Anak-anak Jadi Korban Tewas dalam Perang Narkoba Duterte

Presiden Rodrigo Duterte, yang telah mendorong tindakan pembunuhan tanpa proses pengadilan ini, sepakat ada yang tidak beres dalam operasi itu.

Senin, 16 Okt 2017 15:01 WIB

Seorang saksi memakai topeng menunjuk ke arah polisi tersangka pembunuhan Kian delos Santos yang ber

Seorang saksi memakai topeng menunjuk ke arah polisi tersangka pembunuhan Kian delos Santos yang berusia 17 tahun saat ia bersaksi dalam sebuah sidang senat di Pasay, Metro Manila, Filipina, Selasa (5/9).(Foto: Antara/Dondi Tawatao)

Beberapa anak dan remaja menjadi korban dalam perang brutal Presiden Duterte terhadap narkoba.

Di Filipina, polisi dan kelompok main hakim sendiri telah membunuh lebih dari tujuh ribu orang tanpa proses pengadilan sejak Juli tahun lalu.

Presiden Duterte yang dikenal bertangan besi dan bermulut tajam telah menikmati popularitas yang tinggi sampai sekarang. Namun jajak pendapat baru-baru ini menunjukkan hal itu mungkin tidak berlangsung lama.

Koresponden Asia Calling KBR, Madonna Virola, menyusun laporannya dari Kota Caloocan dekat ibu kota Manila.

Di gang sempit di Kota Caloocan, rumah-rumah saling berdempetan. Yang lewat di sana, tidak bisa berjalan tanpa menyenggol orang lain.

Saya sampai di rumah keluarga delos Santos yang kecil. Ini adalah rumah Kian Loyd delos Santos, 17 tahun, yang terbunuh pada Agustus lalu. Dia menjadi korban dari apa yang disebut perang narkoba Filipina.

Bibi Kian membawa saya ke sudut rumah yang gelap. Di sana kakek dan nenek Kian, Violeta dan Antonio, sedang menonton TV. Mereka sedang menonton sidang Senat soal situasi terkait kematian cucu mereka.



Violeta, 79 tahun, bercerita pada saya kalau keluarga itu sangat sedih. “Kami menginginkan keadilan. Dia dijebak. Saya sedang duduk di luar sekitar pukul 6 sore, saat dia datang dengan makanan seperti sosis. Saat itu dia bertanya apakah itu akan membantunya lulus ujian keesokan harinya,” kisah Violeta.

Beberapa jam kemudian, Kian meninggal. Polisi menuduh anak laki-laki itu melepaskan tembakan ke petugas saat berlangsung operasi antinarkoba. Mereka mengatakan dia terbunuh karena melawan.

Tapi bibi Kian yang bernama Ivy mengatakan itu tidak mungkin. Kian tidak akan pernah punya uang untuk membeli senjata.

Rekaman CCTV ini, bersama dengan catatan saksi mata, mengkonfirmasi bahwa Kian tidak bersenjata. Dia dibunuh oleh polisi yang kemudian mencampakkan tubuhnya di sebuah gang.



Human Rights Watch melaporkan ada lebih dari tujuh ribu orang telah terbunuh sejak Presiden Duterte mulai menjabat pada Juli tahun lalu. Sejak itu dia melancarkan perang mematikan terhadap obat-obatan terlarang. Lebih dari tiga ribu di antaranya dibunuh oleh polisi.

Anggota dewan lingkungan tempat tinggal Kian, Manuel Lim, mengatakan dia adalah anak yang baik. Kalaupun ada kecurigaan tentang dia, menurutnya Kian harus diperlakukan sesuai hukum.

“Dia seharusnya diproses di barangay atau sistem peradilan lokal atau dibawa ke kantor polisi. Kami akan memperlakukan dia sebagai anak di bawah umur dan diproses sesuai Undang-undang,” kata Manuel.

Bahkan Presiden Rodrigo Duterte, yang telah mendorong tindakan pembunuhan tanpa proses pengadilan ini, sepakat ada yang tidak beres dalam operasi itu.

“Saya melihat rekamannya di televisi dan saya setuju harus ada penyelidikan. Jika investigasi menunjukkan ada satu orang atau lebih yang harus bertanggung jawab maka akan ada penuntutan dan mereka harus dipenjara jika terbukti bersalah,” tegas Duterte.

