Para penumpang di Bandara Filipina. (Foto: Ariel Carlos)

Para penumpang di Bandara Filipina. (Foto: Ariel Carlos)

Kejahatan dengan modus memasukkan peluru ke dalam bawaan penumpang di bandara internasional Filipina membuat warga cemas dan marah.

Aksi itu diduga melibatkan petugas bandara yang memasukkan peluru dalam tas para penumpang. Tujuannya untuk memeras mereka.

Membawa sebutir peluru adalah tindakan melanggar hukum di Filipina. 

Jofelle Tesorio dan Ariel Carlos menyusun laporan mereka dari Manila Filipina.

Para penumpang di Bandara Internasional Ninoy Aquino di Manila belakangan ini harus ekstra hati-hati.

Mereka menyegel bawaan mereka dengan tali pengaman dan dibungkus plastik agar terhindar menjadi korban kejahatan.

Di sini dikenal dengan  laglag-bala, yang diduga melibatkan petugas bandara yang sengaja memasukkan peluru di dalam tas para penumpang.

Kemudian saat diperiksa, penumpang diberitahu kalau ada sebuah peluru ditemukan dalam bawaan mereka. Petugas pun meminta uang kepada penumpang bila tidak ingin dilaporkan.

“Kami khawatir dan marah dengan kasus kejahatan yang memasukkan peluru dalam tas kami. Saudara-saudara saya di Kanada tidak mau pulang ke Filipina karena ada kasus ini,” kata penumpang bernama Aling Baby.

Penumpang lain bernama Kenjab Hupanda juga merasakan hal yang sama. Setiap bulan dia harus keluar kota dan dua kali setahun ke luar negeri.

“Ini sangat menakutkan dan mengkhawatirkan karena tampaknya baik media maupun pemerintah menganggap sepele masalah ini. Padahal menurut saya ini masalah sangat serius. Pemerintah seharusnya fokus menyelesaikan masalah ini agar tidak terulang terus menerus.”

Dalam beberapa pekan terakhir, beberapa penumpang mengaku di bawaan mereka ditemukan sebutir peluru.

Korban terbaru bernama Nimfa Fontamillas yang bepergian bersama keluarganya ke Singapura untuk menemani neneknya berobat kanker.

Fontamillas mengatakan semua tas mereka terkunci tapi sebuah peluru kemudian ditemukan di saku tas punggungnya.

Kasus serupa juga menimpa misionaris Amerika berusia 20 tahun, seorang perempuan berusia 65 tahun, turis Jepang berusia 33 tahun, dan pekerja rumah tangga yang mau ke Hong Kong berusia 56 tahun.

Mereka semua menolak tuduhan telah membawa peluru dan mengatakan petugas bandara berusaha memeras mereka sebesar 150 ribu hingga 8 juta rupiah.

Beberapa korban ada yang ditahan dan bebas setelah membayar jaminan.

Pengacara publik Arlene Guillen menjelaskan di Filipina memiliki satu butir peluru adalah tindakan kriminal.

“Sebenarnya ada tiga jenis hukuman untuk kepemilikan satu butir peluru. Jika peluru untuk senjata kecil, hukumannya adalah hukuman penjara hingga enam tahun,” jelas Arlene.

Dia mengatakan hukuman bagi kepemilikan satu peluru sama dengan sekatong peluru. Dan uang jaminan untuk bebas sementara dalam kasus ini berkisar antara 21 - 33 juta rupiah.

Itu sebabnya banyak penumpang takut bila dianggap terlibat kejahatan ini. Kembali pengacara Arlene Guillen.

“Kita semua tahu tidak ada yang mau dituntut dengan kasus ini. Ada orang yang mau mengambil keuntungan dari rasa takut masyarakat.”

Warga Filipina menyuarakan kemarahan mereka di media sosial karena lambatnya respon pemerintah terhadap kasus ini.

Di tengah kritik keras, Presiden Benigno Aquino telah memerintahkan investigasi menyeluruh, termasuk apakah ada sindikat di balik penipuan ini.

Setidaknya 40 personel bandara saat ini sedang diperiksa.

Menteri Transportasi Joseph Emilio Abaya mengatakan kejahatan ini tidak akan ditolerir.

“Saya tekankan meski hanya ada satu kasus penumpang yang tidak bersalah tapi diperas karena kasus penanaman peluru ini, itu tidak adil. Pemerintah harus menaruh perhatian dan kekuatan penuh terhadap kasus ini.”

Kamera keamanan tambahan telah dipasang di bandara internasional Manila dan petugas bandara tidak boleh lagi menangani bagasi penumpang.

Banyak juga yang menyerukan anggota parlemen untuk merevisi undang-undang yang mengkriminalisasi kepemilikan satu peluru. Ini mengingat banyak orang Filipina punya kecenderungan untuk membawa peluru sebagai jimat.

Tahun ini saja sudah ada lebih dari seribu kasus ditemukannya peluru dalam tas penumpang pesawat.

Selain menciptakan kecemasan dan ketakutan, penipuan ini berdampak buruk pada citra negara, kata penumpang Kenjap Hupanda.

“Menurut saya dampak terbesar dari kejahatan ini adalah citra Filipina di mata turis internasional. Saya lebih khawatir soal apa pandangan orang terhadap Filipina, ketimbang keselamatan saya sendiri.”

Tanpa tindakan cepat, ada kekhawatiran penipuan ini bisa membuat wisatawan berpikir dua kali untuk mengunjungi Filipina.

 

Bagikan berita ini :

Komentar

Beri Komentar

KBR percaya pembaca situs ini adalah orang-orang yang cerdas dan terpelajar. Karena itu mari kita gunakan kata-kata yang santun di dalam kolom komentar ini. Kalimat yang sopan, menjauhi prasangka SARA (suku, agama, ras dan antargolongan), pasti akan lebih didengar. Yuk, kita praktikkan!