Komunitas Aborigin Tolak Fasilitas Penyimpanan Limbah Nuklir

Sebagian besar limbah dihasilkan dari pengobatan dan radioterapi nuklir.

Senin, 21 Nov 2016 11:59 WIB

Komunitas Aborigin di kota Hawker, selatan Australia, menolak rencana pembangunan fasilitas penyimpa

Komunitas Aborigin di kota Hawker, selatan Australia, menolak rencana pembangunan fasilitas penyimpanan limbah nuklir di sana. (Foto: Jarni Blakkarly)


Pemerintah Australia telah lama berupaya menemukan tempat untuk menyimpan limbah nuklir tingkat rendah dan menengah negara itu. Sebagian besar limbah dihasilkan dari  pengobatan dan radioterapi nuklir.

Tapi usulan membuat fasilitas penyimpanan di pedalaman Australia telah memecah belah kota terdekat. Masyarakat Aborigin di sana menentang rencana itu dan berjanji akan melawan.

Koresponden Asia Calling KBR, Jarni Blakkarly, berkunjung ke Flinders Rangers, di kota Hawker yang terpencil di Australia Selatan, untuk mencari tahu lebih lanjut.

Flinders Rangers diberi nama sesuai dengan nama penjelajah Inggris yang menjelajahi gunung-gunung terpencil di sini di awal abad ke-19.

Tapi nenek moyang Regina McKenzie sudah menyusuri pegunungan ini puluhan ribu tahun sebelum itu.

“Bukit di sana itu adalah pemberi hukum. Setiap bukit adalah bagian dari cerita nenek moyang kami. Mereka adalah masa lalu, masa kini dan masa depan kami,” kata Regina.

Hari ini Regina dan adiknya Heather membawa saya ke sebuah lubang air suci, sebuah oasis kuno di daerah kering yang luasnya mencapai ribuan mil.

Tempat ini hanya beberapa ratus meter dari tempat yang diusulkan pemerintah federal untuk membangun fasilitas penyimpanan limbah nuklir.


Limbah nuklir tingkat rendah dan menengah seluruh Australia, yang dihasilkan dari pengobatan radioterapi dan percobaan lainnya, saat ini disimpan di rumah sakit dan tempat-tempat lainnya.

Selama beberapa dekade, pemerintah telah mencari tempat untuk membangun satu fasilitas penyimpanan semua limbah nuklir. Tapi upaya sebelumnya gagal terutama karena penolakan masyarakat.

“Lahan seluas 25 ribu hektar ini bagi negara adalah properti yang relatif kecil dan saat ini digunakan untuk menggembalakan ternak,” jelas Grant Chapman yang tinggal di ibukota Australia Selatan, Adelaide. 

Tahun lalu ketika pemerintah meminta pemilik tanah mengajukan lahan mereka untuk dijadikan fasilitas penyimpanan, dia menawarkan tanahnya dekat Hawker.

Limbah nuklir memang akan disimpan di tanah Chapman tapi tanah sekitarnya adalah tanah adat, tempat tinggal Regina dan lainnya.

Chapman adalah bekas senator. Dia mengaku perannya di komite pencari tempat penyimpanan nuklir, menjadi alasan penawarannya.

“Kami mencapai kesimpulan harus ada fasilitas penyimpanan terpusat untuk limbah radioaktif tingkat rendah di Australia. Ini adalah cara terbaik dan paling aman untuk menyimpannya ketimbang menyimpannya di universitas, rumah sakit dan lokasi industri yang tidak dirawat dengan benar,” bela Grant.

Salah satu alasan pemilihan tempat ini karena pemerintah mengklaim besarnya dukungan masyarakat atas usulan ini.


Tapi masyarakat terbagi. Beberapa mendukung usulan itu sementara yang lain sangat menentangnya.

Kelompok yang menentang khawatir dengan keamanan fasilitas penyimpanan karena daerah ini rawan banjir dan gempa kecil.

Selain itu ada ketidakpercayaan masyarakat yang menganggap fasilitas penyimpanan nuklir ini menjadi pintu masuk bagi proyek nuklir yang lebih besar.

Hawker adalah sebuah kota kecil berpenduduk 250 jiwa dan jumlah itu terus menurun.

Pertanian dan pariwisata adalah dua bisnis yang tersisa sejak industri lain di kota ini tutup.

Ian Carpenter adalah wakil ketua dewan pembangunan Hawker. Dia mengatakan fasilitas nuklir akan membuka sekitar 15 jenis lowongan pekerjaan, yang bisa membantu mengamankan masa depan kota itu.

“Banyak orang yang pindah, sehingga orang muda yang tersisa di kota ini tidak banyak. Delapan belas tahun lalu, di kota ini ada 28 usaha dan sekarang tinggal enam. Jadi bagaimana kondisinya 18 tahun lagi? Fasilitas ini akan membawa perubahan bagi daerah kami,” tutur Ian.

Tidak ada yang tahu kalau usulan ini akan diteruskan pada tahap ini. Saat ini pemerintah sedang melakukan kajian lanjutan soal kondisi geologi dan komunitas daerah situ. Diperkirakan keputusan final akan keluar satu tahun ke depan. 

Kembali ke tempat air suci bersama Regina dan adiknya. Dia bercerita pada saya tempat ini adalah tempat penyembuhan khusus untuk perempuan.

Meski pemerintah mengatakan sebagian besar dari rencana ini akan bermanfaat bagi pembangunan ekonomi masyarakat adat, Regina percaya melindungi budaya dan warisan mereka dari kerusakan jauh lebih penting.

“Dalam budaya kami, kami harus menjaga keseimbangan dalam segala hal. Dan menempatkan pembuangan limbah di sini akan mengganggu keseimbangan. Ini adalah sumber cerita, tanah dan warisan kami,” kata Regina. 

“Saya percaya orang-orang kami, membayar harga yang mahal dan hampir punah, ketika kami dijajah. Dan saya percaya, kami punya hak untuk mengatakan tidak. Anda tidak bisa terus menghancurkan kami karena ketika mereka menghancurkan tanah, mereka menghancurkan kami.”


Komentar

Beri Komentar

KBR percaya pembaca situs ini adalah orang-orang yang cerdas dan terpelajar. Karena itu mari kita gunakan kata-kata yang santun di dalam kolom komentar ini. Kalimat yang sopan, menjauhi prasangka SARA (suku, agama, ras dan antargolongan), pasti akan lebih didengar. Yuk, kita praktikkan!

Kalau Tak Setuju Ide Tes Keperawanan, Jangan Menyerang!

  • Jokowi: Kita Lebih Ingat Saracen, Ketimbang Momentum
  • SBY Bertemu Mega di Istana, JK: Bicara Persatuan
  • 222 Triliun Anggaran Mengendap, Jokowi Siapkan Sanksi Bagi Daerah
  • Wiranto Ajak 5 Negara Keroyok ISIS di Marawi
  • Jokowi: Dulu Ikut Presidential Threshold 20 Persen, Sekarang Kok Beda...

Polisi Buru Penyebar Hoaks Gunung Agung Meletus

  • Frekwensi Kegempaan Gunung Agung Meningkat
  • Anak-anak Pengungsi Gunung Agung Mulai Belajar di Sekolah Terdekat
  • Pansus Angket KPK Akan Sampaikan Laporan Sementara Besok