Tapi kematian Kian bukan satu-satunya. Dua hari kemudian, Carl Angelo Arnaiz, 19 tahun, ditembak mati oleh polisi. Temannya yang berusia 14 tahun, Reynaldo de Guzman, juga ditemukan ditikam sampai mati.

Sedikitnya 54 anak di bawah umur tewas dalam operasi polisi atau kelompok main hakim sendiri sejak Juli tahun lalu.

Perang berdarah Filipina terhadap narkoba ini menuai kecaman internasional. Sementara itu di dalam negeri, Senator Risa Hontiveros secara vokal menentang pembunuhan tanpa proses pengadilan ini.

“Anda bertanya apakah anak muda dan anak-anak dijadikan sasaran dalam perang melawan narkoba ini? Ya ini salah satu dari banyak wajah buruk perang terhadap narkoba dengan cara kekerasan. Ini mengabaikan masalah kesehatan dan akar sosial ekonomi atas penyalahgunaan obat-obatan terlarang atau ketergantungannya. Selain itu pendekatan penegakan hukum yang berlebihan akan mengorbankan anak-anak dan kaum muda yang seharusnya dilindungi secara khusus,” papar Risa.

Di bulan September, 16 Senator mengajukan sebuah resolusi yang mendesak pemerintah untuk menghentikan pembunuhan anak di bawah umur.

Undang-Undang Keadilan Remaja Filipina menetapkan setiap anak yang berkonflik dengan hukum punya hak untuk diperlakukan secara bermartabat, tidak disiksa atau dihukum secara kejam, tidak manusiawi dan tindakan merendahkan lainnya.

Tapi Senator Hontiveros mengatakan perang terhadap narkoba Duterte telah meninggalkan prinsip-prinsip itu.

“Ini benar-benar menginjak-injak asas kepentingan terbaik anak itu. Ini merupakan pemborosan sumber daya publik. Program perawatan dan rehabilitasi mereka yang menggunakan narkoba hanyalah di mulut belaka,” kata Risa.

Presiden Duterte dan Menteri Kehakiman Filipina mengatakan anak-anak yang terbunuh hanyalah “kerusakan tambahan” dalam tindakan keras terhadap pemberantasan narkoba yang tidak pandang bulu. 

/figurer>

Sementara itu, terjadi unjuk rasa yang mengecam pembunuhan tanpa proses pengadilan itu. Dan turunnya popularitas Duterte dikaitkan dengan pembunuhan itu.

Survei menunjukkan banyak orang Filipina takut kalau mereka atau keluarganya bisa secara acak menjadi korban.

Gereja Katolik, salah satu institusi paling berpengaruh di negara itu, menyerukan diakhirinya pembunuhan tanpa proses pengadilan ini.

Setiap pukul delapan malam, lonceng gereja di seluruh negeri dibunyikan. Ini untuk mengenang orang-orang yang dibunuh tanpa proses pengadilan itu, himbauan untuk berdoa dan mengakhiri kekerasan.

Komentar

Beri Komentar

KBR percaya pembaca situs ini adalah orang-orang yang cerdas dan terpelajar. Karena itu mari kita gunakan kata-kata yang santun di dalam kolom komentar ini. Kalimat yang sopan, menjauhi prasangka SARA (suku, agama, ras dan antargolongan), pasti akan lebih didengar. Yuk, kita praktikkan!

Jokowi: Masa Sudah 3-4 Tahun Masih Bawa-bawa Urusan Pilpres

  • SPDP Pemimpin KPK, Jokowi Minta Tak Gaduh
  • Wiranto: Jual Saja Lapas Cipinang untuk Bangun Lapas di Pulau Terpencil
  • Gubernur Yogyakarta Pastikan Tindak Tegas Pelaku Aksi Intoleransi
  • Sebagai Panglima Tertinggi, Jokowi Perintahkan Bawahannya Tak Bikin Gaduh
  • Kalau Tak Setuju Ide Tes Keperawanan, Jangan Menyerang!

Praperadilan Setnov Gugur

  • Pemkab Nunukan Hutang Rp 40 Miliar
  • Kanada Izinkan Ekspor Senjata ke Ukraina
  • Sepupu Nani Dapat Kontrak United

Kemiskinan, konflik senjata, norma budaya, teknologi komunikasi modern, kesenjangan pendidikan, dan lain-lain. Kondisi-kondisi ini membuat anak rentan dieksploitasi