Aksi solidaritas untuk para korban kekerasan ekstrimis di New Delhi. (Foto: Bismillah Geelani)

Aksi solidaritas untuk para korban kekerasan ekstrimis di New Delhi. (Foto: Bismillah Geelani)

Penulis, penyair dan seniman India berbondong-bondong mengembalikan penghargaan mereka dalam satu bulan terakhir. 

Tindakan ini belum pernah terjadi sebelumnya. 

Mereka melakukan ini sebagai bentuk protes meningkat budaya intoleransi di negara ini.

Seperti yang dilaporkan Bismillah Geelani, protes ini membawa fokus baru pada tren meningkatnya kebencian terhadap kelompok minoritas agama di bawah pemerintahan Perdana Menteri Narendra Modi.

Bagi Uday Prakash, seorang penulis berusia 63 tahun, menerima Penghargaan Sahitya bagaikan mimpi yang jadi kenyataan. 

Penghargaan ini diberikan padanya oleh Akademi Sastra karena kontribusinya yang luar biasa terhadap  kesusasteraan India. Ini adalah salah satu penghargaan sastra tertinggi di negeri itu.

Tapi Prakash tidak pernah membayangkan suatu hari harus mengembalikannya. Ini alasanya:

“Ada upaya untuk menciptakan masyarakat dan budaya yang monolitik di mana orang harus punya keyakinan agama, pemikiran politik, kebiasaan makan dan cara berpakaian yang sama. Mereka ingin para penulis tunduk kepada mereka dan berpikir, menulis, dan berbicara seperti yang mereka inginkan. Ini tidak boleh terjadi,” kata Prakash.

Prakash mengembalikan penghargaan yang diterimanya setelah tiga rekan penulisnya yang berpandangan liberal dibunuh awal tahun ini. Dua dibunuh di rumah mereka sementara yang satunya ditembak saat jalan-jalan pagi.

Prakash yakin mereka dibunuh karena ketiganya menyuarakan sikap yang berbeda dari pemerintah. 

“Ketiganya sudah berusia lanjut, 70 atau 80 tahun. Apa kejahatan yang bisa mereka lakukan? Mereka adalah orang yang rasional dan mencoba membebaskan masyarakat dari takhayul. Mereka melawan takhayul dengan argumen ilmiah. Jika Anda tidak setuju dengan mereka, Anda bisa mengajukan argumen. Tapi mereka malah dibunuh,” jelas Prakash lagi.

Sejak kematian para penulis itu, telah terjadi serangkaian serangan terhadap orang Muslim, Kristen dan Dalit di seluruh negeri.

Para pegiat HAM, jurnalis dan pendukung kebebasan berbicara juga diintimidasi dan dilecehkan.

Banyak yang yakin kelompok-kelompok ekstremis Hindu berada di balik serangan itu. Dan tindakan mereka disetujui secara diam-diam oleh pemerintahan Modi.

Aktivis Shabnam Hashmi dari LSM Anhad mendokumentasikan serangan-serangan itu. Dia mengatakan angka yang muncul menunjukkan tren yang mengkhawatirkan.

“Berbagai kasus terjadi secara beruntun dan situasinya mengkhawatirkan. Ini bukan hanya soal minoritas, ini serangan terhadap keragaman dan pluralism. Bukan berarti sebelumnya ini tidak terjadi. Tapi kami mencatat lebih dari seribu kasus terjadi hanya dalam satu tahun. Dan kami melihat setiap kasus direncanakan dengan cermat,” tutur Hashmi.

Puluhan penulis, penyair dan seniman bergabung dengan Prakash. Mereka memprotes apa yang mereka sebut dengan tumbuhnya budaya intoleransi di India.

Maya Krishna Rao adalah artis teater ternama India. Dia juga mengembalikan penghargaan yang diterimanya dan menyalahkan pemerintah atas situasi yang berlangsung saat ini.

“Aktor di luar negara bebas berkuasa. Mereka preman yang melakukan kekerasan dan pemerintah tidak mengekang mereka. Pemerintah bahkan tidak bersuara mengutuk tindakan kelompok-kelompok itu. Bahkan di sisi lain, pemerintah mempromosikan mereka. Ada banyak orang memakai semua jenis jubah dan membuat pernyataan tentang Anda dan kehidupan pribadi Anda,” kata Rao.

Lebih dari 40 penulis dan seniman telah mengembalikan penghargaan mereka sejak gerakan ini dimulai bulan lalu.  Rao mengatakan ini tidak pernah terjadi di India sebelumnya.

“Ini tidak pernah terjadi setelah India merdeka. Setiap hari halaman depan diisi berita tentang kaum intelektual, penulis dan seniman dan setiap hari jumlahnya meningkat. Menurut saya ini tidak akan segera berhenti dan sudah menjadi seperti sebuah gerakan. Ini gerakan yang sangat tidak biasa.”

Tapi pemerintah bergeming dan mengatakan gerakan para penulis dan seniman itu bermotif politik.

“Sebagian besar orang-orang ini menerima bantuan dari rezim Partai Kongres sebelumnya. Tapi setelah pemerintah ini berkuasa, mereka merasa tidak nyaman karena mereka tidak lagi menikmati perlindungan. Ini sekedar pemberontakan di atas kertas oleh orang-orang yang secara ideologis bertentangan dengan BJP. Mereka intoleransi dalam hal intelektual dan ideologis,” kata Arun Jaitley, anggota senior partai berkuasa Partai Bharatiya Janata atau BJP.

Tapi jurnalis senior Siddharth Varadarajan sangat tidak setuju dengan pendapat itu. Dia mengatakan sedang tumbuh rasa cemas soal kebebasan yang fundamental.

“Menurut saya hal yang bagus bila penulis dan aktivis budaya menyuarakan sikap mereka soal ini karena ini adalah sesuatu yang mempengaruhi dan menyangkut orang banyak. Pemerintah seharusnya merespon dengan cara yang tepat. Tidak dengan nada kasar dan menggertak. Respon seperti itu hanya menggarisbawahi pentingnya langkah para penulis.”

 

Bagikan berita ini :

Komentar

Beri Komentar

KBR percaya pembaca situs ini adalah orang-orang yang cerdas dan terpelajar. Karena itu mari kita gunakan kata-kata yang santun di dalam kolom komentar ini. Kalimat yang sopan, menjauhi prasangka SARA (suku, agama, ras dan antargolongan), pasti akan lebih didengar. Yuk, kita praktikkan!