Mai, Peung dah Fah di depan bar mereka Bar 'Can Do'. (Foto: Kannikar Petchkaew)

Mai, Peung dah Fah di depan bar mereka Bar 'Can Do'. (Foto: Kannikar Petchkaew)

Di kawasan pelacuran di seantero Thailand, para pekerja seks berkumpul di pinggir jalan mencari pelanggan setiap malam.

Pemerintah memperkirakan ada 77 ribu pekerja seks di negara itu. Tapi LSM  di sana mengatakan angkanya mencapai 300 ribu. Meski demikian kedua pihak sepakat perdagangan orang untuk dijadikan pelacur adalah masalah penting.

Meski bisnis ini berkembang, pelacur adalah pekerjaan ilegal di Thailand.

Tapi seperti yang dilaporkan Kannikar Petchkaew, ada sebuah bar yang dimiliki dan dikelola para pekerja seksnya.

Ini jumat malam di sebuah bar kecil di kawasan prostitusi di daerah Chiang Mai di utara Thailand.

Malam masih belum larut tapi tempat ini sudah penuh pengunjung – hanya ada satu kursi kosong tersisa di bar...

Sekelompok perempuan sedang duduk-duduk sambil bergosip dan bercanda, saling menggoda satu sama lain. Mereka bisa saja mahasiswi, pelajar atau pekerja pabrik. Tapi di sini mereka adalah pekerja seks dan bar ini adalah milik mereka.

Pada 2006 sekitar 30 pekerja seks mengumpulkan uang untuk membangun bar yang diberi nama ‘Can Do’.

Mereka berhasil mengumpulkan uang sekitar 400 juta rupiah dan membuka tempat ini. Idenya adalah untuk membangun tempat dimana para pekerja seks bisa bebas dari eksploitasi dan kekerasan.

Bar seperti ini satu-satunya di Thailand.

Salah satu pekereja seks di sini bernama Fah. Umurnya 22 tahun, termuda di sini.

Fah berambut hitam panjang dan sambil bersandar di meja bar, dia tersenyum lebar dan menawari seorang pelanggan minuman. Dalam balutan celana jins dan kaos dia terlihat seperti seorang mahasiswi. Tapi dia sudah menjadi pekerja seks di Bar Can Do ini selama tiga tahun.

Dia mulai terjun ke dunia prostitusi sejak tamat SMA. Fah mengaku menikmati pekerjaanya.

“Kami bekerja hanya malam hari. Di siang hari kami bebas kemana saja. Kami bisa jalan-jalan dan belajar bahasa dari para pelanggan kami yang orang asing,” kisah Fah.

Pekerja seks Mai Janta yang berusia 30an tahun adalah manajer Bar Can Do.

Dia mengatakan bar ini unik karena semua pekerjanya dibayar dengan layak dan diperlakukan dengan baik.

“Kami membayar mereka lebih dari 100 ribu per hari dan ada jam kerja. Kami tutup pas tengah malam. Bila penghasilan bar lebih dari satu juta rupiah se malam, kami dapat tambahan pendapatan 10 persen. Setiap tips yang diterima pekerja menjadi miliknya,” tutur Mai.

Tidak seperti bar lain di kawasan pelacuran, di sini tidak ada sepatu boot hak tinggi, rok mini atau tarian telanjang.

Para perempuan di ‘Can Do’ bisa melakukan dan memakai apa saja yang mereka mau.

Ada sekitar 50 perempuan terdaftar bekerja di bar ini tapi mereka juga bisa bekerja di tempat lain jika mereka mau.

Biasanya penghasilan mereka sekitar 400-700 ribu rupah per malam – ini jauh lebih tinggi dari tempat lain.

Fah dan Peung sedang bercerita soal tempat kerjanya dulu, sebuah tempat karaoke. Mereka bekerja di sana beberapa tahun lalu sebelum menemukan Can Do.

Mereka bilang di sana hanya dibayar sekitar 50 ribu per malam dan kadang harus bekerja sampai jam 6 pagi.

Peung mulai bekerja sebagai pekerja seks setelah bercerai enam tahun lalu dan dia cukup jujur dengan profesinya.

Orang yang datang membantu pekerja seks biasanya punya agenda sendiri kata dia, biasanya mulai dengan asumsi kalau prostitusi itu buruk. Dan pekerja seks adalah korban dari kemiskinan atau korban perdagangan orang. Tapi menurutnya itu tidak sepenuhnya benar.

“Jurnalis suka dengan berita tentang polisi yang menggerebek untuk membantu para perempuan itu. Ini kisah yang hebat dan banyak orang memujinya. Tapi pernahkah Anda bertanya pada para perempuan itu apakah mereka butuh bantuan?” kata Peung.

Fah, Peung dan pekerja lain pernah bekerja di bar dan rumah bordir yang memotong gaji mereka bila mereka dianggap bertambah gemuk, kurang senyum atau tamu tidak membeli banyak minuman.

Menurut mereka cara terbaik menolong para pekerja seks adalah dengan tidak mengkriminalisasi pekerjaan itu sehingga perempuan tidak menjadi korban majikan yang jahat.

“Kami hanya ingin dilindungi oleh UU ketenagakerjaan, dan diakui sebagai pekerja biasa. Yang kami inginkan keamanan sosial, gaji, hari libur dan hak yang sama,” tuntut Fah.

Meski mereka menghadapi kritik sosial karena bekerja dalam sebuah bisnis yang tabu, Fah mengatakan mereka harus mengabaikan gosip para tetangga.

“Saya biarkan mereka bicara dan tidak saya ambil pusing karena kalau saya memikirkannya, saya akan merasa sedih. Jangan biarkan orang lain membuat Anda sedih.”

Bagi perempuan seperi Fah dan Peung, pekerjaan mereka tidak berbeda dari industri lainnya.

Dan mereka seharusnya mendapatkan transaksi yang adil dan lingkungan kerja yang aman...

 

Bagikan berita ini :

Komentar

Beri Komentar

KBR percaya pembaca situs ini adalah orang-orang yang cerdas dan terpelajar. Karena itu mari kita gunakan kata-kata yang santun di dalam kolom komentar ini. Kalimat yang sopan, menjauhi prasangka SARA (suku, agama, ras dan antargolongan), pasti akan lebih didengar. Yuk, kita praktikkan!