Petani Nepal sedang membajak lahan. (Foto: Shuriah Niazi)

Petani Nepal sedang membajak lahan. (Foto: Shuriah Niazi)

Bicara soal perubahan iklim, Nepal adalah salah satu negara paling rentan di dunia karena tingginya angka kemiskinan di sana dan kemampuan adaptasi yang rendah. 

Perubahan pola cuaca dan terutama curah hujan mempengaruhi petani di negara itu. Dan masalah makin berat sejak gempa besar yang terjadi April lalu.

Tapi seperti yang dilaporkan Suriah Niazi, para petani Nepal menghadapi tantangan perubahan iklim dengan mengadopsi metode pertanian cerdas iklim.

Nirbhaya Sapkota adalah perempuan petani berusia 45 tahun. Dia berasal dari desa Naubise yang berjarak satu setengah jam perjalanan mobil dari ibukota Kathmandu.

Bersama petani lain di desanya, Nirbhaya menerapkan metode pertanian yang cerdas menghadapi iklim untuk memerangi dampak buruk perubahan iklim. 

Dengan bantuan Program Adaptasi Perubahan Iklim Himalaya (HICAP), para petani menggunakan semua teknik yang memungkinkan untuk mempertahankan kesuburan dan kelembanan tanah melalui rotasi, penggabungan dan tumpang sari tanaman.

Nirbhaya Sapkote mengatakan metode itu sudah memberi hasil sejak diadopsi Februari tahun ini.

“Hasil pertanian meningkat setelah kami memakai pupuk dan pestisida alami dan bukan lagi pupuk kimia. Selain itu kami juga memakai metode irigasi pintar dengan mengumpulkan limbah air dan air hujan dalam kolam plastic,” katanya. “Bertambahnya hasil produksi membuat pendapatan keluarga bertambah. Tanaman kami juga mampu bertahan menghadapi suhu yang kerap berubah dan hujan.”

Inisiatif pertanian cerdas iklim ini didukung oleh Pusat Pembangunan Pengunungan Terpadu Internasional (ICIMOD), sebuah organisasi riset antarpemerintah.

Lewat proyek ini para petani mendapat informasi penting terkait tanaman lewat pesan singkat di HP dalam bahasa lokal. Mereka juga menerima informasi soal penggunaan energi berkelanjutan. 

Dan sebuah pabrik biogas yang mengolah limbah pertanian, kotoran dan limbah cair dibangun di desa itu sehinga bisa digunakan sebagai sumber energi terbarukan. 

Mona Shreshtha adalah petani asal Daitar. Dia juga berhasil meningkatkan hasil pertaniannya dengan mengaplikasikan teknik cerdas iklim ini. 

“Kami memakai pupuk alami yang berdampak positif bagi lahan. Produksi sayur-sayuran meningkat setelah kami memakai pupuk alami, kotoran hewan dan pestisida alami yang berasal dari sisa tanaman di ladang kami. Kami sudah tidak lagi menggunakan pupuk kimia dan ini meningkatkan pendapatan kami,” kata Mona.

Tapi gempa April lalu menambah masalah yang harus dihadapi petani.

Yam Prasad Nepal berpikir dia dan ketujuh anggota keluarganya tidak bisa lagi bergantung sepenuhnya pada pertanian. Mereka menghadapi krisis air untuk pertanian dan minum pasca mengeringnya sumber air di daerahnya akibat gempa. 

Sebelum gempa, sumur-sumur di desanya tidak pernah kering tapi kini lebih dari 100 rumah tangga di desa itu harus mengambil air dari sungai terdekat. 

“Kami menunggu air. Kami membutuhkan air untuk segalanya, bertani, minum ternak dan minum kami. Jika tidak ada air maka kami tidak bisa bertahan. Kami tidak tahu bagaimana nasib kami nanti” keluh Yam.

Hampir semua keluarga di desa itu kehilangan anggotanya dalam gempa hebat itu. 

Laxmi Prasad Adhikari yang berusia 45 tahun sedang mencari pekerjaan sebagai buruh di negara Teluk. Dia dan keempat anggota keluarganya kesulitan bertahan hidup.

“Kami sangat menderita pasca gempa itu. Rumah saya rusak. Saya juga kehilangan ternak dua ekor. Awalnya saya bisa menjual 16-17 liter susu setiap hari. Tapi sekarang hanya bisa menjual sekitar lima liter susu saja,” kisah Laxmi. 

Untuk mengatasi masa-masa sulit ini, masyarakat desa kemudian mempeluas ilmu mereka soal cerdas iklim. Mereka mulai mempraktikkan pertanian yang membutuhkan sedikit air. 

LSM Pusat Riset Kebijakan Lingkungan dan Pertanian di Nepal menyediakan varietas padi baru bagi petani. Jenis padi baru ini hanya butuh sedikit air dan pupuk.

Yam Prasad Nepal berharap ini bisa berhasil.“Di desa, kami menerima Charuva, padi varietas baru yang bisa hidup dengan sedikit air. Saat ini kami sedang menantikan panen. Kami berharap padi ini bisa tumbuh karena kami sudah tidak punya cadangan air lagi.”

Tapi dengan kondisi saat ini, para petani Nepal masih harus bersabar.

 

Bagikan berita ini :

Komentar

Beri Komentar

KBR percaya pembaca situs ini adalah orang-orang yang cerdas dan terpelajar. Karena itu mari kita gunakan kata-kata yang santun di dalam kolom komentar ini. Kalimat yang sopan, menjauhi prasangka SARA (suku, agama, ras dan antargolongan), pasti akan lebih didengar. Yuk, kita praktikkan!