Aliansi Laki-laki Baru Perjuangkan Kesetaraan Gender

Indonesia adalah penandatangan konvensi internasional yang melarang kekerasan terhadap perempuan dan anak-anak. Dan di dalam negeri ada UU Penghapusan KDRT.

Senin, 28 Nov 2016 11:31 WIB

Aksi Aliansi Laki-laki Baru di Bundaran HI Jakarta. (Foto: Aliansi Laki-laki Baru)

Aksi Aliansi Laki-laki Baru di Bundaran HI Jakarta. (Foto: Aliansi Laki-laki Baru)


Sebuah laporan yang dirilis Komnas Perempuan menunjukkan ada peningkatan besar dalam kasus kekerasan terhadap perempuan di Indonesia tahun lalu.

Lebih dari 300 ribu perempuan menjadi korban, 70 persen diantaranya kekerasan dalam rumah tangga. Dan ini hanya dari kasus yang dilaporkan.

Masalah ini juga kian berkembang ... 

Tapi seorang pria bernama Nur Hasyim dan teman-temannya memulai sebuah gerakan untuk memperjuangkan kesetaraan gender.

Wydia Angga menyusun kisahnya dari Jakarta.

“Dari pengalaman pribadi saya, sulit untuk menjadi anak laki-laki karena dalam keluarga, saya dianggap berbeda. Saya ingat ibu saya pernah bilang, saya sangat sensitif, mudah menangis dan tidak bisa melawan ketika saya punya konflik. Atau jika berkelahi ujung-ujungnya saya akan menangis.”

Ini adalah Nur Hasyim. Dia adalah dosen di Universitas Islam Negeri Wali Songo Semarang dan pendiri Aliansi Laki-laki Baru. Ini adalah sebuah gerakan para pria yang mempromosikan kesetaraan gender.

“Keluarga saya sangat patriarkal, di mana ayah saya adalah orang yang harus dilayani dan ibu saya harus melakukan semua pekerjaan rumah. Menurut saya, ibu harus punya kesempatan untuk melanjutkan pendidikan karena ibu saya adalah perempuan yang sangat cerdas,” kisah Nur Hasyim. 

“Tapi sayangnya dalam budaya kita masih ada anggapan kalau perempuan harus di rumah melayani suami. Meski ibu saya tahu lebih banyak tentang sawah ketimbang ayah. Tapi dalam masyarakat, status ayah lebih tinggi dari ibu saya.”

Inspirasi Nur mungkin sesuatu yang pribadi. 

Tapi dia punya tujuan menciptakan masyarakat yang lebih adil, memberikan kesempatan yang lebih besar kepada perempuan, dan mengajak para pria menghentikan kekerasan dalam rumah tangga.


Protes jalanan adalah salah satu cara untuk menyebarkan pesan kesetaraan gender. Tapi Nur mengatakan ada beberapa sikap yang sulit untuk diubah. 

Misalnya sikap menyalahkan korban, dimana perempuan kerap disalahkan atas serangan seksual yang mereka alami.

“Mereka menganggap kami sebagai pecundang! Suatu hari kami berunjuk rasa di Bundaran HI. Saat itu teman-teman mengenakan rok mini dan memegang poster menentang pelecehan seksual dan pemerkosaan. Pemerkosaan bukan tentang rok mini tapi tentang perspektif manusia. Kemudian ada begitu banyak respon di berita online. Kami disebut homoseksual, kelompok yang ingin menarik perhatian media, mau terkenal dan sebagainya,” kisah Nur Hasyim.

Nur Hasyim tidak menyerah begitu saja. 

Dia membuat acara bincang-bincang di radio berjudul ‘Gentlemen Hotline’ dan secara teratur menulis kolom soal pria, maskulinitas dan kekerasan untuk koran lokal di Yogyakarta.

Dan dia juga bekerja sama dengan kelompok laki-laki internasional lain melawan kekerasan terhadap perempuan.

Tapi salah satu tantangan terbesarnya adalah bekerja secara langsung dengan para pria yang kasar.

“Mereka punya masalah dalam mengubah perilaku. Menurut mereka apa yang mereka lakukan itu benar menurut agama dan budaya. Jadi membantu mereka melihat bagaimana menderitanya anak-anak dan istri mereka akibat perilaku mereka adalah tantangan,” jelas Nur Hasyim. 

“Kami membantu mereka mempelajari cara baru berkomunikasi seperti berkomunikasi positif, mengelola kemarahan, dan berlatih menghadapi konflik dengan pasangan. Kami membantu mereka membangun hubungan baru dengan istri mereka.”


Lagu Sister in Danger  yang dinyanyikan band Simponi bercerita tentang tingginya angka kekerasan dalam rumah tangga di Indonesia. 

Band itu menulis lagu ini sebagai bentuk keberpihakan pada perempuan dan menyuarakan apa yang dialami semua korban kekerasan, pelecehan seksual dan pemerkosaan.

Indonesia adalah penandatangan konvensi internasional yang melarang kekerasan terhadap perempuan dan anak-anak. Dan di dalam negeri ada UU Penghapusan KDRT. Tapi meski begitu, masalah ini terus berkembang.

Tapi Nur Hasyim masih memendam mimpi, suatu hari nanti tidak akan ada lagi kekerasan terhadap perempuan dan perempuan punya kesempatan yang sama dengan laki-laki.

“Kita punya aturan soal hak asasi manusia. Konstitusi kita juga secara jelas menyatakan setiap orang harus diperlakukan sama. Kita juga anti-kekerasan dalam rumah tangga, anti-perdagangan orang dan meningkatkan gerakan menghentikan pernikahan anak. Jadi ini menunjukkan kalau suatu hari, kita akan mencapai masyarakat yang setara gender,“ harap Nur Hasyim.

 

Komentar

Beri Komentar

KBR percaya pembaca situs ini adalah orang-orang yang cerdas dan terpelajar. Karena itu mari kita gunakan kata-kata yang santun di dalam kolom komentar ini. Kalimat yang sopan, menjauhi prasangka SARA (suku, agama, ras dan antargolongan), pasti akan lebih didengar. Yuk, kita praktikkan!

Kalau Tak Setuju Ide Tes Keperawanan, Jangan Menyerang!

  • Jokowi: Kita Lebih Ingat Saracen, Ketimbang Momentum
  • SBY Bertemu Mega di Istana, JK: Bicara Persatuan
  • 222 Triliun Anggaran Mengendap, Jokowi Siapkan Sanksi Bagi Daerah
  • Wiranto Ajak 5 Negara Keroyok ISIS di Marawi
  • Jokowi: Dulu Ikut Presidential Threshold 20 Persen, Sekarang Kok Beda...

Wiranto: Kasus HAM Masa Lalu Sulit Diungkap

  • 131 TKI Ilegal Dideportasi Malaysia
  • Jasa Antar Obat RSUD Blambangan Banyuwangi
  • Pelatih Kritik Kualitas Liga 1