Madalena Soares (baju hijau) saat hari raya Perempuan Timor Leste. (Foto: Teodesia dos Reis)

Madalena Soares (baju hijau) saat hari raya Perempuan Timor Leste. (Foto: Teodesia dos Reis)

Sebagai pejuang gerilya, Madalena Soares 61 tahun, sudah lama memperjuangkan kemerdekaan Timor Leste dari Indonesia.

Setelah merdeka, perjuangannya tidak berhenti.

Soares menerima N-Peace Award dari Program Pembangunan PBB pada 2013 dan sejak itu menjadi contoh yang mengilhami banyak perempuan di Timor Leste.

Kita simak laporan koresponden Asia Calling KBR, Teodesia dos Reis, dari Dili.

Saya bertemu Madalena di desanya tidak jauh dari ibukota Dili.

Perempuan berusia 61 tahun ini juga dikenal dengan nama 'Kasian', yang dalam bahasa Tetum berarti miskin. Nama ini punya makna ganda bagi Madalena.

Sebagai pejuang gerilya, nama itu merujuk bagaimana orang Timor bertempur melawan Indonesia dengan senjata seadanya. Dan juga Madalena ‘miskin’ karena harus meninggalkan keluarganya untuk pergi berperang di tengah hutan.

Selama perjuangan kemerdekaan, Madalena menjadi prajurit untuk FALINTIL, militer Timor Leste.

Dia mengungkapkan apa yang terjadi kala itu.

“Kami bergerilya bersama pejuang laki-laki, dengan senjata di tangan. Pada malam hari, kami mencoba menghadang musuh. Ketika kami berjuang melawan militer Indonesia, kami para perempuan sudah siap. Dan ketika ada tentara Indonesia yang tertembak, kami mengambil senjata mereka,” kenang Madalena.

Madalena mengatakan dia tidak ragu-ragu untuk bergabung dengan gerilyawan. Dia adalah salah satu dari sekitar dua puluh perempuan Timor yang mengangkat senjata untuk memperjuangkan kemerdekaan.

“Pada saat itu saya berjuang bersama dengan tentara laki-laki. Saya berjuang seperti para pria karena saya tidak ingin hidup saya disiksa oleh tentara Indonesia,” tekad Madalena.

Tapi kini, Madalena memilih berjuang di jalan yang baru.

Setelah Timor Leste meraih kemerdekaan dari Indonesia tahun 1999, Madalena memutuskan untuk berkontribusi kepada bangsa barunya dengan cara berbeda.

Selama bertahun-tahun, dia membangun lima taman kanak-kanak untuk membantu anak-anak Timor mendapatkan pendidikan.

Lebih dari 30 anak di bawah usia enam tahun belajar di TK-nya ini sebelum masuk ke Sekolah Dasar.

Madalena mengatakan sekolah-sekolah ini adalah bagian dari komitmen berkelanjutan untuk negara ini.

“Berjuangan untuk kemerdekaan berlangsung lebih dari 24 tahun yang lalu. Tapi saya berniat untuk tetap menjaga kontribusi terhadap pembangunan negara, jelas Madalena.

“Itu sebabnya saya mendirikan sekolah sehingga di masa depan, generasi muda akan mengingat perjuangan kita untuk mewujudkan kebebasan dan pembangunan negara.”

Madelena membiaya sekolah TK-nya dengan uang pensiun sebagai veteran yang diterimanya.

Perempuan yang juga buta huruf ini mengatakan pendidikan adalah kunci untuk membangun negara.

Dan di waktu senggangnya, Madalena juga membantu menciptakan lapangan kerja melalui sebuah organisasi yang disebut, Faluk Hadomi Timor, untuk janda bekas pejuang Timor.

Mereka membuat dan menjual Tais, kain tenun tradisional Timor, yang mereka kreasikan menjadi tas, dompet dan barang-barang lain yang dijual kepada para wisatawan.

“Saya mendirikan organisasi dan melibakan teman-teman saya untuk membuat kerajinan tangan agar bisa dijual. Uang yang didapat bisa untuk kebutuhan sehari-hari. Saya selalu memotivasi mereka agar bisa mandiri dan tidak tergantung pada orang lain,” kata Madalena.

 

Bagikan berita ini :

Komentar

Beri Komentar

KBR percaya pembaca situs ini adalah orang-orang yang cerdas dan terpelajar. Karena itu mari kita gunakan kata-kata yang santun di dalam kolom komentar ini. Kalimat yang sopan, menjauhi prasangka SARA (suku, agama, ras dan antargolongan), pasti akan lebih didengar. Yuk, kita praktikkan!