Para relawan di New Delhi mengumpulkan bantuan bagi korban banjir Chennai. (Foto: Bismillah Geelani)

Para relawan di New Delhi mengumpulkan bantuan bagi korban banjir Chennai. (Foto: Bismillah Geelani)

Kehidupan kembali normal di ibukota negara bagian Tamil Nadu, Chennai, pasca banjir bandang pekan lalu.

Banjir itu merenggut ratusan korban jiwa dan mempengaruhi jutaan penduduk. 

Seperti yang dilaporkan Bismillah Geelani, yang kini disoroti adalah apa penyebab bencana dan adakah kaitan bencana ini dengan pembangunan yang berlebihan.

Di luar sebuah rumah sakit di Chennai, Savithri yang berusia 35 tahun memegang foto suaminya, Rajendran.

Suaminya adalah  pekerja bangunan. Setiap hari dia berangkat kerja naik sepeda, tapi hari itu dia tidak pulang ke rumah. Lima hari pasca bencana, dia masih belum ditemukan.

“Tidak ada yang bisa mengatakan kepada saya di mana dia. Saya sudah mendatangi semua rumah sakit dan kamar mayat sambil membawa fotonya. Tapi dia tidak ditemukan. Kemana saya harus mencari lagi? Apa yang harus saya lakukan? Saya benar-benar hancur. Jika dia mati setidaknya tunjukkan mayatnya. Dia tidak bisa menghilang begitu saja,” kata Savithri.

Seperti Rajendran, banyak orang yang hilang pasca banjir bandang yang melanda pusat IT India, Chennai, awal bulan ini.

Hujan deras tanpa henti mengguyur kota itu selama beberapa hari. Ini dipercaya sebagai hujan terbesar dalam satu abad yang menenggelamkan hampir seluruh kota.

Ramananda yang berusia 45 tahun tinggal di daerah kumuh yang kini sudah tersapu bersih.

“Saya kehilangan segalanya. Kami tidak mengerti bagaimana air sebanyak itu masuk kemari dalam hitungan menit dan menyapu semuanya. Semuanya terbawa air, rumah, pakaian, barang-barang bahkan manusia. Yang tersisa hanya pakaian yang melekat di badan.”

Menurut sumber pemerintah, ada  sekitar tiga ratus orang tewas dan lebih dari empat juta orang yang terdampak.

Menteri Dalam Negeri Rajnath Singh, mengatakan sebuah komite sudah dibentuk untuk melakukan kajian rinci dan akan melaporkah hasilnya dalam dua pekan ke depan.

Dengan makin surutnya ketinggian air, Pasukan Tanggap Darurat Bencana Nasional bersama pasukan Angkatan Darat dan Angkatan Udara bergerak menjangkau mereka yang membutuhkan bantuan.

Relawan seperti Rakesh Kumar mencoba membantu ribuan korban dengan membawa mereka ke tempat penampungan, seperti sekolah, kuil dan masjid.

“Ketinggian air di  dalam rumah saya lebih dari satu meter. Tapi sejauh ini kami belum mendapat bantuan. Cadangan makanan kami sangat sedikit dan kami tidak punya air minum. Kami tidak punya apa-apa di sini tapi kami membantu sebanyak mungkin orang dengan membawa mereka ke tempat penampungan,” kata Kumar. 

Banyak warga khawatir dengan sanitasi yang buruk karena sistem drainase yang tidak berfungsi. Dan ada ancaman nyata munculnya wabah penyakit. Seiring kembali normalnya kehidupan di Chennai, fokus masalah kini beralih ke penyebab banjir bandang ini.

Pakar lingkungan seperti Om Praksh Sharma mengatakan ini ada hubungannya dengan pemanasan global.

“Ini bukti dari dampak gas rumah kaca. Karena hal-hal dasar yang kita ketahui tentang perubahan iklim adalah meningkatnya suhu permukaan laut yang menyebabkan badai. Dan karena kita hidup di daerah tropis, kerusakan lingkungan manapun akan mempengaruhi kita. Jadi perubahan iklim adalah salah satu faktor.”

Tapi perencana perkotaan seperti Jamal Ansari mengatakan pembangunan di daerah aliran sungai lah penyebabnya.

“Sebelumnya, kota ini dibangun di daerah yag jauh dari sungai. Tapi sekarang kita membangun di daerah aliran sungai. Ini menyebabkan daerah ini jadi rawan banjir.”

Chennai dikenal sebagai kota IT dan pendidikan di India. Selama beberapa tahun terakhir, ratusan lembaga pendidikan berdiri di kota ini untuk mengakomodasi meningkatnya jumlah siswa. Dan hampir semua kampus ini dibangun di atas tanah rawa di sepanjang Sungai Adyar.

Menurut jurnalis senior Rajesh Sundaram, ada kaitan antara mafia tanah dan politisi. “Sampai semua politisi sepakat untuk menghentikan ini dan memperbaiki apa yang sudah dilakuan, situasi semacam ini akan terus terjadi.”

Kabar soal banjir Chennai juga bergema di pertemuan iklim Paris, dimana beberapa pemimpin dunia mendesak India untuk mengurangi jejak karbonnya.

 

Bagikan berita ini :

Komentar

Beri Komentar

KBR percaya pembaca situs ini adalah orang-orang yang cerdas dan terpelajar. Karena itu mari kita gunakan kata-kata yang santun di dalam kolom komentar ini. Kalimat yang sopan, menjauhi prasangka SARA (suku, agama, ras dan antargolongan), pasti akan lebih didengar. Yuk, kita praktikkan!