yang menyentuh, seperti ‘Perempuan bukan selir kami,’ dan ‘Mari kita akhiri perlakuan tidak manusiawi pada perempuan Afghanistan.’ 

“Saya tahu Baad salah dan tidak adil. Delapan belas bulan yang lalu saya melakukan aksi mogok makan selama lima hari sebagai bentuk protes. Sepuluh tahun lalu, keluarga saya menerima seorang anak perempuan untuk mengakhiri konflik antar suku, ungkap Adil.

“Umur anak itu baru dua tahun waktu diberikan. Itu sangat mengejutkan saya. Tapi keluarga tidak mendukung protes saya. Tidak ada yang mendukung saya, jadi saya meninggalkan rumah.”

Karena Adil melihat langsung langsung kejamnya tradisi Baad, maka dia menentangnya.

Dia berasal dari provinsi pedesaan Paktia. Dua saudara perempuannya, salah satunya baru berusia 12 tahun, diberikan kepada keluarga lain untuk menyelesaikan sengketa. 

Sementara keluarganya menerima seorang gadis dalam insiden serupa lewat tradisi Baad juga.

“Apa yang terjadi dalam keluarga mendorong saya untuk melawan Baad. Saya sudah melakukannya selama enam tahun dan saya tidak bertemu keluarga selama lima tahun,” tutur Adil.

“Saya tidak mau berada dekat rumah karena saudara-saudara lelaki saya adalah panglima perang yang berkuasa dan bersenjata. Mereka mengancam dan menyuruh saya menghentikan aksi protes karena ini membuat malu keluarga.”

Sejak tiba di Kabul, Adil mendapat dukungan dari aktivis masyarakat sipil yang menawarkan bantuan untuk membantu kampanyenya.

Aktivis Nasrullah Safa sudah bekerja sama dan mendukung Adil selama beberapa bulan terakhir.

“Ketika tenda Adil disita polisi di Provinsi Paktia, dia memutuskan untuk pindah ke Kabul. Kami mendukung dia dan membuatkan tenda untuknya sehingga dia bisa melanjutkan aksi protesnya. Dia berunjuk rasa untuk membela perempuan dengan cara yang tepat,” kata Safa.  


Adil mengatakan memulai perjuangan tanpa kekerasan ini untuk membawa perubahan ke wilayah yang dirusak oleh kekerasan dan praktek budaya regresif yang sering menargetkan perempuan yang lemah dan rentan.

Setelah Adil memulai aksi protesnya, organisasi masyakarat sipil lain juga menyatakan dukungan mereka.

Toofan Mangal adalah salah satu aktivis yang terlibat. Dia mengatakan ada banyak tradisi di negeri ini yang tidak Islami atau manusiawi.

Perjuangan Adil, katanya, adalah perjuangan bagi semua warga Afghanistan.

Dan sejauh ini, protes Adil telah berhasil. 

“Pertama, keluarga saya mengembalikan gadis, yang mereka terima sebagai Baad 10 tahun lalu, ke keluarganya. Di Provinsi Paktia ini baru pertama kali terjadi,” jelas Adil.

“Kedua, Dewan Ulama Afghanistan untuk kali pertama menyatakan Baad sebagai sesuatu yang bertentangan dengan Islam. Ketiga, perempuan dan laki-laki bisa mengikuti cara saya dalam melawan Baad.”

Zeba Haidry dari Komnas HAM Afghanistan mengatakan sudah mulai tumbuh kesadaran soal Baad dan banyak tentangan terhadap tradisi itu. 

“Dibandingkan dengan enam bulan pertama tahun lalu, jumlah pernikahan Baad menurun tahun ini. Penyebab utamanya adalah kesadaran publik yang makin meningkat dan deklarasi para ulama. Sebelumnya ulama hanya diam tapi setelah aksi protes Adil, mereka menyatakan Baad sebagai sebuah kejahatan,” kata Haidary. 

Dalam Baad, seringkali pengantin perempuan masih remaja atau bahkan lebih muda. Mereka harus menikah dengan pria tua berusia 50 atau 60 tahun dari keluarga korban.

Tidak ada angka resmi jumlah kasus Baad, tapi masih ada orang di negeri ini, terutama di daerah terpencil, yang mendukungnya.

Salah satunya adalah mahasiswa berusia 20 tahun bernama Ahmad Shekeb, yang pindah ke Kabul untuk menyelesaikan kuliahnya.

“Saya tahu kalau kejahatan adalah kasus pribadi dan saya berharap saudara atau anak perempuan saya tidak perlu membayarnya. Tapi kadang ketika Anda ingin pembunuhan dan perkelahian antara dua keluarga atau suku bisa dihentikan, harus ada yang berkorban. Itu sebabnya menurut saya tradisi Baad itu bagus,” bela Shikeb. 

Tapi bagi Khanwali Adil, para gadis yang dipaksa terlibat dalam Baad, tidak pernah hidup sebagai istri. Hidup mereka lebih mirip budak untuk seluruh keluarga dan diperlakukan seperti binatang.

Dan Adil bersumpah akan terus berunjuk rasa sampai tradisi ini diakhiri.

 

Bagikan berita ini :

Komentar

Beri Komentar

KBR percaya pembaca situs ini adalah orang-orang yang cerdas dan terpelajar. Karena itu mari kita gunakan kata-kata yang santun di dalam kolom komentar ini. Kalimat yang sopan, menjauhi prasangka SARA (suku, agama, ras dan antargolongan), pasti akan lebih didengar. Yuk, kita praktikkan!